Tuntas Jalani Operasi Tumor Otak, Ignasius Siap Kembali Mengabdi

Jurnalis : Khusnul Khotimah , Fotografer : Khusnul Khotimah, Dokumentasi Pribadi

Dikunjungi para relawan Tzu Chi, pada Rabu 2 Juli 2025, Ignasius dan sang istri mengungkapkan rasa syukur atas segala dukungan dan perhatian Tzu Chi.

Ketika Wijianti bersama dua relawan lainnya datang berkunjung, Ignasius ditemani sang istri, Devi tengah mengemas barang-barang. Operasi tumor otak telah dijalani Ignasius pada 17 Juni 2025 lalu di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), kesehatannya pun telah pulih. Karena itu tak lama lagi ia akan meninggalkan Rumah Singgah Tzu Chi yang ada di Rusun Cinta Kasih Cengkareng untuk kembali ke Kota Singkawang.

Ignasius (28) merupakan seorang prajurit TNI yang berdinas di Batalyon Infanteri 641/Beruang yang bermarkas di Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Ia diberikan bantuan oleh Tzu Chi berupa biaya transportasi dan akomodasi selama berobat di Jakarta.

Pada Maret 2024, Ignasius mulai merasakan sakit kepala hebat dan penglihatan ganda, terutama di mata kanan. Ignasius mengira itu hanyalah akibat kelelahan dan masalah mata biasa seperti minus atau silinder. Namun pemeriksaan awal ke dokter mata menunjukkan penglihatannya masih dalam batas normal. Dari situ ia dirujuk ke dokter spesialis syaraf yang kemudian menyarankan CTScan. Hasilnya mengejutkan, terdeteksi adanya massa dalam kepala berukuran 2,8 cm.

Setahun kemudian, setelah serangkaian pemeriksaan lanjutan termasuk MRI, ukuran massa itu meningkat menjadi 3,1 cm. Meski demikian, tumor tersebut tak menyebar dan memiliki batas tegas, berada dalam satu kantong. Meski begitu Ia harus segera mendapat penanganan lebih lanjut.

Ignasius sesaat sebelum menjalani operasi tumor otak di RSCM pada 17 Juni 2025.

Dokter Sony, dokter spesialis bedah saraf yang menanganinya di RS Umum Daerah Dr. Abdul Aziz Singkawang menyarankannya segera ke Jakarta untuk penanganan intensif. Sayangnya kendala biaya menjadi hambatan besar. Dokter Sony pun menyarankannya mengajukan bantuan ke Tzu Chi Singkawang seperti salah satu pasiennya.

Pada 9 April 2025, Ignasius datang ke Kantor Tzu Chi Singkawang untuk mengajukan permohonan bantuan. Lalu pada 13 April 2025, relawan Tzu Chi Singkawang melakukan survei ke rumahnya, salah satunya untuk mengecek kondisi ekonomi yang bersangkutan. Setelah melalui rapat, Tzu Chi Singkawang pun memutuskan untuk memberi bantuan berupa biaya transportasi dan akomodasi selama Ignatius berobat di Jakarta. Untuk tempat tinggal, disediakan akomodasi di Rusun Cinta Kasih Tzu Chi, Cengkareng, Jakarta.

Pada 25 April, Ignasius tiba di Jakarta dan kurang dari dua bulan kemudian tepatnya pada 17 Juni, ia menjalani operasi. Sesuai prosedur sebagai anggota TNI, ia terlebih dulu berobat di RSPAD Gatot Subroto lalu melanjutkan pencarian second opinion hingga akhirnya kembali pada saran awal dokter di Singkawang untuk tindakan operasi di RSCM. Operasi berjalan lancar, tanpa risiko seperti yang dikhawatirkan sebelumnya.

"Saya sangat bersyukur kepada Tuhan dan semua orang yang sudah mendukung saya dalam proses pengobatan ini," ujarnya haru. Setelah operasi, kondisi Ignasius menunjukkan perbaikan signifikan. Keluhan sakit kepala mereda, penglihatan yang semula buram pun membaik.

Lega dan syukur dirasakan Ignasius ketika dokter memperbolehkannya untuk pulang pascaoperasi. Tarsisius Eko (kanan), staf dari Bakti Amal Tzu Chi Indonesia turut mendampingi Ignasius yang ditemani sang istri.

Selama masa pemulihan, Ignasius tinggal bersama istrinya, Devi, yang dengan setia mendampingi dan membantu segala kebutuhannya mulai dari konsumsi obat hingga menyiapkan keperluan sehari-hari. Meski fisiknya sudah tampak sehat, Ignasius tetap menjaga pemulihannya dengan baik. Anak-anak mereka sementara diasuh oleh orang tua di kampung.

Wijianti, yang hampir tiga tahun menjadi relawan Tzu Chi pun turut bersyukur dengan kondisi Ignatius pascaoperasi yang terlihat sehat, segar, bahkan tak tampak baru saja menjalani operasi besar. “Harapan saya kepada Pak Ignas sudah tidak sakit lagi, penyakitnya sudah diangkat, dan melanjutkan hidup seperti biasa, mengurus anak, kerja, biar kehidupannya lebih bagus lagi. Syukur-syukur bisa gabung Tzu Chi,” katanya sambil tersenyum.

Ignasius dan Devi berkemas. Mereka sudah tak sabar berkumpul lagi bersama dua anak mereka yang berusia 3 dan 2 tahun.

Kepada Wijianti, tak lupa Ignasius pun menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan yang diberikan oleh Tzu Chi, juga perhatian yang tulus dari para relawan Tzu Chi.

“Terima kasih ucapan saya secara pribadi kepada Tzu Chi telah membantu banyak orang sehigga orang-orang yang sakit memiliki harapan yang baru, hidup yang cerah, memiliki masa depan sehingga ada semangat baru yang timbul dalam diri seseorang yang sakit tadi. Semoga Tzu Chi semakin berkembang dan semakin dikenal banyak orang sehingga dapat membantu lebih luas lagi,” pungkasnya.

Kini Ignasius kembali menatap masa depan dengan semangat baru. Dengan kondisi kesehatan yang terus membaik dan dukungan keluarga serta para relawan, ia bersiap melanjutkan pengabdiannya kepada negara dan membangun kehidupan yang lebih sehat dan lebih berarti.

Editor: Arimami Suryo A.

Artikel Terkait

Berkumpul Bersama Para Penerima Bantuan

Berkumpul Bersama Para Penerima Bantuan

13 Maret 2020
Untuk kedua kalinya Tzu Chi Surabaya menyelenggarakan acara Gathering Penerima Bantuan Tzu Chi. Kegiatan pada 8 Maret 2020 itu memberikan penyuluhan dengan tema Atasi Risiko Jatuh yang ditujukkan bagi penerima bantuan yang didominasi oleh lansia.
Sekolah Online Jadi Lancar Berkat Bantuan Tzu Chi

Sekolah Online Jadi Lancar Berkat Bantuan Tzu Chi

03 November 2020
Anak asuh Tzu Chi yang terkendala menjalani pembelajaran online dalam masa pandemi Covid-19 mendapat perhatian dari Tzu Chi. Atas inisiatif Wakil Ketua Tzu Chi Indonesia, Franky O. Widjaja, Tzu Chi Indonesia memberikan 14 unit smartphone dan 2 unit laptop baru untuk Anak Asuh Tzu Chi di berbagai komunitas.
Bantuan Tzu Chi Menambal Kebutuhan di Masa Genting

Bantuan Tzu Chi Menambal Kebutuhan di Masa Genting

14 Agustus 2020

Wabah Covid-19 telah memberikan dampak luar biasa bagi kehidupan bermasyarakat. Tak hanya orang kota, mereka yang tinggal di desa-desa pun terkena dampaknya. Cerita para warga Ciresek pun hanya beberapa dari sekian banyak cerita lainnya. Tak pelak, Tzu Chi terus bergerak menyalurkan bantuan untuk membantu mereka yang terdampak.

Ada tiga "tiada" di dunia ini, tiada orang yang tidak saya cintai, tiada orang yang tidak saya percayai, tiada orang yang tidak saya maafkan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -