Tangis Haru Cicih Menyambut Rumah yang Akan Dibenahi

Jurnalis : Fikhri Fathoni , Fotografer : Fikhri Fathoni

Tangis haru Cicih (penerima bantuan) pecah, saat relawan Tzu Chi hadir untuk memulai langkah Program Bebenah Kampung Kamal Muara tahap ke-7 dengan melakukan pembongkaran lima rumah tidak layak huni yang akan direnovasi.

Tangis haru Cicih (55) pecah ketika mengetahui rumah yang selama puluhan tahun ditempatinya bersama keluarga akan segera direnovasi. Bagi Cicih, kabar itu bukan sekadar tentang memiliki rumah yang lebih baik, tetapi juga tentang terbebas dari rasa lelah setiap kali banjir datang menggenangi kediamannya di Kamal Muara, Jakarta Utara.

“Kalau banjir, saya capek… Alhamdulillah Ya Allah, (doa saya) terkabul,” ucap Cicih tersengal, sambil menangis.

Kebahagiaan yang sama dirasakan sang suami, Mawardi (59). Sehari-hari ia bekerja sebagai tukang ojek pangkalan. Dari penghasilan yang diperolehnya, Mawardi berusaha memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membiayai pendidikan anak bungsunya yang kini duduk di kelas 12 SMK.

Sementara itu, Cicih ikut membantu perekonomian keluarga dengan membuka warung kecil yang menjual makanan ringan dan es. Anak kedua mereka yang masih tinggal bersama keluarga sebelumnya sempat bekerja di salah satu SPBU, namun kini sudah tidak lagi bekerja.

Dengan kondisi tersebut, penghasilan keluarga lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keinginan untuk memperbaiki rumah pun harus terus ditunda.

Mawardi menunjukan bagian rumahnya yang telah lapuk dimakan usia. Dengan usia bangunan dan kondisi lingkungan yang kerap direndam banjir perlahan mengubah keadaan rumahnya.

Alhamdulillah seneng banget. Saya mau bangun enggak punya uang. Semoga relawan Tzu Chi sehat semua, dengan bantuan ini saya ucapkan banyak terima kasih yang sedalam-dalamnya,” tutur Mawardi.

Rumah Mawardi bukanlah rumah yang baru beberapa tahun berdiri. Ia membangunnya pada 1998. Saat itu, rumah tersebut memiliki ketinggian lebih dari tiga meter. Namun setelah hampir tiga dekade berlalu, usia bangunan dan kondisi lingkungan perlahan mengubah keadaan rumahnya.

“Dulu rumah tinggi tiga meter lebih. Waktu itu saya bangun tahun 1998, sampai sekarang saya enggak kuat bangun lagi,” kenang Mawardi.

Banjir menjadi salah satu persoalan yang paling sering dihadapi keluarga Mawardi. Air yang masuk ke dalam rumah dapat mencapai ketinggian sekitar 80 sentimeter. Untuk mengurangi dampaknya, lantai rumah beberapa kali ditinggikan. Akibatnya, jarak antara lantai dan atap semakin pendek sehingga bagian dalam rumah terasa semakin rendah.

Air yang berulang kali menggenangi rumah juga membuat sejumlah bagian berbahan kayu menjadi lapuk. Tidak sedikit perabot maupun barang elektronik keluarga yang rusak karena sulit diselamatkan ketika banjir datang.

“Banjir Pak… dalemnya 80 cm. Abis Pak barang. Ya saya minta nanti ditinggin lantainya,” harapnya.

Di tengah keterbatasan tersebut, Mawardi tetap menjalani kesehariannya sebagai tukang ojek. Selama tenaga masih memungkinkan, ia memilih terus bekerja, terutama karena masih memiliki tanggung jawab untuk mendukung pendidikan anak bungsunya. Harapan untuk memperbaiki rumah yang selama bertahun-tahun tidak mampu diwujudkannya akhirnya datang melalui Program Bebenah Kampung Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.

Salah satu relawan Tzu Chi memasuki rumah Mawardi dengan menunduk karena jarak antara atap dan lantai yang kondisinya semakin pendek.

Lima Rumah Memulai Perubahan
Pada Sabtu, 15 Agustus 2026, relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Utara 1 memulai Program Bebenah Kampung Kamal Muara tahap ke-7 dengan melakukan pembongkaran lima rumah tidak layak huni yang akan direnovasi. Rumah keluarga Mawardi salah satunya. Kegiatan tersebut menjadi kelanjutan dari pendampingan yang telah dilakukan Tzu Chi kepada warga Kamal Muara dalam beberapa tahap sebelumnya.

Olivia Tan, Ketua relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Utara 1, menjelaskan bahwa pembongkaran lima rumah menjadi langkah awal pelaksanaan renovasi tahap ketujuh di wilayah tersebut.

Olivia Tan (tengah), Ketua Relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Utara 1, beserta relawan lainnya bergotong royong membongkar rumah Mawardi yang nantinya akan segera direnovasi.

“Hari ini kita perdana pembongkaran rumah hasil dari kita survei bedah rumah di Kamal Muara tahap ke-7. Sebelumnya kita juga telah membangun 38 rumah di wilayah ini,” ungkap Olivia Tan.

Namun, menentukan keluarga penerima manfaat bukan hanya soal menemukan rumah dengan kondisi fisik yang sudah rusak. Dalam proses survei, relawan juga berusaha memahami kehidupan keluarga yang tinggal di dalamnya. Kondisi sosial, ekonomi, jumlah anggota keluarga, hingga kemampuan anggota keluarga dalam usia produktif menjadi bagian dari pertimbangan sebelum bantuan renovasi diberikan.

“Kita lihat kondisinya, tidak hanya melihatnya rumahnya yang kurang bagus terus kita bangun, tetapi kita juga perhatikan kondisi sosialnya, seperti jumlah keluarga yang ada di rumah, serta usia produktifnya ada berapa. Kita berharap, yang sudah kita bantu, (kehidupannya) juga bisa berkembang,” tambahnya.

Selain memperbaiki kondisi rumah, Program Bebenah Kampung juga menjadi bagian dari upaya Tzu Chi Indonesia dalam mendampingi keluarga penerima manfaat, agar memiliki kehidupan yang lebih baik dan dapat terus berkembang setelah menerima bantuan.

Bagi Mawardi, rumah yang akan dibangun kembali menjadi harapan yang selama ini sulit ia wujudkan dengan penghasilannya sendiri. Di usia 59 tahun, ia masih akan kembali mencari penumpang dengan sepeda motornya dan bekerja untuk keluarga. Namun kini, setidaknya ada satu kekhawatiran yang mulai berkurang.

Setelah bertahun-tahun bertahan di rumah yang semakin lapuk dan menghadapi banjir yang datang berulang kali, Mawardi dan Cicih kini menanti sebuah rumah yang lebih layak, tempat mereka dapat kembali pulang dengan rasa lebih aman dan tenang.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Wujud Perhatian Tzu Chi untuk Anak-Anak Kamal Muara

Wujud Perhatian Tzu Chi untuk Anak-Anak Kamal Muara

20 Juni 2024

Program “Sarapan Sehat” yang dijalankan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia mendatangi Madrasah Ibtidaiah (MI) Nurul Islam 1 Kamal Muara. Sarapan roti dan susu yang dibagikan ada 285 pcs. 

Program Bebenah Kampung di Kamal Muara

Program Bebenah Kampung di Kamal Muara

28 November 2019
Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia kembali melaksanakan Program Bebenah Kampung di Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara. Berkat jalinan jodoh yang baik, 10 rumah yang tidak layak huni dibangun kembali oleh Tzu Chi. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu masyarakat memiliki rumah yang layak untuk di huni sehingga kualitas kehidupan mereka dapat meningkat.
Bedah Rumah Tzu Chi di Kamal Muara: Ternyata Begini Rasanya, Bahagia!

Bedah Rumah Tzu Chi di Kamal Muara: Ternyata Begini Rasanya, Bahagia!

19 Desember 2022

Tzu Chi memulai Program Bedah Rumah Tahap ke-3 di Kamal Muara, Sabtu, 17 Desember 2022 dengan membongkar lima rumah para penerima bantuan. Pembangunan kembali rumah ini diperkirakan akan selesai dalam tiga bulan ke depan.

Beriman hendaknya disertai kebijaksanaan, jangan hanya mengikuti apa yang dilakukan orang lain hingga membutakan mata hati.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -