Semangat Melestarikan Lingkungan

Jurnalis : Augustina (Tzu Chi Medan), Fotografer : Lukman, Liani, Leo Rianto (Tzu Chi Medan)


Evelyn Tan Gilbert (berkepang dua) membawa barang daur ulang dengan menggunakan karung goni.

Minggu pagi, 24 November 2019, relawan Tzu Chi Medan mengunjungi Sekolah Putra Bangsa Berbudi untuk memberikan sosialisasi pelestarian lingkungan kepada murid-murid di sekolah ini. Pembelajaran ini merupakan yang ketiga kalinya di tahun 2019.

Relawan disambut oleh 102 murid dari kelas 5 dan 6 sekolah dasar dan 27 orang guru. Sebelum kelas dimulai, anak-anak menuang barang daur ulang yang dibawa dari rumah ke tempat yang telah disediakan.

“Siapa yang tahu arti pelestarian lingkungan?” tanya relawan kepada anak-anak. “Pelestarian lingkungan adalah tidak boleh mencabuti bunga dan tumbuhan, tidak boleh membunuh binatang,” jawab Maura yang merupakan murid kelas 5 SD. “Sampah harus dibuang pada tempatnya," timpal Andra murid kelas 5.

Sebuah drama dengan 4 babak dipilih untuk  menjadi pembelajaran kali ini. Drama ini diperankan oleh relawan Tzu Chi. Diharapkan melalui drama ini semua orang terutama murid-murid bisa mengerti, memahami dan mengaplikasikannya di dalam kehidupan sehari-hari.


Anak-anak memberikan suvenir hasil kerajinan bertuliskan Gan En kepada relawan.

Drama ini bercerita tentang 2 keluarga dengan latar belakang dan kebiasaan yang berbeda. Keluarga Ibu Aini yang punya kebiasaan bangun pagi. Ibu Aini selalu menyiapkan sarapan serta bekal untuk dibawa kedua anaknya ke sekolah. Berbanding terbalik dengan keluarga Ibu Yenny yang bahkan masih tidur walaupun jam weker sudah berbunyi. Alhasil kedua anak Ibu Yenny berangkat ke sekolah dengan terburu-buru dan tanpa sarapan.  Ibu Yenny menyarankan anaknya supaya jajan sepuasnya di sekolah, yang akhirnya mengakibatkan perut salah satu anaknya sakit saat pelajaran berlangsung.

Pada saat belanja ke pasar, Ibu Aini selalu membawa kantong belanja sendiri. Isi kantongnya adalah sayur yang telah dipilih oleh ibu Aini untuk dimasak siang nanti. Ibu Yenny adalah seorang ibu yang malas memasak. Baju, tas, dan sepatu adalah hasil belanja Ibu Yenny di Pasar. Pulang dari pasar, Ibu Yenny tidak menyediakan makan siang anaknya tapi memamerkan hasil belanjaannya kepada teman-temannya. Plastik kresek bekas belanja juga dibuang sembarangan oleh Ibu Yenny di jalanan.

Pulang dari sekolah, anak Ibu Aini menabung uang jajan yang tidak dibelanjakan ke celengan, sedangkan anak Ibu Yenny membelanjakan semua uang jajannya dan tidak menyisakan untuk ditabung.


Juara grup permainan LaLi (Lari Peduli)

Berkat kebiasaan menabung sejak kecil, anak Ibu Aini bisa melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi dan hidup sukses, sedangkan anak Ibu Yenny yang karena kehidupan yang konsumtif serta tidak ada tabungan maka kehidupannya akhirnya terpuruk, anak-anaknya tidak bisa kuliah dan akhirnya menjadi penjual jajanan dan sayur di pasar.

“Semoga dengan adanya drama ini, anak-anak bisa mengerti tentang pelestarian lingkungan dan membeli (barang-barang) berdasarkan kebutuhan bukan keinginan,” harap Mery Sutopo, selaku koordinator.

Saya tidak akan buang sampah sembarangan dan ke depannya akan lebih rajin belajar,” ujar Evelyn Tan Gilbert  murid kelas 5 yang seminggu hanya jajan 2 kali dan sisa uang jajannya ditabung.


Murid, guru dan relawan bersama-sama menyanyikan dan mempraktikan isyarat tangan Satu Keluarga.

“Saya mendapatkan  manfaat dari drama tersebut, bagaimana kita mengelola uang untuk masa depan, kebutuhan akan kita turuti sedangkan kalau keinginan bisa ditunda,” kata Pak Jumeriadi, guru olahraga. Pak Jumeriadi juga menambahkan bahwa di sekolah ini setiap hari anak-anak akan menyerahkan sebagian uang jajannya kepada walikelas untuk ditabung. Pada saat kenaikan kelas, uang tabungan itu akan dikembalikan kepada orang tua murid. Uang tersebut biasanya dipergunakan untuk keperluan sekolah seperti baju seragam yang sudah robek atau kekecilan. Hal ini dimaksudkan untuk meringankan beban orang tua.

Sekolah Putra Bangsa Berbudi juga tidak membebani uang sekolah (SPP) kepada murid-muridnya. Sebagai gantinya, sekolah menetapkan jadwal wajib bagi setiap muridnya untuk membawa barang daur ulang minimal 1 (satu) buah untuk dikumpulkan ke tempat daur ulang yang telah disediakan.

Isyarat tangan baru Pun So yang artinya “Sampah” diperagakan relawan untuk dipelajari anak-anak. Setelahnya murid-murid dan relawan mengelilingi aula untuk menyanyikan dan memperagakan isyarat tangan Mama dan Satu Keluarga yang telah dipelajari sebelumnya.


Foto bersama Murid Sekolah Putra Bangsa bersama relawan Tzu Chi.

Anak-anak kemudian memberikan suvenir hasil kerajinan tangan mereka. Mereka berbaris dan mengalungkan batch berisi ucapan Gan En yang artinya terima kasih ke leher semua relawan yang hadir.

Murid-murid kemudian dikelompokkan dalam permainan LaLi (singkatan dari Lari Perduli), dimana masing-masing anak diberi pengarahan harus mengumpulkan barang apa dan dilakukan secara estafet. Adapun permainan ini mempunyai makna yaitu berlari dan berlomba: semua orang segera melakukan upaya pelestarian lingkungan; Estafet: bersama-sama melakukannya baru bisa berhasil; Mengingat: fokus dengan usaha yang harus dilakukan; Durasi (waktu): berpacu dengan waktu, dimana kondisi bumi sudah semakin rusak, dan membersihkan: kotor dan bau adalah sampah, kondisi bersih punya nilai, serta merapikan: selalu bersungguh hati dalam bekerja.

“Sampai bertemu kembali di tahun depan,” kata Merry Sudillan kepada anak-anak dan guru Sekolah Putra Bangsa Berbudi.

Editor: Hadi Pranoto


Artikel Terkait

Pelestarian Lingkungan di Sekolah Surya Dharma yang Terus Berkembang

Pelestarian Lingkungan di Sekolah Surya Dharma yang Terus Berkembang

28 Juli 2023

Kegiatan daur ulang sampah di Sekolah Surya Dharma, Kebayoran lama, Jakarta Selatan kian hari kian berkembang. Pagi itu bertambah lagi personilnya dengan kehadiran dua relawan kembang. 

Menuju Kampung Bersih dan Sehat

Menuju Kampung Bersih dan Sehat

10 Desember 2021

Relawan Tzu Chi Cabang Sinar Mas Xie Li Indragiri melakukan kegiatan kampung bersih, penanaman pohon, penyuluhan STBM dan bantuan tempat sampah di aula Pesantren Anwarul Falah.

Suara Kasih: Teladan Pelestarian Lingkungan

Suara Kasih: Teladan Pelestarian Lingkungan

17 April 2012 Lihatlah Kota Kinabalu di Malaysia. Saat pertama kali ke sana, insan Tzu Chi melihat tempat tersebut penuh dengan sampah. Karenanya, insan Tzu Chi mulai membimbing dan menjadi teladan nyata bagi warga yang tinggal di sana agar mereka mengetahui cara mengumpulkan dan memilah barang daur ulang.
Mampu melayani orang lain lebih beruntung daripada harus dilayani.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -