Suara Kasih : Benih Batin yang Murni

Jurnalis : Da Ai News, Fotografer : Da Ai News
 

Judul Asli:

Benih Batin yang Murni 
     

Pada hakikatnya terdapat benih kebajikan dalam batin semua manusia
Pohon yang besar tumbuh dari benih yang kecil       
Siswa lulusan TK Tzu Chi mengungkapkan rasa syukurnya
Bersemangat melatih diri dan kembali pada jalan yang benar

Sebatang pohon besar tumbuh dari benih yang kecil, demikian juga dengan pendidikan kita yang dimulai dari TK. Upacara kelulusan tanggal 19 Juni lalu sungguh membawa sukacita bagi saya. Mengapa? Karena anak-anak memiliki hati yang murni, jernih, dan polos. Kita dapat melihat anak-anak yang polos dan isyarat tangan mereka yang begitu teratur.

Pada saat pembukaan upacara kelulusan, para siswa lulusan dan guru bersama-sama mengungkapkan rasa syukur di atas panggung. Para siswa bersyukur atas budi luhur orang tua, jasa para guru, Kakek Guru, dan semua insan Tzu Chi yang telah memberikan lingkungan pendidikan yang sangat baik bagi mereka.

Kita dapat melihat hati mereka yang pengertian, jernih, dan bebas dari ego. Karena itu, saya sering berkata bahwa kita mempunyai hakikat yang sama dengan Buddha, yakni memiliki hati yang murni dan sifat hakiki yang bajik. Kesucian hati ini bagaikan sebuah cermin yang sangat bersih dan terang sehingga memantulkan segala hal dengan jelas.

Saya sungguh senang melihatnya. Para siswa berbicara dalam bahasa Mandarin, dialek Taiwan, dan bahasa Inggris di atas panggung. “Kami belajar banyak hal di taman kanak-kanak. Terima kasih atas bimbingan para guru dan pendampingan teman-teman. TK Tzu Chi bagaikan keluarga besar bagi saya. Hari ini adalah hari upacara kelulusan kami. Sebentar lagi kami akan masuk sekolah dasar. Kelak, kami akan berusaha untuk lebih bersemangat dan berjalan ke arah kebajikan. Semoga kalian semua dapat mendukung kami,” kata anak-anak TK.

Tadi kita telah mendengar anak-anak berbicara dalam dialek Taiwan dengan lancar. Sungguh membuat orang tersentuh mendengarnya. Inilah ungkapan dari anak-anak. Selain itu, mereka uga menyanyikan lagu “Janji Bakti”. Mereka sangat bersungguh-sungguh. Ketika orang dewasa, baik Bodhisatwa lansia maupun Bodhisatwa muda menyanyikan lagu “Janji Bakti”, saya senantiasa tersentuh mendengarnya. Namun, anak-anak kecil pun dapat menyanyikan lagu “Janji Bakti” dalam nada yang sangat indah.

Kemarin, sebelum saya naik ke atas panggung, mereka memberikan hadiah untuk saya. ”Kakek guru, ini hadiah dari kami untuk Anda. Ini adalah tanaman yang kami tanam sendiri. Kami akan tumbuh besar dan kuat seperti tanaman kecil ini. Kakek Guru, di dalam amplop hati ada sapu tangan yang gambarnya dijahit oleh kami sendiri. Semoga Kakek Guru dapat membawanya setiap hari dan melestarikan lingkungan bersama kami,” kata anak-anak.

 

Mereka sungguh perhatian. Hadiahnya dibuat sendiri oleh mereka. Dalam membimbing para siswa, para guru juga mengajak mereka mengunjungi panti asuhan, panti jompo, dan menyapu jalan bersama-sama. Inilah bimbingan dalam kehidupan sehari-hari.

Anak-anak kini sungguh memiliki kehidupan yang sangat baik. Kita harus mengajarkan mereka menyadari berkah setelah melihat penderitaan. Ini memerlukan metode. Jadi, kita mengajak anak-anak ke panti jompo untuk berinteraksi dengan para kakek dan nenek. Anak-anak pun mengungkapkan perasaannya. “Di sini lebih banyak kakek-kakek. Saya merasa sangat senang. Tadinya saya takut menyentuh tangan kakek. Namun, setelah memegangnya, saya merasa sangat lembut dan menyenangkan bagaikan sepotong tahu,” kata seorang anak.

Lihatlah, pada mulanya anak-anak merasa takut terhadap kakek dan nenek yang tak dikenalnya. Namun, atas bimbingan para guru mereka berpelukan dengan kakek dan nenek serta bergandengan tangan dengan mereka. Sungguh penuh kehangatan. Terlebih lagi, anak-anak juga membangkitkan rasa hormat dan cinta kasihnya terhadap para lansia. Lingkungan inilah yang mengarahkan anak-anak sehingga mereka dapat berinteraksi dengan para lansia sekaligus membangkitkan rasa hormat dan cinta kasih mereka.

Para guru juga mengajak para siswa ke panti asuhan untuk melihat anak-anak yang tinggal di sana. Setelah melihat anak-anak yatim piatu, barulah mereka mengerti untuk bersyukur kepada orang tua mereka. Ini semua berkat interaksi langsung antara para siswa dengan anak-anak yatim piatu. Dengan adanya rasa syukur, barulah mereka akan berbakti kepada orang tua.

Saya ingat pada tujuh tahun lalu, sepasang kembar siam dari Filipina datang ke RS Tzu Chi di Hualien untuk menjalani operasi pemisahan. Selama mereka menginap di rumah sakit, kita senantiasa merawat mereka. Kita juga mengajak anak-anak TK dan SD Tzu Chi untuk mengunjungi sepasang kembar siam itu. Ketika melihat mereka, anak-anak sungguh mengasihinya sepenuh hati.

Saya pun bertanya kepada salah satu anak TK, “Bagaimana perasaanmu?” Ia menjawab, “Saya sungguh bersyukur.” Siswa TK Tzu Chi ini sendiri juga memiliki saudara kembar. Ketika melihat sepasang kembar siam ini, yang pertama terlintas di pikirannya adalah rasa syukur. Bersyukur kepada siapa? Bersyukur kepada orang tuanya karena ibunya tidak melahirkan mereka dalam keadaan kembar siam.

 

 

Lihatlah, anak-anak TK pun memiliki hakikat yang begitu murni dan jernih. Dari sinilah kita dapat membuktikan apa yang dikatakan Buddha, yakni semua orang memiliki kebijaksanaan yang sama dengan Buddha. Hati, Buddha, dan semua makhluk pada hakikatnya tiada perbedaan. Seperti yang saya bilang tadi bahwa sebatang pohon besar tumbuh dari benih yang kecil. Jadi, baik ilmuwan maupun sarjana, semuanya bermula dari anak kecil. Karena itu, kita tak boleh meremehkan anak-anak. Dalam diri anak-anak ini terdapat benih batin yang paling murni. Karena itu, saya sungguh bersyukur.

 

Hari ini kita dapat melihat lebih dari 1.000 insan Tzu Chi dari 30 negara yang menghadiri pelatihan di Taipei. Saya sungguh gembira. Bodhisatwa dari seluruh dunia berkumpul. Pada saat ini setiap tahunnya, saya sangat menantikan kepulangan mereka. Pada saat ini insan Tzu Chi dari berbagai negara akan kembali ke Taiwan. Kini mereka telah pulang.

Para Bodhisatwa sekalian, saya sungguh menyambut kepulangan kalian. Saya juga berterima kasih kepada Bodhisatwa setempat di Taiwan. Sejak awal tahun, mereka telah mulai mempersiapkan acara ini demi menyambut kepulangan saudara-saudara se-Dharma dari jauh. Di tempat yang penuh cinta kasih ini kita hendaknya lebih bekerja keras untuk menggalang Bodhisatwa dunia. Manusia harus senantiasa menciptakan berkah dan mengarahkan pikirannya ke arah yang tepat, benar, murni, dan lurus.

Dengan demikian, dunia akan damai dan tenteram. Segala bencana yang terjadi di dunia adalah akibat perbuatan manusia, terlebih lagi konflik antarsesama manusia. Untuk menyelamatkan bumi, harus terlebih dahulu menolong hati manusia. Baiklah. Singkat kata, selama beberapa hari kebersamaan kita ini, semoga semua orang dapat lebih bersungguh hati.

Diterjemahkan oleh: Erni & Hendry Chayadi
Foto: Da Ai TV Taiwan
 

Artikel Terkait

Saatnya untuk Action

Saatnya untuk Action

22 November 2019

Demi mensosialisasikan program WAVES (We Are Vegetarians and Earth Saviors), Tzu Ching kembali berkumpul di Aula Jing Si Batam pada Minggu siang, tanggal 17 November 2019. Ada sebanyak 25 orang peserta yang menghadiri sosialisasi kali ini.

Cinta Kasih yang Terus Mengalir dan Menyebar di Tanah Rencong

Cinta Kasih yang Terus Mengalir dan Menyebar di Tanah Rencong

04 April 2024

Sejak 27 hingga 31 Maret 2024, relawan Tzu Chi pembina daerah Aceh yaitu Shu Tjeng mengadakan sosialisasi di berbagai kabupaten di Provinsi Aceh.

Suara Kasih: Pelajaran dalam Berkontribusi

Suara Kasih: Pelajaran dalam Berkontribusi

07 Februari 2013 Kita juga dapat melihat di Indonesia. Bencana banjir di Indonesia kali ini sungguh sangat parah. Dari hari pertama banjir melanda hingga kini, insan Tzu Chi tidak henti-hentinya menyalurkan bantuan. Pemerintah setempat juga turut membantu dengan penuh kehangatan dan ketulusan.
Giat menanam kebajikan akan menghapus malapetaka. Menyucikan hati sendiri akan mendatangkan keselamatan dan kesejahteraan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -