Tim medis dari TIMA sedang memeriksa kondisi mata anak Annasya dengan mencoba beberapa lensa kacamata yang sesuai dengan kebutuhan penglihatan normal pada jarak tertentu.
Di sebuah ruang kelas SDN 03 Kapuk Muara, seorang anak berdiri beberapa langkah dari kertas bertuliskan deretan huruf. Ia memicingkan mata, lalu menyebut satu huruf dengan ragu. Petugas di hadapannya mencatat, lalu mempersilakannya membaca baris berikutnya.
Pagi itu, Senin, 22 Juni 2026, ruang-ruang kelas menjadi tempat pemeriksaan mata bagi murid kelas satu hingga kelas lima. Kegiatan ini dikoordinasikan oleh relawan Tzu Chi Komunitas He Qi Jakarta Utara 2 sebagai langkah awal program kesehatan mata bagi murid sekolah dasar. Sebanyak 28 relawan hadir, dibantu delapan petugas yang bertugas di beberapa pos, mulai dari penyuluhan, pemeriksaan dengan alat, penentuan lensa, hingga pemilihan bingkai.
Anak yang tak mampu membaca tulisan di papan tulis terkadang dianggap kurang menyimak. Padahal, bisa jadi ia memang tidak dapat melihat dengan jelas. Gangguan penglihatan pada anak mudah luput karena mereka sering tidak menyadari bahwa cara melihatnya berbeda dari teman-temannya. Karena itu, skrining membantu menemukan masalah yang selama ini tidak terlihat.
Proses pemeriksaan dilakukan secara sederhana. Anak-anak terlebih dahulu mendapat penyuluhan, kemudian bergiliran membaca huruf pada jarak tertentu dengan bantuan alat ukur ketajaman penglihatan. Bagi yang membutuhkan, petugas menentukan ukuran lensa dan mempersilakan anak memilih bingkai.

Armand yang bercita-cita menjadi polisi sedang memilih frame kacamata yang sesuai dengan bentuk wajah. Sang ibu turut bersyukur melihat anaknya dapat mengenakan kacamata baru.
Sebanyak 147 murid diperiksa. Sebagian memiliki penglihatan baik, sebagian dirujuk ke dokter, dan lainnya dibuatkan kacamata sesuai resep. Johannes, optisien TIMA yang bertugas, mengatakan sebagian besar gangguan yang ditemukan berupa rabun jauh, sebagian disertai silinder. Sekitar tujuh dari sepuluh anak masih memiliki penglihatan yang baik. Skrining juga menemukan satu kasus katarak pada usia dini. Ia mengingatkan pentingnya aktivitas di luar ruangan, posisi duduk yang tepat, serta pembatasan waktu menatap layar.
Bagi anak, penglihatan sangat menentukan proses belajar dan kesempatan mengikuti pelajaran. Salah satu murid kelas satu, Arman, tinggal tidak jauh dari sekolah. Ia sering harus maju ke depan agar dapat membaca papan tulis. Matanya juga kerap memerah karena digosok ketika pandangannya kabur.
Gurunya pernah menyarankan pemeriksaan di optik dan meminjamkan kacamata mainan agar Arman tetap mengikuti pelajaran. Biaya menjadi kendala bagi keluarganya. Meski demikian, nilai Arman tetap berkisar tujuh hingga delapan, sesekali mencapai sepuluh. Ia bercita-cita menjadi polisi.
“Biar bisa jaga Mama,” ujar Arman lugas.

Seorang anak sedang bercermin sambil mencoba frame kacamata yang sesuai dengan ukuran wajahnya, didampingi oleh relawan Komunitas He Qi Jakarta Utara 2.
Ada pula Annasya, murid kelas 1C, yang memiliki minus cukup tinggi, delapan pada mata kiri dan sembilan pada mata kanan. Ia pernah memakai kacamata selama setahun, tetapi kacamata tersebut hilang dua bulan terakhir. Sejak itu, Annasya belajar tanpa kacamata meski papan tulis semakin sulit dibaca.
Di kelas tiga, saudara kembar Mauliddini dan Mauliddina diperiksa pada hari yang sama. Salah satunya hanya mampu membaca papan tulis dari jarak sangat dekat, sedangkan saudaranya mengalami gangguan lebih ringan. Ibu Mauliddini dan Mauliddina berjualan, sedangkan ayahnya bekerja di gudang. Saat kelas satu, keduanya pernah menangis karena tak dapat melihat dengan jelas tulisan di papan tulis.
Mauliddini ingin menjadi guru karena terinspirasi oleh gurunya, sementara Mauliddina bercita-cita menjadi dokter umum.
Sepanjang pemeriksaan, relawan dan petugas menemani murid satu per satu, memberi waktu ketika mereka ragu dan membantu memilih bingkai. Dari hasil pemeriksaan, kacamata dibuat sesuai kebutuhan masing-masing.
Mauliddini dan Mauliddina bersama sang ibu datang ke lokasi Baksos untuk menerima kacamata. Salah satunya hanya mampu membaca papan tulis dari jarak sangat dekat, sedangkan saudaranya mengalami gangguan lebih ringan.
Bagi Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, pemeriksaan bukan titik akhir. Anak-anak yang membutuhkan dukungan lebih, bersama keluarganya, akan terus didampingi. Skrining ini menjadi langkah awal untuk mengenali anak-anak yang kesulitan melihat.
Kesempatan itu hadir pada Jumat, 7 Agustus 2026. Satu per satu nama dipanggil untuk menerima kotak kecil berisi kacamata yang telah dibuat sesuai hasil pemeriksaan.
Arman langsung mengenakan kacamatanya dan memandang sekeliling ruangan. Ia tetap ingin menjadi polisi. “Terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi yang telah membantu saya mendapatkan kacamata, biar bisa sekolah dan melihat lebih banyak,” ucap Arman. Sang ibu turut bersyukur melihat anaknya dapat mengenakan kacamata baru.
Baksos pemeriksaan mata anak ini tidak hanya memeriksa dan memberikan kacamata saja, dokter dari tim TIMA juga memberikan edukasi tentang kesehatan mata di hadapan anak-anak murid bersama orang tua mereka. peserta.
Annasya segera mencoba membaca. Buku bacaan pada halaman yang sebelumnya buram kini dapat ia baca tanpa mendekatkan wajah ke buku. Ayahnya mengaku senang karena putrinya dapat kembali memakai kacamata, membaca buku, dan belajar dengan lebih lancar.
Mauliddini dan Mauliddina menerima kacamata hampir bersamaan. Setelah mengenakannya, keduanya mengatakan tulisan di hadapan mereka terlihat jelas.
“Kacamata sangat membantu untuk belajar anak-anak dan penglihatan,” ujar ibu mereka.
Kacamata-kacamata tersebut berasal dari celengan bambu yang diisi sedikit demi sedikit oleh masyarakat. Kebiasaan sederhana itu akhirnya menjadi jalan bagi empat anak untuk melihat lebih jelas.
Semoga dari kacamata kecil itu, tumbuh langkah-langkah besar menuju cita-cita mereka.
Editor: Anand Yahya