Relawan Tzu Chi Cabang Sinar Mas komunitas Xie Li Kalimantan Timur 1, Kalimantan Timur 2 Rantau Panjang, dan Kalimantan Timur 2 Jakluay bersinergi dengan berbagai pihak dalam kegiatan sunatan massal yang digelar Polsek Muara Wahau.
Semangat pengabdian kepada masyarakat kembali diwujudkan melalui sunatan massal yang diselenggarakan pada 7 Juli 2026 di Polsek Muara Wahau. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Polsek Muara Wahau, Pemerintah Kecamatan Muara Wahau, Kongbeng, dan Telen, serta relawan Tzu Chi Cabang Sinar Mas yang berhasil melayani sebanyak 202 peserta.
Untuk memberikan pelayanan terbaik, kegiatan ini melibatkan 53 orang dari 5 tim medis yang berasal dari berbagai fasilitas kesehatan, yaitu Puskesmas Muara Wahau 1, Puskesmas Muara Wahau 2, Puskesmas Kongbeng, Klinik Manajemen PT Sinar Mas yang didukung oleh TIMA Indonesia serta Tim Dokter Polres Kutai Timur.
Seluruh tenaga medis bekerja berdampingan dengan para relawan Tzu Chi dan panitia untuk memastikan setiap peserta mendapatkan pelayanan yang aman, nyaman, dan penuh perhatian. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi bukti bahwa ketika pemerintah, dunia usaha, organisasi sosial, dan masyarakat bersatu dalam satu tujuan, maka manfaat yang dihadirkan akan dirasakan secara nyata oleh masyarakat.
Sejak pagi hari, ratusan peserta bersama orang tua telah memadati lokasi kegiatan. Para relawan, tenaga medis, dan jajaran kepolisian bekerja bahu-membahu memastikan seluruh rangkaian pelayanan berjalan dengan tertib, nyaman, dan penuh kehangatan. Bagi sebagian orang, sunatan mungkin hanyalah sebuah tindakan medis. Namun bagi banyak keluarga yang hadir, kegiatan ini menjadi harapan, sekaligus bentuk kepedulian yang sangat berarti.
Kompol Ahmad Abdullah, S.H., M.H, selaku Wakalpores Kutai Timur dan Muhamad Harun, Ketua Xie Li Kalimantan Timur 1 memberikan sambutan dan mengatakan kolaborasi yang dilakukan menjadi cerminan kepedulian bagi warga Kutai Timur.
Halaman Polsek Muara Wahau menjadi ruang tunggu bagi 202 peserta sunatan massal.
Dalam sambutannya, Wakapolres Kutai Timur, Kompol Ahmad Abdullah, S.H., M.H., menyampaikan apresiasinya terhadap sinergi yang terus terjalin di wilayah Muara Wahau. "Ini sangat luar biasa. Ini tahun kedua saya di sini dan ini juga kali kedua saya berada di sini," ujarnya.
Tujuan sunatan massal ini juga untuk memperingati HUT Bayangkara ke-80. Kompol Ahmad Abdullah menambahkan jika kolaborasi yang telah terbangun bukan lagi sekadar kegiatan seremonial, melainkan telah menjadi agenda yang konsisten dilaksanakan setiap tahun. "Ini adalah kolaborasi sinergitas yang luar biasa, dan sudah menjadi kalender yang tetap, kerja sama ini berjalan terus-menerus. Kegiatan ini adalah wujud nyata kerja sama, betul-betul memberikan benefit bagi masyarakat Muara Wahau, Kongbeng, dan Telen," jelasnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa pelayanan kepada masyarakat akan semakin optimal ketika berbagai pihak berjalan berdampingan dengan semangat yang sama, yaitu melayani tanpa membedakan latar belakang.
Semangat yang sama juga disampaikan oleh Muhamad Harun, Ketua Xie Li Kalimantan Timur 1 sekaligus perwakilan PT Sinar Mas. Dalam sambutannya, Muhamad Harun menekankan bahwa kegiatan ini merupakan hasil kerja sama berbagai pihak yang memiliki tujuan yang sama, yaitu menghadirkan manfaat bagi masyarakat. "Kegiatan ini kita lakukan bersama-sama, antara Kepolisian Republik Indonesia, Tzu Chi, dan PT Sinar Mas. Tentunya kita berharap kegiatan ini dapat bermanfaat bagi saudara-saudara kita di Kecamatan Muara Wahau, Kongbeng, dan Kecamatan Telen," ungkap Muhamad Harun.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terlaksananya kegiatan tersebut. "Bersama ini saya ucapkan terima kasih kepada pihak Polri yang telah mendukung berjalannya acara hari ini. Saya juga sangat bersyukur bahwa kegiatan ini didukung oleh seluruh komponen masyarakat Muara Wahau, Kongbeng, dan Telen," lanjut Muhamad Harun.
Gabungan tim medis yang profesional memperlancar poses sunatan massal.
Salah satu peserta kegiatan sunatan massal ini adalah Rafli (12) yang berasal dari Desa Batu Redin, Kecamatan Telen, Kabupaten Kutai Timur. Perjalanan selama 2 jam tak menyurutkan semangatnya untuk mengikuti sunatan massal. Berbeda dengan sebagian anak lain yang menangis karena rasa takut, Rafli justru terlihat tenang sejak awal kedatangannya.
Saat namanya dipanggil, ia melangkah menuju ruang tindakan seorang diri. Bukan karena tidak memiliki pendamping. Imah, sang ibu, memilih menunggu di luar ruangan karena tidak sanggup menyaksikan proses tindakan medis yang akan dijalani putranya.
Beberapa relawan yang melihat raut wajah Imah mencoba menghampiri dan mengajaknya berbincang. Di balik senyum yang berusaha ia pertahankan, tampak air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Dengan suara lirih, Imah berkata, "Saya teringat ayahnya yang wafat pada tahun lalu. Seharusnya ayahnya bisa menemani Rafli di dalam."
Kalimat sederhana ini seketika membuat para relawan yang mendengarnya ikut merasakan kesedihan seorang ibu yang harus menjalani momen penting anaknya tanpa kehadiran sang suami. Namun di balik kehilangan itu, Rafli menunjukkan keberanian yang luar biasa. Ia menjalani proses sunatan dengan tenang hingga selesai. Usai tindakan, senyum kembali menghiasi wajah ibu dan anak tersebut.
Saat ditanya oleh Nina, salah satu relawan Tzu Chi Cabang Sinar Mas tentang bagaimana perasaannya saat menjalani prosesi sunat, dengan senyum diwajahnya Rafli menjawab. “Sakitnya sedikit aja, tapi gak papa,” ucapnya malu-malu.
Rafli tertawa bersama Imah sang ibu saat menunggu gilirannya di sunat.
Dengan penuh rasa syukur, Imah dan Rafli menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh penyelenggara. Menurut mereka, kegiatan ini sangat membantu masyarakat, khususnya keluarga yang membutuhkan pelayanan kesehatan dengan mudah dan tanpa dipungut biaya.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kepedulian selalu memiliki kekuatan untuk menyatukan banyak pihak. Di balik setiap senyum anak yang pulang membawa bingkisan, di balik setiap langkah relawan yang tanpa lelah mendampingi peserta, tersimpan harapan bahwa semangat gotong royong dan kemanusiaan akan terus hidup di tengah masyarakat.
Editor: Arimami Suryo A