Anie Wijaya, relawan Tzu Chi yang berkesempatan membagikan kisah penuh haru tentang semangat relawan dalam mendampingi oma Phan Kim Lan, salah satu penerima bantuan Tzu Chi.
Relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Barat 4 mengadakan Pemberkahan Awal Tahun (PAT) 2026 sebagai langkah awal menapaki kebajikan di tahun yang baru. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 22 Februari 2026, pukul 14.00 WIB, dan bertempat di Hotel Hariston, Jakarta Utara. Acara ini diikuti oleh sebanyak 363 peserta yang terdiri dari para donatur dan masyarakat umum, serta didukung oleh 91 relawan yang turut menyukseskan acara.
Pemberkahan Awal Tahun 2026 mengangkat tema “Jangan Lupakan Tekad Awal Celengan Bambu, Selamanya Mengingat Ikrar Agung Silsilah dan Mazhab Tzu Chi.” Tema ini mengajak setiap orang untuk mengingat bahwa jejak awal Tzu Chi berakar dari semangat celengan bambu, merupakan sebuah langkah kecil dengan dana sederhana yang mampu mewujudkan welas asih tanpa akhir bagi misi kemanusiaan.
Tema tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan Tzu Chi hingga saat ini terwujud berkat konsistensi dan niat murni dari setiap pihak yang mendukung langkah kebajikan ini. PAT 2026 juga menjadi momen refleksi dan ungkapan syukur atas tahun 2025 yang telah berlalu, sekaligus penyemangat bagi seluruh pihak untuk terus melanjutkan perjalanan cinta kasih Tzu Chi di masa mendatang.
“Berawal dari donasi kecil, tetapi dengan semangat dan welas asih, Tzu Chi berjalan hingga hari ini, membagikan cinta kasih bagi banyak orang,” ujar Ketua Panitia PAT 2026, Nelley Humbayana.
Melinda, salah satu peserta PAT 2026, bersama para relawan belajar memahami cara mengolah barang bekas menjadi hiasan yang indah dan berguna.
Nelley Humbayana, relawan Tzu Chi sekaligus Ketua Acara PAT 2026, berharap kegiatan ini dapat menjangkau lebih banyak relawan baru untuk bersama menapaki jalan kebajikan.
Sebelum acara dimulai, relawan Komunitas He Qi Jakarta Barat 4 menghadirkan delapan stan untuk memperkenalkan berbagai kegiatan Tzu Chi kepada para donatur dan masyarakat umum. Setiap stan dirancang dengan konsep interaktif sekaligus edukatif untuk memperkenalkan misi kemanusiaan Tzu Chi.
Melinda, salah satu peserta yang mengunjungi stan kerajinan tangan, mengaku senang dapat belajar membuat hiasan bertuliskan “Chun” sekaligus memperoleh pemahaman tentang pelestarian lingkungan. Tentang bagaimana memanfaatkan barang secara optimal agar tidak terbuang sia-sia. “Awalnya ikut teman, tetapi saya jadi tertarik untuk datang dan mengikuti lebih banyak kegiatan Tzu Chi,” ujarnya sambil membuat kerajinan tangan.
Menurut Nelley, pelaksanaan kegiatan yang terkonsentrasi di setiap wilayah diharapkan mampu menjangkau lebih banyak relawan baru. Setiap booth tidak hanya memperkenalkan misi Tzu Chi, tetapi juga menjadi sarana ajakan bagi masyarakat untuk turut berpartisipasi. Para peserta pun tampak antusias mengikuti setiap aktivitas yang disiapkan oleh relawan.
Wujud Syukur untuk Melayani Sesama
Salah satu relawan Tzu Chi, Anie Wijaya, membagikan kisah tentang semangat relawan dalam membantu dan mendampingi oma Phan Kim Lan, penerima bantuan Tzu Chi hingga akhir hayatnya pada usia 76 tahun. Anie mengungkapkan bahwa para relawan membantu tanpa pamrih.
“Walaupun tidak ada hubungan darah, kami membantu seperti orang tua kami sendiri,” tuturnya. Ia juga menekankan pentingnya kebersamaan dalam melayani. “Satu orang akan terasa berat, tetapi bila dilakukan bersama akan terasa lebih ringan,” ujar Anie menutup kisahnya.
Permainan dawai turut menghibur peserta dengan membawakan lagu Gan En De Xin, Rang Ai Chuan Chu Qu dan Qing Fei De Yi.
Salah satu relawan Tzu Chi, Bachtiar beserta keluarganya membagikan semangat melayani di Tzu Chi.
Selain itu, terdapat pula sharing dari relawan yang tidak hanya bersumbangsih secara pribadi, tetapi juga melayani bersama anggota keluarga. Bachtiar Loka, relawan Tzu Chi yang aktif bersama keluarganya, menyampaikan pentingnya mewariskan nilai cinta kasih kepada generasi penerus. “Mengajak anak-anak untuk meneruskan jejak cinta kasih, merasakan sukacita dan kebahagiaan, serta membagikannya kepada sesama,” ujar Bachtiar.
Menurutnya, kegiatan Tzu Chi dapat menjadi warisan nilai yang baik bagi generasi mendatang untuk mewujudkan masyarakat yang aman dan damai, serta dunia yang terbebas dari bencana. Ia juga mengajak seluruh peserta Pemberkahan Awal Tahun untuk mengikuti berbagai kegiatan Tzu Chi bersama anggota keluarga.
Marwan (kiri), staf Eksternal Sekretariat Tzu Chi Indonesia dan Teksan Luis (kanan), Koordinator Program Bebenah Kampung Tzu Chi Indonesia, memaparkan program Berbenah Kampung dan perkembangan pemulihan pascabencana Sumatra.
Dalam PAT 2026 juga dipaparkan program Bebenah Kampung yang telah dilaksanakan Tzu Chi. Pemaparan ini menjadi bentuk pertanggungjawaban atas jejak cinta kasih yang telah diwujudkan, sekaligus ajakan kepada masyarakat untuk turut bersumbangsih bersama-sama menghadirkan hunian yang layak bagi mereka yang membutuhkan.
“Kami tidak hanya membangun rumah, tetapi juga mengubah kehidupan penghuninya menjadi lebih baik,” ujar Teksan Luis, Koordinator Program Bebenah Kampung Tzu Chi Indonesia.
Bersama dengan Marwan, staf Eksternal Sekretariat Tzu Chi Indonesia, turut disampaikan perkembangan pemulihan pascabencana hidrologi di Sumatra. Ia menjelaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya sebatas bantuan darurat, tetapi juga mencakup penyediaan ruang yang aman dan hunian yang layak bagi para korban. Oleh karena itu, Tzu Chi hadir bersama para donatur untuk membantu memulihkan kondisi korban melalui pembangunan Perumahan Cinta Kasih.
“Tzu Chi tidak hanya berfokus pada bantuan jangka pendek, tetapi juga jangka menengah dan panjang demi menghadirkan ketenangan hati bagi para korban,” ujar Marwan.
Sebanyak 363 peserta dan didukung oleh 91 relawan Tzu Chi, gelaran acara PAT 2026 berhasil dilaksakan dengan semangat baru untuk melayani.
Acara Pemberkahan Awal Tahun 2026 ditutup dengan pembagian angpao berkah dari Master Cheng Yen kepada seluruh peserta. Efi, Ketua Komunitas He Qi Jakarta Barat 4, menyampaikan harapannya agar melalui angpao tersebut setiap orang dapat terus menanamkan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui Pemberkahan Awal Tahun 2026, setiap peserta diajak untuk kembali mengingat tekad awal, bahwa langkah kecil yang dilakukan dengan tulus dan konsisten akan menjadi jejak besar cinta kasih bagi dunia.
Editor: Fikhri Fathoni