Sosialisasi Misi Amal di Tanjung Balai

Jurnalis : Liani (Tzu Chi Medan), Fotografer : Liani (Tzu Chi Medan)

Budi Dharmawan menjelaskan bagaimana survei kasus yang humanis dan bagaimana menghasilkan keputusan kasus yang welas asih dan bijaksana.

Tzu Chi merupakan lembaga sosial kemanusiaan lintas suku, agama, ras dan negara yang mendasarkan aktivitasnya pada prinsip cinta kasih universal. Aktivitas Tzu Chi dibagi dalam 4 misi utama yaitu misi amal, kesehatan, pendidikan, dan misi budaya humanis.

Misi amal adalah misi utama yang merupakan akar dari empat misi utama dan delapan jejak langkah Yayasan Buddha Tzu Chi. Tujuan misi amal adalah memberi kebahagian dengan hati yang welas asih dan melepaskan penderitaan yang ada. Relawan di komunitas giat melakukan misi amal dengan mengadakan survei kasus kepada pemohon bantuan, sebuah ladang berkah yang penuh kebajikan.

Membantu yang kurang mampu dan membimbingnya menjadi orang yang mampu, sehingga terlepas dari penderitaan, lalu timbul kebahagiaan dan menciptakan berkah untuk dirinya sendiri maupun untuk keluarganya. Relawan bukan hanya memberi bantuan secara materi tetapi juga membimbing dan membangkitkan hati welas asih dengan ikut membantu orang lain sesuai kemampuannya.

Pada Minggu, 30 Juli 2023 relawan Tzu Chi di Tanjung Balai mengadakan sosialisasi relawan misi amal. Tata cara melakukan misi amal yang baik, mulai dari permohonan bantuan, survei kasus, keputusan kasus dan budaya humanis relawan ketika melakukan misi amal di lapangan. Kegiatan ini dihadiri 7 relawan dari kota Medan, 26 relawan Tanjung Balai dan 4 peserta umum, yang diadakan di Restoran Raja Bahagia, Tanjung Balai.

Acara dimulai dengan memberi penghormatan pada Buddha dan Master Cheng Yen, melafalkan sepuluh sila Tzu Chi dan menyanyikan Mars Tzu Chi serta dilanjutkan dengan menonton video ceramah Master Cheng Yen.

Peserta dibagikan formulir permohonan kasus dan praktik langsung cara mengisi formulir dan hasil survey.

Relawan dari kota Medan, Budi Dharmawan membawakan materi dan praktek misi amal, bagaimana cara survei kasus yang humanis. Apa yang dilakukan di misi amal? Membantu melepaskan penderitaan mereka sesuai kebutuhan. Kemudian  membimbing mereka  menjadi lebih mandiri. “Dari hasil survey, ketika kita memberikan perhatian dan pendampingan akan timbul perasaan welas kasih. Hal ini bisa menginspirasi orang banyak untuk ikut membantu yang lain. Dengan welas asih mensucikan hati manusia. Masyarakat damai sejahtera,” terangnya.

Masyarakat dalam hal ini pemohon kasus harus mempunyai identitas diri. Dengan mengunakan KTP/KK datang ke Kantor Yayasan Buddha Tzu Chi terdekat untuk memohon bantuan. Kasus yang masuk akan dilakukan survei oleh relawan. Suvei kasus yang humanis, etis, dan menjunjung kesetaraan. Data penyerta yang jelas dan detil akan memudahkan pengambilan keputusan. Data-data itu seperti kondisi rumah, kondisi ekonomi, kondisi keluarga, riwayat kesehatan,prestasi akademik,dll.

Tujuan melakukan survei kasus adalah untuk memahami permasalahan supaya bantuan disalurkan dengan tepat dan bijak. Melihat penderitaan, sadari berkah dan welas asih terbangkitkan. Hasil survey, keputusan dibantu atau tidak, diputuskan di forum rapat. Dengan kedepankan welas asih dan kebijaksanaan, forum memberikan keputusan kasus tersebut dibantu atau tidak. Jika dibantu segera ditindak lanjuti, jika tidak dibantu segera info ke pemohon.

Piter Luis membawakan contoh sebagai pemohon bantuan pengobatan. Relawan dapat belajar cara survei kasus, mencatat kondisi kesehatan serta riwayat medis sang pemohon ketika melakukan kunjungan ke rumahnya.

Masing-masing peserta relawan dibagikan formulir permohonan kasus dan dibimbing langsung belajar praktik cara mengisi formulir permohonan dan survei kasus dari contoh kasus yang dibawakan relawan. Ada dua contoh kasus yang dibawakan  dari relawan yang melakukan praktik survei kasus. Contoh kasus pertama, kasus bantuan pengobatan yang diajukan oleh Piter Luis yang menderita sakit lima tahun. Dokter mendiagonasi ia mengalami komplikasi jantung, asam urat, dan stroke. Saat ini ia tidak berpenghasilan dan tidak melakukan pengobatan.

Piter tinggal di rumah sendiri. Untuk melewati kehidupan sehari-hari, ia banyak mendapat bantuan tetangga. Istrinya sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Sementara seorang anaknya tinggal di luar kota. Ada beberapa biaya biaya rutin seperti PLN, air, sayur, lauk pauk, beras, dan lain lain. Untuk pengobatan kesehatan saat ini ia hanya memakan obat yang diberikan. Untuk itu ia memohon bantuan pengobatan kepada Tzu Chi karena kesulitan tidak mampu membeli obat saat berobat ke rumah sakit.

“Kasus ini kita bantu karena dengan kondisi yang sakit, butuh biaya pengobatan,” terang Budi Dharmawan.

Herlina berperan sebagai orang tua anak asuh sebagai pemohon dalam kasus bantuan pendidikan anak asuh.


Contoh kasus kedua, bantuan anak asuh pendidikan yang dibawakan oleh Herlina yang berperan sebagai ibu dan Suryani berperan sebagai anak asuh. Herlina memohon bantuan pendidikan untuk anaknya yang sudah sekolah di tingkat SMP karena kurang biaya dana dan ada tunggakan uang sekolah selama 6 bulan. Sejak suaminya meninggal, kondisi mereka jadi berubah. Saat ini Herlina bekerja sebagai pembantu rumah tangga di dua tempat, tapi tidak bisa mencukupi untuk biaya sehari-hari karena kebutuhan yang semakin tinggi.

Saat ini Herlina tinggal di rumah keluarga. Sepekan dua kali ia ke pasar dengan biaya Rp 400.000/Minggu. Beras 1 kg per hari. PLN 50.000/bln. Air PAM Rp.30.000/bln. SPP Suryani Rp.260.000/bln. Kalau ke sekolah naik angkot untuk pulang pergi  Rp 4.000/hari ,dan beberapa biaya lainnya yang menjadi parameter apakah kasus ini dapat dibantu atau tidak. Prestasi d isekolah mendapat juara I. Ketika terjadi tunggakan relawan harus bisa mencari informasi kenapa bisa muncul tunggakan.

Dari contoh kedua kasus tersebut, masing-masing relawan memberikan pendapat kenapa kasus ini perlu dibantu atau tidak. Di sini relawan belajar cara memahami kasus dan keputusan kasus yang benar dan bijaksana.

“Dengan memahami kondisi, welas asih dan kebijaksanaan, berharap misi amal bisa dijalankan dengan baik. Semoga adanya sosialisasi ini dapat memberi manfaat pada relawan misi amal sehingga semakin paham akan tata cara dalam melakukan misi amal. Penerima bantuan adalah keluarga kita dan kita memperlakukan penerima bantuan sebagai keluarga,” jelas Budi Dharmawan.

Relawan dari Tanjung Balai dan Medan berfoto bersama.

Sebagai kordinator kegiatan, Netty melihat para relawan sangat antusias. Materi yang diberikan telah menginspirasi para peserta. “Semoga kami relawan Tanjung Balai bisa menjalankan misi amal  dengan tepat dan bijaksana, membantu yang benar-benar membutuhkan bantuan dan tepat saran,” ujar Netty.

Herlina yang berperan sebagai ibu dalam drama pemohon bantuan anak asuh pun mendapat banyak wawasan dari materi yang dibawakan Budi Dharmawan. “Saya mencoba memahami penjelasan yang telah dijelaskan Budi Dharmawan dan saya bertekad ke depannya saya ingin mencoba mempraktikkannya,” tutur Herlina.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel Terkait

Kuntum Teratai Baru

Kuntum Teratai Baru

25 September 2018

Sebanyak 21 relawan baru Tzu Chi di Tangerang mengikuti sosialisasi relawan baru. Mereka sangat antusias karena bisa mengenal lebih dalam tentang Tzu Chi, seperti misi-misi Tzu Chi, budaya humanis Tzu Chi, juga tentang Master Cheng Yen.

 

Mengenal Langkah Tzu Chi

Mengenal Langkah Tzu Chi

04 April 2014 semakin yakin bahwa langkah yang dipilih keduanya tidak salah. Bahkan sebelum meninggalkan acara, keduanya sempat terlihat mengambil celengan bambu untuk memulai satu langkah kecil mengikuti jejak langkah Master Cheng Yen.
Menginspirasi Orang di Jalan Kebajikan

Menginspirasi Orang di Jalan Kebajikan

19 Maret 2019

Tzu Chi Surabaya menggelar acara sosialisasi relawan baru dengan tujuan untuk mengenalkan Tzu Chi, Misi visi serta sejarah berdirinya Tzu Chi. Acara pada 7 Maret 2019 ini digelar di Kantor Yayasan Buddha Tzu Chi Surabaya.

Mampu melayani orang lain lebih beruntung daripada harus dilayani.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -