Yulfitrie (kiri) bersama 2 relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Barat 1 dan Pembina Vihara Prajnaparamita LPUB (Lembaga Pelayanan Umat Buddha), Bambang Supianto menjadi penyemangat Keiko saat pemulihan pascakecelakaan yang membuat wajahnya hancur.
Siapa sangka musibah yang dialami Keiko Callista Valerine (12) atau yang akrab disapa Keiko membawanya berjodoh dengan Tzu Chi. Ia mendapatkan perawatan yang cepat dan intensif di Tzu Chi Hospital pascakecelakaan motor yang membuat wajahnya terluka parah. Kedua orangtuanya pun sangat bersyukur karena selain Keiko cepat ditangani, pelayanan Tim Medis Tzu Chi Hospital juga sangat baik dan hangat, seperti keluarga sendiri.
Seperti hari-hari biasanya, Keiko berangkat ke sekolah diantar oleh kakaknya Jovanza Kayla Christabel (17) dengan sepeda motor. Tidak ada yang janggal di hari Kamis pagi, 13 Agustus 2026 itu. Selepas berpamitan dengan ibu mereka, Lucia (43), kakak beradik ini langsung berboncengan dari wilayah Kapuk, Jakarta Barat menuju ke sekolah Keiko yang berada di wilayah Dadap, Tangerang.
Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Saat melewati daerah Tegal Alur, Kayla dan Keiko terlibat kecelakaan yang melibatkan motor lainnya. Nahasnya, pengemudi sepeda motor yang terlibat kecelakaan itu langsung pergi setelah mereka berdua tersungkur di aspal. “Awal kejadiannya itu Kayla mau antar Keiko pergi sekolah dengan mengendarai motor. Mereka boncengan dari rumah menuju ke sekolah di daerah Dadap kalau dari rumah tuh sektar 30 menit lah. Sebelum sampai, pasnya di Tegal Alur mereka kecelakaan ditabrak sama pengendara motor lain dari posisi belakang,” cerita Lucia.
Setelah kecelakaan, Kayla dan Keiko masih berada di tempat kejadian selama beberapa saat. Kondisi saat itu Kayla masih sadar, sedangan Keiko, sang adik posisinya tengkurap dan sudah tidak ada tanda-tanda kesadaran. “Jatuhnya tuh berdua, sama-sama kepalanya ke aspal, otomatis kita tengkurap. Aku nggak sadar kalau emang semuanya berdarah-darah. Karena aku nggak ngerasa apa-apa, aku langsung lihat Keiko posisinya udah tengkurap dan nggak sadar. Pas saya balik, muka Keiko sudah hancur,” kata Kayla.
Melihat kondisi adiknya, Kayla lalu minta pertolongan warga dan pengguna jalan yang melintas untuk memindahkan Keiko dan langsung menghubungi keluarga kalau mereka terlibat kecelakaan. Beruntung ada petugas penanggulangan satwa liar yang kebetulan melintas dengan menggunakan mobil. Kayla dan Keiko langsung dibawa ke rumah sakit terdekat.
Kondisi Keiko setelah dioperasi oleh tim dokter Tzu Chi Hospital. Semangat serta dukungan juga datang dari relawan pemerhati Tzu Chi Hospital saat mengunjungi Keiko di ruang rawat inap.
Relawan Tzu Chi, Sarpin Lie (Kanan) dan Direktur Umum Tzu Chi Hospital, Suriadi mengunjungi Keiko untuk memberikan dukungan serta doa untuk kesembuhannya.
Saat tiba di IGD, mereka berdua langsung mendapat penanganan tetapi belum maksimal. Selain itu, kecelakaan yang dialami Keiko ini tidak termasuk dalam kategori yang ditanggung BPJS. Akhirnya orang tua Keiko menghubungi Pembina Wihara Prajnaparamita LPUB (Lembaga Pelayanan Umat Buddha), Bambang Supianto untuk meminta bantuan. Setelah datang dan melihat langsung kondisi Keiko dan memahami situasinya, Bambang menghubungi rekannya, yang kebetulan juga relawan Tzu Chi Indonesia untuk meminta bantuan untuk Keiko.
“Dihubungi keluarganya Keiko, kami langsung ke rumah sakit. Melihat kondisinya ya hancur tapi belum ditangani secara maksimal. Saya lalu berusaha menghubungi teman saya Sarpin Lie yang juga relawan Tzu Chi. Akhirnya saya dihubungkan dengan pihak Tzu Chi Hospital,” cerita Bambang.
Setelah menceritakan kronologi dan berdiskusi, akhirnya Keiko dirujuk ke Tzu Chi Hospital pada hari yang sama. Setibanya di IGD Tzu Chi Hospital, tim medis segara mengobservasi Keiko dan menghubungi tim dokter yang akan menanganinya. Salah satunya adalah dr. Elrica Sapphira, Sp.B.P.R.E, Subsp.E.L (K), Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik Subspesialis Bedah Estetik Lanjut di Tzu Chi Hospital.
“Saya mendapat informasi dari dokter jaga IGD ada pasien anak-anak usia 12 tahun yang mengalami kecelakaan lalu lintas dengan motor. Kondisinya ada luka terbuka yang cukup parah pada area wajah,” cerita dr. Elrica Sapphira.
Setelah melihat kondisi Keiko dan mengevaluasi hasil CT Scan tulang wajah, diputuskan untuk segera dilakukan tindakan operasi pada wajah Keiko pada pukul 22.00 WIB. “Sebelumnya sudah ditangani di rumah sakit sebelumnya. Tetapi karena butuh penanganan yang lebih spesifik untuk kasus fraktur wajah karena ini bukan kasus fraktur wajah yang simple jadi dirujuk kesini. Ini kasus yang sulit tetapi harus bisa kita tangani dan usahakan,” lanjut dr. Elrica Sapphira.
Direktur Utama Tzu Chi Hospital, dr. Gunawan Susanto Sp.Bs sekaligus dokter yang mengoperasi saraf dan tulang frontalis melihat kondisi luka pascaoperasi di wajah Keiko.
Kasus Keiko ini kemudian ditangani oleh tim dokter Tzu Chi Hospital yakni dr. Gunawan, dr. Martin, dan dr. Elrica Sapphira sendiri. Hal ini dilakukan karena fraktur tulang wajah Keiko cukup luas, dari daerah frontalis (dahi) kemudian menyambung ke bagian hidung kemudian sampai ke bagian mata kiri dan kanan. Dr. Elrica Sapphira juga menjelaskan seberapa parah kondisi Keiko. “Memang tulangnya remuk sampai berkeping-keping dan masuk di rongga di belakangnya. Sehingga saat operasi saya seperti harus mencari pecahan-pecahan tulang di belakang rongga tersebut,” jelasnya.
Proses operasi wajah Keiko berlangsung selama 4 jam. Diawali dengan dokter bedah saraf yakni dr. Gunawan yang mengecek kondisi saraf dan menangani tulang frontalisnya sampai di-press karena cekung kedalam. Kemudian dilanjutkan oleh dr. Elrica Sapphira pada bagian lainnya. “Setelah dokter bedah saraf rekonstruksi tulang frontalisnya, kemudian saya yang lanjutkan. Ada pemasangan menggunakan plate dan screw untuk struktur penyangga karena tulangnya sangat remuk tidak punya kekuatan,” ungkapnya.
Operasi wajah Keiko ini dilakukan untuk menutup luka dan agar secara estetika wajahnya tidak terlihat menyeramkan. Selain itu juga untuk mengembalikan fungsi pendukung panca indra di beberapa area pada wajah. Hasilnya pun cukup baik, terutama pada area sekitar mata dan hidung. Tetapi secara estetika wajah bisa ditingkatkan lagi dengan operasi lanjutan.
“Karena ini anak kecil ya, kita tim berusaha merekonstruksi menyerupai sebelumnya. Mudah-mudahan Keiko nanti bisa kembali ke pertemanannya, pergaulannya tanpa rasa minder fokus ke situ. Kalau untuk fungsi sejauh ini harusnya baik. Tapi lebih ke mentalnya karena ada bekas luka, bentuk hidung tidak seperti dulu, dia harus beradaptasi dengan itu,” harap dr. Elrica Sapphira.
Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik Subspesialis Bedah Estetik Lanjut Tzu Chi Hospital, dr. Elrica Sapphira, Sp.B.P.R.E, Subsp.E.L (K) menunjukan foto CT scan tulang wajah Keiko yang hancur di bagian tulang frontalis dan tulang hidung.
Pulih dan Kembali Bersemangat
Setelah 17 hari dirawat untuk pemulihan di Tzu Chi Hospital, Keiko diperbolehkan pulang pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Karena kondisi rumahnya tidak mendukung untuk perawatan luka pascaoperasi, sementara keluarga Keiko mengontrak hunian di daerah Cengkareng, Jakarta Barat. Perhatian relawan Tzu Chi juga menjadi salah satu dukungan untuk kesembuhan Keiko.
Beberapa hari setelah pulang, relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Barat 1 juga mengunjungi Keiko. Kondisinya sudah jauh membaik dari sebelumnya, sedikit-sedikit Keiko berinteraksi dan berbicara kepada relawan yang menjenguknya. Melihat perkembangan Keiko, relawan pun merasa bersyukur karena sudah bisa berkomunikasi.
“Kalau melihat dari kecelakaan dan keparahannya itu seperti ada mukjizat. Kondisinya sekarang bagus, mentalnya juga bagus. Semangatnya luar biasa, semoga Keiko cepat sehat dan beraktivitas untuk masa depannya, untuk sekolahnya,” jelas relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Barat 1, Yulfitrie yang hadir bersama 2 relawan lainnya.
Semangat bagi Keiko terus hadir untuk membantunya pulih dan membuatnya bersemangat lagi menjalani kehidupan, sekolah, dan menyongsong masa depan.
Saat dikunjungi relawan Tzu Chi, Keiko pun sudah tampak bersukacita. Setelah mempersilahkan relawan masuk, ia pun mulai bercerita tentang kondisinya. Walaupun belum sepenuhnya pulih, Keiko tetap ceria, bersemangat, dan mulai memahami kondisinya yang sekarang. “Ada perasaan sedih, tapi nggak apa-apa karena sudah takdirnya begitu. Kemarin diobatin di Tzu Chi bahagia, karena dokternya baik-baik. Terima kasih buat dokter dari Tzu Chi sudah merawat Keiko,” kata Keiko.
Penanganan Keiko tentunya tidak terlepas cinta kasih banyak pihak. Karena kondisi darurat, pihak Tzu Chi Hospital, Vihara Prajnaparamita LPUB, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, dan para donatur lainnya bersama-sama membantu penanganan Keiko. Sherwin (45), ayah Keiko juga sangat bersyukur karena putri bungsunya cepat tertangani di Tzu Chi Hospital. Sebagai pedagang kecil, ia merasa tak mampu jika harus mengobati putrinya dengan biaya sendiri. Tak lupa mewakili keluarga ia pun mengucapkan terima kasih atas dukungan dari berbagai pihak serta tindakan medis, pelayanan selama Keiko dioperasi serta dirawat oleh tim medis Tzu Chi Hospital.
“Pertama-tama saya sebagai orang tua dari Keiko dan Kayla mengucapkan terima kasih banyak untuk pimpinan direksi serta dokter dan staf yang ada di rumah sakit Tzu Chi Hospital. karena sudah membantu penyembuhan anak saya, menangani anak saya dengan baik dari pas masuk sampai sekarang. Saya juga bersyukur, di sini juga banyak tangan yang membantu untuk menangani anak saya ini,” ungkap Sherwin haru.
Editor: Hadi Pranoto