Survei ke Lokasi Bencana

Jurnalis : Metta Wulandari, Fotografer : Metta Wulandari
 

fotoRelawan Tzu Chi melakukan survei ke Pulau Kelapa dan Harapan yang terkena bencana angin puting beliung pada akhir Januari 2012 lalu.

Angin kencang dengan kecepatan mencapai 40-50 km/jam ini hanya terjadi dalam waktu singkat saja, sekitar 3-5 menit membentuk pusaran dan bergerak lurus. Berawal dari tengah laut dan mendekati gugusan Pulau Seribu. Pulau Kelapa dan Pulau Harapan menjadi korbannya.

 

Angin puting beliung ternyata masih menjadi ancaman bagi warga di sekitar gugusan Kepulauan Seribu. Hal ini terbukti dengan terjadinya angin kencang tersebut pada Rabu, 25 Januari 2012 lalu. Dampaknya sangat terlihat sekali pada masyarakat. Tercatat sebanyak 555 rumah warga rusak dan 20 fasilitas umum seperti sekolah juga mengalami kerusakan. Tidak hanya itu, angin kencang tersebut juga memberikan trauma tersendiri bagi para masyarakat untuk kembali menempati rumahnya.

Hampir dua minggu berlalu, bantuan tak kunjung datang. Para warga yang rumahnya diterjang angin topan ini juga tak kunjung dapat memperbaiki rumah mereka. “Sebenarnya banyak bantuan yang sudah diberikan pada masyarakat kami, namun bantuan tersebut hanya berupa bantuan logistik saja,” ujar Atok Baroni Hidayat yang merupakan Camat setempat. “Semua bantuan dikumpulkan di kantor, kemudian baru akan kami bagikan pada dua daerah di kecamatan ini yang terkena terjangan angin,” tambahnya.

foto    foto

Keterangan :

  • Kerusakan paling parah terjadi di Kelurahan Pulau Kelapa dimana sampai menyebabkan 31 orang luka-luka. Selain itu juga terdapat bangunan-bangunan yang dikategorikan rusak ringan (69), rusak sedang (110), dan rusak berat (98) (kiri).
  • Tim Tanggap Darurat Tzu Chi yang melakukan survei tengah mendata kerusakan yang terjadi di daerah ini (kanan).

Wilayah Kepulauan Seribu terdiri dari tiga kelurahan, yakni Kelurahan Pulau Kelapa, Kelurahan Pulau Harapan, dan Kelurahan Pulau Panggang. Kerusakan paling parah terjadi di Kelurahan Pulau Kelapa dimana sampai menyebabkan 31 orang luka-luka. Selain itu juga terdapat bangunan-bangunan yang dikategorikan rusak ringan sebanyak 69 bangunan, rusak sedang 110 bangunan, dan rusak berat sebanyak 98 bangunan.

Tak jauh berbeda dengan Kelurahan Pulau Kelapa, kampung sebelah (Kelurahan Pulau Harapan-red) juga memiliki nasib yang sama. Pusaran angin puting beliung juga menyambangi pantai utara kelurahan ini dan tak lupa menyapa bangunan di sekitarnya. Akibatnya, sebanyak 149 bangunan dikategorikan dalam keadaan rusak ringan, 106 bangunan rusak sedang dan 25 bangunan rusak berat. Korban luka-luka tercatat sebanyak 11 orang.

Sejauh ini, tidak ada penanganan khusus bagi para korban. “Sebagian besar korban yang rumahnya rusak sekarang menginap ke rumah saudara karena rumah mereka juga belum diperbaiki,” tutur Camat. “Kalau kategori rusak ringan, paling cuma genteng atap yang pada jatuh jadi gentengnya sementara diganti dengan terpal. Kami tidak mau memanjakan warga, mereka harus tetap mencari nafkah dan tidak cuma diam saja menunggui rumah mereka,” ungkapnya.

foto  foto

Keterangan :

  • Bangunan rumah-rumah penduduk rusak parah akibat terkena terpaan angin puting beliung (kiri).
  • Dengan melihat kondisi langsung di lapangan, relawan (Tim Tanggap Darurat) Tzu Chi mendapatkan gambaran yang lengkap dan utuh tentang kondisi di daerah yang terkena bencana (kanan).

Salah satu sekolah, SDN 01 juga sempat terkena terjangan kencangnya puting beliung yang menyebabkan genteng pada atap runtuh. Tak hanya itu, parahnya, angin ini juga membuat struktur bangunan sekolah menjadi miring. Hingga sekarang, para murid sekolah tersebut terpaksa dipindahkan ke sekolah lain yaitu SDN 02. “Takutnya nanti kalau dipakai malah menimbulkan korban,” tambah Atok.

Saat tim survei (Tim Tanggap Darurat) Tzu Chi datang (7/2/12), hanya terlihat reruntuhan bangunan yang ditinggalkan begitu saja oleh para pemiliknya. Entah atap yang tak lagi bergenteng, sampai bangunan yang telah rata dengan tanah. Alas tempat mereka membangun rumah tenyata bukanlah tanah, namun hanya pasir yang berasal dari laut. Bangunan juga hanya menempel pada pasir, tak ada konstruksi dalam tanah yang dapat menahan rumah untuk berdiri. Hal tersebut yang menyebabkan dengan mudahnya bangunan bisa runtuh.

Tempat selanjutnya yang kami (tim survei-red) datangi juga mempunyai pemandangan yang tak jauh berbeda. Puing-puing kayu serta bilik bekas rumah tinggal warga dibiarkan tertumpuk menjadi satu. Angin kencang yang terjadi belakangan ini juga mempengaruhi kinerja para warga, mengingat sebagian besar warga bermata pencaharian sebagai nelayan. Ombak yang tinggi serta angin yang kencang ditakutkan akan membahayakan para nelayan.

Joe Riadi yang merupakan Koordinator Tim Tanggap Darurat Tzu Chi menyatakan bahwa kedatangan kali ini masih dalam tahap survei, melihat lingkungan dan kondisi kerusakan yang dialami oleh masing-masing bangunan. “Baru tahap melihat dan survei, untuk kelanjutannya nanti akan dirapatkan lagi,” ujarnya di sela-sela perbincangan dengan pihak kecamatan.

  
 

Artikel Terkait

Siswa-Siswi Tzu Chi School Serahkan Donasi untuk Bencana Banjir Sumatera

Siswa-Siswi Tzu Chi School Serahkan Donasi untuk Bencana Banjir Sumatera

09 Desember 2025

Siswa-siswi Tzu Chi School didampingi oleh tenaga pendidik menyerahkan donasi untuk masyarakat yang terkena dampak bencana banjir di Sumatera kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.

Paket Lebaran 2019: Terus Menciptakan Ladang Berkah

Paket Lebaran 2019: Terus Menciptakan Ladang Berkah

29 Mei 2019
Menjelang hari Raya Idul Fitri, kebutuhan masyarakat akan sembako meningkat. Karena itu Tzu Chi Palembang tiap tahunnya memberikan paket sembako bagi warga yang kurang mampu. Sebanyak 985 sembako dibagikan kepada warga binaan Tzu Chi di Kelurahan 13 dan 14 Ilir Palembang. 
Tetap Waspada Akan Erupsi Sinabung

Tetap Waspada Akan Erupsi Sinabung

21 Februari 2018
Sesuai kebutuhan darurat yang dibutuhkan, relawan Tzu Chi langsung memberikan bantuan berupa masker kepada warga, 20 Februari 2018. Dua belas relawan membawa 1.000 lembar masker dari Medan ke Karo dengan jarak tempuh 80 km. Mereka tiba di Desa Naman Teran pukul 9.00 WIB sehari setelah Gunung Sinabung erupsi.
Kita harus bisa bersikap rendah hati, namun jangan sampai meremehkan diri sendiri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -