Membawakan materi Gerobak Lembu Putih, Novita Liesera mengajak peserta merefleksikan kembali alasan awal bergabung di Tzu Ching dan belajar memikul tanggung jawab.
Memasuki hari kedua Tzu Ching Camp pada Minggu, 11 Oktober 2026, sebanyak 211 relawan muda kembali berkumpul di Jiang Jing Tang, Aula Jing Si lantai 4, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Jika hari pertama berfokus pada introspeksi dan pengendalian ego, hari kedua mengajak peserta melangkah lebih jauh untuk berani mengambil tanggung jawab dan berbuat nyata bagi sesama.
Sesi kelas dibuka dengan materi Gerobak Lembu Putih oleh Novita Liesera, yang bergabung dengan Tzu Ching sejak 2021. Mengangkat perumpamaan rumah terbakar dari Sutra Teratai, perempuan yang akrab disapa Sera ini menyoroti kecenderungan manusia yang kerap terlena dalam kenyamanan semu.
Dari sudut pandangnya sebagai psikolog klinis, ia melihat bagaimana rasa nyaman sering membuat orang abai pada waktu. “Rumah terbakar ini mengibaratkan hidup yang terus berubah,” tutur Liesera mengingatkan. “Namun sering kali kita terlalu asyik menikmati hari, sampai hal-hal penting terlewat hanya karena terbiasa bilang ‘nanti dulu’,” tambahnya.
Ia juga menjelaskan dalam materi, anak-anak dalam perumpamaan tersebut baru tergerak keluar dari kobaran api setelah diiming-imingi aneka kereta mainan oleh sang ayah, sebelum akhirnya dihadiahi kereta lembu putih yang sesungguhnya. Pola ini dinilainya serupa dengan proses seseorang saat pertama kali mengenal Tzu Ching.
“Mungkin awalnya kita masuk Tzu Ching karena terpaksa atau ikut-ikutan. Tetapi setelah berproses, kita justru menemukan komunitas positif, mengasah keterampilan, dan belajar bertanggung jawab,” ungkap Liesera seraya tersenyum.
Koordinator Bidang Pelatihan He Qi Pusat ini mengajak peserta memperkuat lima kekuatan batin (Panca Bala), yaitu keyakinan, semangat, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Di akhir sesinya, ia mengajak relawan muda meneladani kereta lembu putih dengan mengubah orientasi diri.
“Mari geser pandangan kita. Jangan cuma berpikir kita bisa dapat apa di Tzu Ching, tetapi tanyakan apa yang bisa kita berikan untuk orang lain dan masyarakat. Ketika fokus kita adalah memberi, di situlah kebahagiaan sejati akan hadir,” pesan Liesera kepada peserta.
Ajakan untuk tulus memberi tersebut disambung oleh Aron Marwan melalui sesi Bertumbuh Bersama. Aron mengajak peserta menengok kembali niat awal mereka agar semangat untuk bersumbangsih tidak meredup di tengah jalan.
“Sebenarnya kalian ikut Tzu Ching itu untuk apa?” tanya Aron memantik perenungan. “Apakah hanya sekadar ikut baksos, pelestarian lingkungan, atau kunjungan kasih tanpa menyerap nilai kebajikan di baliknya?”
Baginya, ruang kerelawanan adalah ladang belajar yang setara. “Di sini tidak ada senior atau junior,” tegas Aron. “Semuanya sama-sama belajar berbuat kebaikan dan berkontribusi bagi masyarakat.”
Kisah Hangat dari Kampung Halaman Batin
Suasana panggung beralih menjadi ruang bincang santai bertajuk Podcast: Tzu Ching Camp International yang dipandu Tasih Aya Andrean. Lima relawan muda, yaitu Nisya, Luis, Frederick, Freida, dan William, membagikan perjalanan batin mereka saat mengikuti Global Tzu Ching Camp di Hualien, Taiwan.
Tasih Aya Andrean memandu perbincangan hangat bersama Nisya, Luis, Frederick, Freida, dan William seputar pembelajaran kerelawanan dan budaya humanis selama mengikuti Global Tzu Ching Camp di Taiwan.
Nisya, mahasiswi berhijab, sempat cemas menjadi minoritas di tengah 500 peserta dari 17 negara. Kekhawatiran itu pupus saat panitia di Hualien berinisiatif menyiapkan ruangan khusus baginya untuk salat. Keraguan sempat kembali muncul ketika ia bertugas di Rumah Sakit Tzu Chi Hualien tanpa pendamping bahasa Inggris di bangsal pasien, tetapi dorongan rekan-rekannya menguatkan tekadnya untuk bertahan.
“Waktu tahu di rumah sakit tidak ada penerjemah dan aku tidak bisa bahasa Mandarin, rasanya sempat panik. Tapi teman-teman terus meyakinkan bahwa ini kesempatan berharga. Dari situ aku sadar, di Tzu Chi, bahasa yang paling nyata adalah ketulusan cinta kasih,” kenang Nisya.
Dinamika lintas budaya juga dirasakan Freida saat kelompok bahasa Inggris dan Mandarin saling bahu-membahu menerjemahkan materi. Persaudaraan mereka kian erat ketika gempa berkekuatan sekitar 6 magnitudo mengguncang Hualien pada malam hari saat peserta tengah beristirahat.
“Saat gempa terjadi, kami panik berlarian lewat tangga darurat, bahkan ada yang masih berbalut handuk. Tapi yang paling membekas adalah bagaimana kami spontan saling berpelukan, berbagi handuk, dan menenangkan teman-teman dari negara lain yang menangis karena syok,” cerita Freida.
Bagi Frederick, Hualien menyentuh batas kerapuhan hidup saat mendampingi pasien percobaan bunuh diri di instalasi gawat darurat rumah sakit setempat. Pengalaman itu diperdalam lewat empat hari tinggal di Griya Jing Si, mencangkul tanah kebun bersama para monastik.
“Waktu ikut mencangkul bareng para Shifu, prinsip satu hari tidak bekerja, satu hari tidak makan terasa begitu hidup. Di sana aku belajar bahwa melayani sesama harus lahir dari ketulusan dan keringat sendiri,” ungkap Frederick.
Rangkaian cerita tersebut menegaskan makna Hualien sebagai kampung halaman batin tempat relawan menyegarkan jiwa, membuktikan bahwa jalan kerelawanan adalah ruang bertumbuh untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh dan berempati.
Amanah Luhur Memikul Bakul Beras Dunia
Usai makan siang, suasana ruang Guo Yi Ting berubah khidmat menjelang prosesi pelantikan. Keharuan terasa saat wakil ketua panitia, Fiona, menyampaikan sambutannya dari atas panggung.
“Pelantikan hari ini bukanlah garis akhir dari perjalanan kamp, melainkan awal mula perjalanan kita di Tzu Chi,” tutur Fiona mengingatkan. “Semoga kita dapat mengemban tanggung jawab yang lebih besar untuk membantu sesama.”
Panggilan tanggung jawab tersebut ditegaskan oleh Andy Wang lewat materi Memikul Bakul Beras Dunia. Melalui candaan hangat tentang rencananya membawa barbel 20 kilogram ke atas panggung, Andy meluruskan bahwa tanggung jawab kemanusiaan bukanlah beban fisik yang menakutkan, melainkan kesiapan batin untuk memperluas cinta kasih.
Dalam sesi pembekalan pelantikan, Andy Wang mengulas pesan Master Cheng Yen mengenai peran penting generasi muda dalam menjawab tantangan kemanusiaan masa kini.
Menyambut 60 tahun perjalanan Tzu Chi, Andy mengingatkan bahwa persoalan dunia mustahil diselesaikan sendirian. “Beras di dunia tidak habis dimakan satu orang,” tuturnya mengutip wejangan Master Cheng Yen. “Permasalahan di dunia ini butuh saya, Anda, dan dia untuk sama-sama bergerak menyelesaikannya,” tambahnya.
Semangat tersebut terbukti dari langkah awal 30 ibu rumah tangga perintis celengan bambu 50 sen yang kini berkembang di 64 negara. Andy mengajak peserta menengok masa muda Master Cheng Yen pada usia 21 tahun, usia yang sebaya dengan sebagian besar peserta. Kehilangan ayah mengantarkan Master Cheng Yen pada perenungan hakikat hidup, hingga bertekad memperluas makna menjinjing keranjang sayur dari sekadar membahagiakan satu keluarga menjadi merangkul seluruh dunia.
Kini, di tengah tantangan dunia yang kian kompleks dan membutuhkan lebih banyak kepedulian, Andy membagikan rekaman wejangan Master Cheng Yen yang berpesan agar generasi muda berani memperluas lapang dada mereka.
“Era sudah berubah, maka tanggung jawab kita pun ikut berubah,” tegas Andy menggarisbawahi wejangan tersebut. “Insan Tzu Ching saat ini tidak lagi sekadar menjinjing keranjang sayur, melainkan memikul bakul beras dunia, yaitu keberanian mengambil tanggung jawab yang lebih besar untuk meringankan penderitaan sesama.”
Hangatnya Cinta Kasih Satu Keluarga
Di luar prosesi resmi pelantikan, kehangatan budaya humanis terpancar melalui pengumuman Hidden Quest. Penghargaan bagi kelompok terkompak dan konsisten mempraktikkan tata krama diraih oleh Kelompok 26 bimbingan mentor Yuliana.
Senyum bahagia terpancar dari Yuliana (seragam Abu Putih), bersama teman-teman sekelompoknya saat diumumkan sebagai kelompok terhumanis, bukti bahwa kepedulian tulus dari hal-hal kecil selalu bermakna indah.
Yuliana, yang aktif di Tzu Ching sejak 2013, menuturkan bahwa keterbukaan anggota menjadi kunci kebersamaan mereka. “Sehari sebelum acara, aku sudah menyapa mereka di grup WhatsApp dan responsnya sangat ramah,” kenang Yuliana. “Anak-anak sangat komunikatif. Kalau ada teman tertinggal, mereka langsung saling mengabari untuk kumpul bersama. Mereka sangat kompak dan saling peduli,” tambahnya.
Hal tersebut juga dirasakan langsung oleh Aliniar Nanda Stefani, mahasiswi semester lima di Kelompok 26. Aliniar yang terpikat budaya humanis Tzu Chi menemukan keteguhan tekad lewat kisah burung kecil pemadam kebakaran hutan.
“Filosofi burung memadamkan api mengajarkan ketulusan bertindak atas dasar empati. Kita bisa mulai berbuat baik dan membawa perubahan nyata tanpa harus menunggu sesuatu yang besar,” tutur Aliniar.
Hadir dengan ketulusan seorang ibu, Hevi Triana mendampingi anak-anak muda binaannya agar lentera cinta kasih di hati mereka terus menyala dan siap dibawa pulang ke Palembang.
Rasa kekeluargaan kian lengkap dengan kehadiran Hevi Triana, pendamping Tzu Ching asal Palembang yang bergabung dengan Tzu Chi sejak 2019. Kehadirannya di Jakarta menggenapi ikrarnya kepada Master Cheng Yen untuk membawa keluarga ke jalan kebajikan. Harapan tersebut terwujud saat putranya di kelas 12 tergerak mengajak teman sekolah dan keponakannya, hingga terkumpul 17 calon relawan baru dari Palembang.
“Semangat Avatar harus selalu dibangkitkan agar barisan Tzu Ching di Palembang bertambah panjang dan dapat membantu Master memikul beras dunia,” ungkap Hevi Triana. “Melihat anak-anak begitu bersemangat, saya pun jauh lebih bersemangat mendampingi mereka,” tambahnya.
Kebersamaan lintas generasi ini sejalan dengan pesan cinta kasih Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei. Ia mengingatkan bahwa perjalanan Tzu Ching Indonesia telah melewati dua puluh tahun sejak 2005, dan relawan perintis kini telah menginjak usia sekitar 70 tahun sehingga tongkat estafet harus dilanjutkan kaum muda.
Rasa haru dan bangga menyelimuti Aliniar saat menerima penyematan nametag, sebuah tanda kesiapan batin untuk mengemban tanggung jawab dan melayani sesama.
Editor: Fikhri Fathoni