Antusiasme mahasiswa BINUS University terlihat saat mengunjungi stan Tzu Ching. Banyak mahasiswa yang tertarik untuk mengenal lebih jauh tentang Tzu Chi dan Tzu Ching, bahkan mulai mencari tahu mengenai kegiatan kerelawanan yang dapat mereka ikuti.
Relawan Tzu Ching (muda mudi Tzu Chi) komunitas Jakarta Barat 3 mendapatkan ladang berkah untuk membuka stan dalam kegiatan NGO Booth Session 2026 yang diselenggarakan oleh BINUS University di Kampus BINUS Anggrek, Jl. Raya Kebon Jeruk No. 27, Kel. Kemanggisan, Kec. Palmerah, Jakarta Barat, pada 5 hingga 7 Agustus 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian First Year Program atau masa orientasi bagi mahasiswa baru BINUS University.
Di tengah suasana kampus yang dipenuhi semangat dan antusiasme generasi muda, para relawan hadir untuk memperkenalkan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dan Tzu Ching Indonesia, sekaligus mengajak mahasiswa mengenal lebih dekat nilai cinta kasih dan semangat kerelawanan.
Selama tiga hari, stan Tzu Chi dipenuhi suasana hangat. Para Tzu Ching bergantian menjaga stan dalam dua shift setiap harinya, menyambut mahasiswa yang datang dengan senyum dan keramahan. Ada yang awalnya hanya melihat-lihat, ada yang tertarik membaca standing banner, hingga akhirnya berbincang langsung dengan relawan. Dari percakapan sederhana tersebut, para mahasiswa diperkenalkan pada berbagai misi Tzu Chi, seperti misi amal, misi kesehatan, misi pendidikan, dan misi budaya humanis.
Dias, salah satu relawan Tzu Ching Jakarta Barat 3, tengah menjelaskan mengenai Tzu Chi dan Tzu Ching kepada mahasiswa BINUS University. Dengan ramah dan penuh semangat, Dias berbagi mengenai berbagai kegiatan kemanusiaan sekaligus mengajak mahasiswa untuk turut berkontribusi dalam menebarkan cinta kasih.
Jherry, salah satu relawan Tzu Ching Jakarta Barat 3, memberikan penjelasan mengenai Tzu Chi dan Tzu Ching kepada para mahasiswa. Para mahasiswa tampak berkumpul dan menyimak dengan antusias. Ketertarikan mereka pun berlanjut dengan beberapa mahasiswa yang kemudian mendaftarkan diri untuk menjadi relawan.
Dalam menjalankan kegiatan ini, para relawan Tzu Ching juga mendapatkan pendampingan dari para Xue Zhang Jie, yaitu para alumni Tzu Ching yang turut hadir memberikan dukungan dan berbagi pengalaman. Kehadiran para Xue Zhang Jie menjadi pengingat bahwa semangat kerelawanan tidak berhenti ketika seseorang telah melewati masa aktifnya sebagai Tzu Ching, tetapi terus berlanjut melalui pendampingan, perhatian, dan kesempatan untuk mewariskan nilai cinta kasih kepada generasi berikutnya.
Tulisan “Tzu Ching Organisasi Muda-Mudi Tzu Chi” pada standing banner menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Sejumlah mahasiswa terlihat berhenti untuk membaca dan bertanya mengenai kegiatan Tzu Ching. Para relawan pun berbagi cerita bahwa Tzu Chi terbuka bagi siapa saja yang memiliki niat untuk berbuat baik, tanpa membedakan suku, agama, ras, maupun latar belakang. Nilai Empower, Innovate, Impact, Sustain, and Universal yang tertulis pada standing banner menjadi semangat untuk mengajak generasi muda berani mengambil peran dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.
Kehadiran para relawan juga semakin memperkenalkan makna berbagi melalui berbagai suvenir yang diberikan kepada mahasiswa, seperti tumbler, totebag, buletin, Kata Perenungan Master Cheng Yen, dan celengan bambu. Di balik bentuknya yang sederhana, celengan bambu menyimpan pesan cinta kasih yang mendalam. Sedikit demi sedikit, rezeki yang disisihkan dapat menjadi kekuatan untuk membantu sesama. Dari kebiasaan kecil tersebut, setiap orang diajak belajar bahwa berbuat baik tidak harus menunggu memiliki banyak.
Seorang mahasiswa BINUS University sedang melakukan pendaftaran untuk menjadi relawan Tzu Ching. Selain mendaftarkan diri, ia juga aktif bertanya mengenai kegiatan terdekat dan agenda yang akan datang sebagai bentuk antusiasme untuk segera terlibat dalam kegiatan kerelawanan.
Perjumpaan di stan Tzu Chi juga mempertemukan relawan dengan mahasiswa yang ternyata telah memiliki jodoh dengan Tzu Ching, namun belum menemukan kesempatan untuk terlibat langsung. Salah satunya adalah Patricia, mahasiswa BINUS University.
“Aku sebenarnya sudah masuk ke dalam grup relawan Tzu Ching, tetapi belum mengetahui bagaimana cara mengikuti kegiatannya dan selama ini belum pernah ada yang mengajak. Senang bisa ketemu relawan Tzu Ching di BINUS, jadi bisa memperoleh informasi secara langsung. Kebetulan mama aku juga ingin bergabung menjadi relawan, jadi mulai sekarang aku mau ajak mama juga untuk ikutan sebagai relawan Tzu Chi,” ujar Patricia.
Cerita Patricia menjadi gambaran bahwa terkadang sebuah niat baik hanya membutuhkan kesempatan untuk menemukan jalannya. Keinginan untuk membantu mungkin sudah tumbuh di dalam hati, tetapi belum mengetahui harus melangkah dari mana. Pertemuan dengan relawan di kampus menjadi sebuah jalinan jodoh yang mempertemukan niat tersebut dengan kesempatan untuk berbuat kebajikan.
Para mahasiswa BINUS University menyimak penjelasan yang disampaikan oleh relawan mengenai Tzu Chi dan Tzu Ching. Melalui pertemuan ini, mereka tidak hanya memperoleh informasi mengenai kegiatan kerelawanan, tetapi juga mengenal nilai cinta kasih dan kepedulian terhadap sesama.
Melalui NGO Booth Session 2026, relawan Tzu Ching Jakarta Barat 3 berharap semakin banyak mahasiswa mengenal nilai cinta kasih universal dan tergerak untuk menjadi bagian dari kegiatan kemanusiaan. Sebab, menjadi relawan bukan hanya tentang memberikan waktu dan tenaga, tetapi juga tentang belajar memahami kehidupan, membuka hati terhadap sesama, dan menumbuhkan kepedulian.
Di tengah kesibukan dan semangat anak muda mengejar masa depan, stan sederhana ini menjadi ruang kecil untuk mengingatkan bahwa ada banyak cara untuk membuat dunia menjadi lebih baik. Mungkin hanya dimulai dari sebuah percakapan, sebuah celengan bambu, atau sebuah pertemuan yang singkat. Namun, dari jodoh baik yang terjalin, benih cinta kasih dapat tumbuh dan terus diteruskan dari satu hati ke hati lainnya.
Editor: Metta Wulandari