Seminar Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental di Usia Senja

Jurnalis : Calvin (Tzu Chi Tanjung Balai Karimun), Fotografer : Calvin (Tzu Chi Tanjung Balai Karimun)

Peserta mengikuti seminar kesehatan bertajuk “Menjaga Kesehatan di Usia Senja untuk Hidup yang Lebih Berkualitas” yang diselenggarakan oleh Tzu Chi Tanjung Balai Karimun. Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh pengetahuan tentang pentingnya menjaga kesehatan di usia senja.

Memasuki usia lanjut merupakan proses alami dalam kehidupan yang membawa berbagai perubahan, baik secara fisik maupun psikologis. Seiring bertambahnya usia, fungsi tubuh dapat mengalami penurunan sehingga diperlukan perhatian lebih terhadap pola hidup sehat agar lansia tetap dapat menjalani kehidupan yang aktif, mandiri, dan bahagia.

Untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kesehatan di usia senja, Tzu Chi Tanjung Balai Karimun mengadakan seminar kesehatan bertajuk “Menjaga Kesehatan di Usia Senja untuk Hidup yang Lebih Berkualitas” pada Minggu, 21 Juni 2026, di Kantor Tzu Chi Tanjung Balai Karimun. Seminar ini menghadirkan dr. Dzulfikar Mustary, M.Kes., Sp.KJ., sebagai narasumber yang memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental melalui tiga pilar utama, yaitu aktif bergerak, mengonsumsi makanan sehat, dan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan.

Dalam pemaparannya, dr. Dzulfikar menekankan bahwa kesehatan lansia tidak hanya dilihat dari kondisi fisik semata, tetapi juga dari kondisi psikologis serta dukungan lingkungan di sekitarnya.

“Menjaga kesehatan di usia lanjut bukan hanya tentang menjaga kondisi fisik, tetapi juga memperhatikan kesehatan mental. Lansia membutuhkan keseimbangan antara aktivitas fisik, pola makan yang sehat, serta dukungan dari keluarga dan lingkungan agar dapat menjalani masa tua dengan lebih berkualitas,” ujar dr. Dzulfikar.

Memahami Tantangan Kesehatan pada Lansia
Pada masa lanjut usia, terdapat berbagai permasalahan kesehatan yang sering dialami dan perlu menjadi perhatian keluarga. Beberapa di antaranya adalah gangguan pergerakan akibat berkurangnya massa otot, masalah gizi, gangguan buang air besar maupun buang air kecil, gangguan perilaku akibat demensia, rasa stres atau kesepian, serta gangguan tidur seperti insomnia.

Dalam pemaparannya, dr. Dzulfikar Mustary mengajak peserta untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku dan emosi pada lansia.

Peserta memperhatikan materi yang disampaikan narasumber yaitu dr. Dzulfikar Mustary, sebagai bekal untuk memahami berbagai gejala gangguan kesehatan fisik dan mental di usia senja.

Selain kesehatan fisik, kesehatan jiwa lansia juga menjadi aspek penting yang tidak boleh diabaikan. Gangguan psikologis seperti rasa cemas, sedih berkepanjangan, mudah gelisah, hingga perubahan perilaku sering kali muncul secara perlahan sehingga terkadang tidak disadari oleh keluarga.

Depresi pada lansia juga kerap dianggap sebagai bagian dari proses penuaan. Padahal, kondisi tersebut membutuhkan perhatian dan penanganan yang tepat. Gejala depresi tidak selalu tampak dalam bentuk kesedihan, tetapi dapat muncul melalui perubahan fisik seperti menurunnya nafsu makan, penurunan berat badan, gangguan tidur, mudah lelah, hingga berbagai keluhan kesehatan lainnya.

Dokter Dzulfikar menjelaskan bahwa perubahan perilaku maupun emosi pada lansia perlu mendapat perhatian karena dapat menjadi tanda adanya gangguan kesehatan jiwa.

“Banyak orang menganggap perubahan emosi, mudah lupa, atau menarik diri dari lingkungan sebagai hal yang biasa terjadi karena usia bertambah. Padahal, beberapa kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan jiwa yang perlu diperhatikan dan ditangani dengan tepat,” jelasnya.

Demensia Bukan Sekadar Pikun Biasa
Salah satu gangguan yang cukup sering terjadi pada usia lanjut adalah demensia atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai pikun. Namun, demensia bukan sekadar lupa biasa. Kondisi ini dapat memengaruhi daya ingat, kemampuan berpikir, komunikasi, hingga perilaku seseorang.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain sering lupa terhadap hal-hal penting, sulit berkonsentrasi, kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari, bingung terhadap waktu dan tempat, kesulitan berkomunikasi, sering meletakkan barang di tempat yang tidak semestinya, sulit mengambil keputusan, menarik diri dari lingkungan sosial, serta mengalami perubahan kepribadian.

Peserta aktif mengajukan pertanyaan dalam sesi tanya jawab untuk berkonsultasi mengenai kondisi kesehatan yang mereka alami. Kesempatan ini menjadi sarana bagi peserta untuk memperoleh penjelasan dan masukan langsung dari narasumber.

“Demensia bukan hanya sekadar lupa. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengingat, berkomunikasi, mengambil keputusan, hingga menjalankan aktivitas sehari-hari. Karena itu, keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan pendampingan dengan kesabaran dan kasih sayang,” tutur dr. Dzulfikar.

Ketika lansia mulai menunjukkan tanda-tanda tersebut, peran keluarga menjadi sangat penting. Pendampingan yang penuh kesabaran dan kasih sayang dapat membantu lansia merasa aman serta tetap memiliki kualitas hidup yang baik.

Seminar berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab yang dimanfaatkan para penerima bantuan, untuk berkonsultasi langsung mengenai kondisi kesehatan yang mereka alami. Berbagai pertanyaan disampaikan, mulai dari kesulitan mengatur pola tidur akibat faktor usia, hingga gangguan psikologis yang muncul setelah menjalani operasi.

Menanggapi keluhan gangguan tidur pada lansia, dr. Dzulfikar menjelaskan bahwa perubahan pola tidur memang sering terjadi seiring bertambahnya usia. Meski demikian, kondisi tersebut dapat diminimalkan dengan menerapkan kebiasaan tidur yang baik, seperti menjaga jadwal tidur yang teratur dan menciptakan lingkungan tidur yang nyaman.

Dalam sesi tersebut, beberapa penerima bantuan juga menceritakan pengalaman traumatis setelah menjalani operasi, seperti operasi kanker payudara maupun pengangkatan batu empedu. Trauma pascaoperasi tersebut menyebabkan sebagian pasien mengalami kecemasan berlebihan hingga kekhawatiran yang terus berulang terhadap kondisi kesehatannya.

Salah satu peserta dari penerima bantuan Tzu Chi, aktif berdiskusi dengan narasumber untuk mendapatkan penjelasan terkait gangguan tidur yang dialaminya.

Dari hasil diskusi dan konsultasi singkat yang berlangsung, dr. Dzulfikar menemukan bahwa sejumlah peserta menunjukkan gejala gangguan kesehatan mental yang muncul setelah menjalani operasi. Selain trauma pascaoperasi, berbagai gangguan psikologis yang dialami peserta menjadi salah satu topik yang paling banyak disampaikan dalam sesi tanya jawab tersebut.

Menjelang berakhirnya seminar, dr. Dzulfikar kembali mengingatkan para peserta untuk tidak menunggu sakit terlebih dahulu baru mulai peduli terhadap kesehatan. Menurutnya, menjaga kesehatan sejak dini jauh lebih baik dibandingkan harus menjalani pengobatan ketika penyakit sudah muncul.

“Kesehatan itu mahal. Kalau kita masih sehat, jagalah kesehatan itu baik-baik. Jangan menunggu sakit baru mulai memperhatikan diri sendiri,” pesan dr. Dzulfikar kepada seluruh peserta seminar.

Editor: Fikhri Fathoni

Artikel Terkait

TIMA Bandung Menggelar Seminar Edukasi Penyakit Prediabetes dan Diabetes

TIMA Bandung Menggelar Seminar Edukasi Penyakit Prediabetes dan Diabetes

11 Oktober 2024

TIMA Bandung menggelar seminar kesehatan bertema Prediabetes dan Diabetes yang di hadiri 82 orang peserta yang berlangsung di Gedung Aula Jing Si Bandung.  

Menua dengan Bahagia, Tzu Chi Medan Edukasi Kesehatan Bagi Lansia

Menua dengan Bahagia, Tzu Chi Medan Edukasi Kesehatan Bagi Lansia

03 Juni 2025

Acara Healthy Talkshow bertajuk "Pentingnya Menjaga Kesehatan pada Lansia" yang pada 24 Mei 2025 mengangkat kesadaran tentang pentingnya menjaga kesehatan di usia lanjut. 

TIMA Bandung Gelar Seminar Kesehatan Mental

TIMA Bandung Gelar Seminar Kesehatan Mental

02 Juni 2025

Tzu Chi International Medical Association (TIMA) Bandung mengadakan seminar kesehatan mental bertajuk “Kunci Kesehatan dan Efektifitas dalam Misi Kemanusiaan”. Seminar dihadiri sebanyak 95 peserta dari relawan Tzu Chi Bandung.

Mengonsumsi minuman keras, dapat melukai orang lain dan mengganggu kesehatan, juga merusak citra diri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -