Relawan Tzu Chi melakukan pemotongan kue sebagai bentuk ucapan syukur dalam perayaan ulang tahun depo yang ke-14.
Pada Minggu, 25 Oktober 2026, relawan Tzu Chi komunitas Hu Ai Titi Kuning menggelar syukuran dalam rangka memperingati hari jadi Depo Titi Kuning yang ke-14. Acara perayaan ini juga dihadiri oleh 76 relawan serta sejumlah tamu undangan, termasuk donatur dan warga sekitar.
Syukuran ini dilakukan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas perjalanan depo selama 14 tahun, yang tidak terlepas dari dukungan para relawan, donatur, dan masyarakat. Selain untuk mempererat kebersamaan, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk menjalin jodoh baik serta memperkuat semangat anatara relawan dan masyarakat.
Depo Titi Kuning kini telah berkembang dan memiliki ratusan relawan, dari yang awalnya hanya sekitar 10-20 orang. Selain menjadi tempat pengumpulan dan pemilahan barang daur ulang, depo ini juga menjadi pusat berbagai kegiatan kemanusiaan. Berbagai kegiatan rutin diselenggarakan oleh relawan Tzu Chi, mulai dari kunjungan kasih yang dilakukan pada minggu pertama setiap bulan yaitu kunjungan kasih kepada para Gan En Hu (penerima bantuan Tzu Chi), gatehering, sosialisasi pelestarian linggungan, buka puasa bersama para penerima bantuan Muslim, hingga perayaan Waisak dengan mengundang relawan, donatur dan masyarakat umum.
Dalam merayakan momen istimewa tersebut, para relawan juga memperagakan isyarat tangan dengan lagu berjudul Satu Keluarga.
Acara tersebut dimulai dari pukul 12.00 WIB yang kemudian diawali dengan makan bersama untuk menjalin kehangatan dan kebersamaan. Koordinator kegiatan, Liong Pik Ing menyampaikan bahwa acara ini dilakukan dengan tujuan untuk merasakan kembali kehangatan bersama relawan serta kembali menjelaskan sejarah berdirinya depo kepada para relawan yang baru bergabung.
“Begitu banyak kegiatan yang dilakukan setiap bulannya di depo ini, juga mengajak para relawan turut bersumbangsih. Harapannya, semakin banyak calon relawan yang datang ke depo ini sehingga barisan Tzu Chi semakin panjang dan semakin banyak orang yang memahami makna penting pelestarian lingkungan,” harap Liong Pik Ing.
Kemudian, acara tersebut dilanjutkan oleh Suniya dan Yenny selaku moderator dalam kegiatan itu, mereka mengajak para peserta yang hadir untuk mendengarkan ceramah Master Cheng Yen melalui tayangan Lentera Kehidupan bertema Mengasihi Sumber Daya, Menghargai Berkah dan Mewariskan Kebajikan Dalam Keluarga. Di dalam tayangan tersebbut, Master juga selalu mengingatkan akan pentingnya pelestarian lingkungan.
Para hadirin juga disuguhi tayangan kilas balik kegiatan dan jejak cinta kasih relawan Hu Ai Titi Kuning sepanjang 2026, lalu dilanjutkan sharing beberapa relawan, yaitu Lim Jong Jong, Iwan Chandra Halim, Rimba Kosasih, Lim A De, Siti Choo, Laily, dan Susanto.
Iwan Chandra dan Lim Jong Jong, mereka merupakan dua bersaudara yang memutuskan bergabung menjadi relawan dalam Misi Pelestarian Lingkungan Tzu Chi.
Lim Jong Jong dan Iwan Chandra Halim merupakan dua bersaudara yang sama-sama bergabung menjadi relawan Tzu Chi. Lim Jong Jong mengisahkan bahwa dirinya mulai mengenal Tzu Chi berkat ajakan sang adik, Iwan. Sejak bergabung, ia merasakan kebahagiaan tersendiri saat terlibat dalam Misi Pelestarian Lingkungan. Bersama relawan lainnya, ia belajar memilah barang-barang yang awalnya ia kira hanya sampah di dalam karung. Setelah dipilah berdasarkan jenisnya, barang-barang tersebut dijual dan hasilnya dapat dimanfaatkan untuk membantu sesama.
“Selalu kuingat satu motto di Tzu Chi, Mengubah Sampah Menjadi Emas dan Emas Menjadi Cinta Kasih. Banyak berkah di Tzu Chi, bisa belajar, menambah ilmu. Ada lagi yang kusyukuri, tempat tinggalku di perumahan Platinum Garden menjadi salah satu lokasi green point dari Tzu Chi,” ucap Jong Jong penuh syukur.
Relawan Tzu Chi, Iwan Chandra sebagai penanggung jawab (PIC) di titik pilah lainnya yang berlokasi di Perumahan Merci, Kawasan Deli Tua juga menyampaikan rasa syukurnya, “Sungguh sebuah berkah saya dipercaya untuk mengemban tanggung jawab, awalnya kita memilah sampah itu merasa enggan karena terasa kotor. Tapi Master selalu berpesan kepada kita untuk mengambil berkah dari sampah yang kemudian dipilah, sehingga bisa bernilai jual yang dapat membantu orang lain lagi,“ ujar Iwan.
Susanto didampingi Laily, relawan Tzu Chi yang menceritakan awal kisah berdirinya Depo Pelestarian Lingkungan Titi Kuning.
Perjalanan membangun depo ini tidak selalu mudah. Pada awal pembangunan. Namun, berbekal niat tulus untuk melakukan kebaikan, berbagai rintangan tersebut akhirnya dapat dilalui. Keberadaan Depo Titi Kuning bertujuan mengedukasi masyarakat agar tidak membuang sampah yang dapat mencemari lingkungan. Melalui depo ini, barang-barang yang masih memiliki nilai guna dapat dipilah dan didaur ulang untuk dimanfaatkan kembali, sekaligus membantu mengurangi volume sampah.
Pada awalnya, sosialisasi dilakukan secara langsung kepada warga sekitar. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak masyarakat yang mengenal keberadaan depo ini. Warga yang memiliki barang-barang yang dapat didaur ulang pun mulai berinisiatif membawanya langsung ke depo.
“Semoga masyarakat semakin tergerak untuk terus membawa barang-barang ke depo agar dapat didaur ulang demi menjaga kelestarian lingkungan. Saat ini, kita melihat banyak bencana yang terjadi akibat sampah yang menumpuk. Saya berharap kesadaran masyarakat untuk menjaga dan melestarikan lingkungan hidup semakin meningkat, sehingga ke depannya upaya ini dapat terus berkembang,” tutur Susanto.
Ketua Tzu Chi Medan, Steel Edwin hadir memberikan pesan cinta kasih dalam perayaan ulang tahun Depo Titi Kuning.
Adapun kesan dari Siti Choo, Rimba Kosasih dan Lim A De yang pernah menjadi relawan Titi Kuning, merasa terkesan atas kemajuan dari depo. Mereka berpesan kepada mitra bajik saat ini yang di Titi Kuning untuk tetap bersemangat, gembira dan semakin maju pesat, banyak relawan baru yang siap menerima tanggung jawab.
Selain itu, relawan Tzu Chi, Hasan Tina juga menyatakan kekagumannya terhadap depo Titi Kuning yang pertama sekali punya dua titik pilah dan ide mendirikan toko kecil Xi Fu Qu yang berada di ruko sebelahnya depo. Ia menjelaskan Toko Xi Fu Qu ini fungsinya untuk menampung barang-barang bekas yang dianggap masih layak dan bisa dapat dijual, yang nantinya dari hasil penjualan itu bisa digunakan kembali untuk membantu orang yang membutuhkan.
Ketua He Qi Jati, Aini Lidjaja, dalan kesempatan itu juga menayampaikan kebahagiannya, “Jia You (semangat), pertahankan apa yang telah ada dan semakin maju ke depannya,” ucap Ketua He Qi Jati, Aini Lidjaja.
Selanjutnya acara ditutup dengan pesan cinta kasih yang disampaikan oleh Ketua Yayasan Tzu Chi Medan, Steel Edwin, “Luar biasa banget perkembangan depo Titi Kuning, walau sudah berusia 14 tahun namun masih kelihatan seperti baru bangunannya, terawat bersih karena depo itu bagai rumah kedua kita dan kita semua adalah satu keluarga jadi hendaknya saling menjaga, selain itu jumlah relawannya juga semakin banyak. Gan en kepada shixiong shijie,” ucapnya.
Editor: Nur Al Fajar Rumsari