Mengawali rangkaian Tzu Ching Camp 2026 di Guo Yi Ting, Damica dan Ivan memandu jalannya acara dengan penuh keceriaan, keduanya sukses memantik semangat 211 peserta sejak awal kegiatan.
Pada saat sepuluh tahun lalu, Tzu Ching Camp mengambil tema ‘Be The Avatar, Creating Purelamd on Earth’. Lalu pertanyaan muncul dari Hendy Cahyadi yang membuka Camp 2026 ini dengan penuh semangat, “apakah sekarang kita sudah benar-benar menjadi Avatar?”
Senyum dan rasa penasaran seketika terpancar dari wajah 211 peserta pada hari pertama Tzu Ching Camp 2026. Kegiatan yang berlangsung 10-11 Oktober 2026 di Guo Yi Ting, Aula Jing Si lantai 3, Tzu Chi Center, Jakarta Utara, ini mengajak para peserta menyelami makna di balik tema “Avatar 2.0: Brand New Day”. Antusiasme terasa saat mereka memasuki ruangan, datang dari berbagai daerah mulai dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Palembang, hingga Pati.
Tema kegiatan kali ini bukan sekadar pergantian judul layaknya sekuel film, melainkan ajakan bercermin ke dalam diri. Makna sejati di balik tema Brand New Day, yaitu keberanian untuk melangkah keluar dari kepentingan pribadi dan menjadi sumber kebahagiaan bagi sesama.
Menyelaraskan Ego Menuju Hari yang Baru
Melalui sesi bertajuk Harmony Avatar, Hendry mengajak peserta melihat sosok Avatar dalam kehidupan nyata. Tantangan terbesarnya bukan mengendalikan elemen alam seperti dalam film, melainkan mengendalikan ego sendiri, terutama dalam memaknai kebahagiaan. Ironisnya, meski banyak orang sepakat bahwa kebahagiaan berawal dari diri sendiri, suasana hati kita justru begitu mudah goyah oleh perkataan orang lain.
Makna sejati sosok Avatar diulas mendalam oleh Hendry Cahyadi lewat sesi Harmony Avatar. Melalui paparannya, peserta disadarkan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari keberanian mengecilkan ego dan mendahulukan sesama.
Saat itu Hendry juga menyampaikan kepada para Tzu Ching (Muda mudi Tzu Chi) bahwa Avatar masa kini sejatinya ialah Bodhisatwa Dunia yang berarti mengecilkan ego demi menghadirkan keharmonisan bagi sesama. Menurutnya, kebahagiaan sejati tidak hadir begitu saja, melainkan perlu ditumbuhkan dari dalam diri. “Kalau kita mau bahagia di dalam hidup, harus ada sebabnya. Kita sendiri yang perlu memiliki sebab itu, bahkan menjadi dampak bagi kebahagiaan kita sendiri,” ucap Hendry.
Langkah itu terkadang seringkali disalahartikan sebagai pengorbanan mendahulukan orang lain yang berujung merugikan diri sendiri. “Banyak orang merasa terbebani ketika harus memikirkan orang lain. Selama di Tzu Chi, saya melihat mereka yang tulus memikirkan sesama, justru hidup jauh lebih bahagia daripada mereka yang hanya mementingkan diri sendiri.” tambahnya.
Tekad Kecil Melampaui Keterbatasan
Kemudian, materi dilanjutkan oleh Dina dan Adi Nugroho yang akan mengajak para peserta untuk belajar melangkah bersama untuk menjadi sumber kebahagian bagi sesama. Dalam sesi tersebut mereka akan menjawab sebuah kerguan yang sering dialami anak muda seperti bagaimana jika mereka merasa dirinya terlalu kecil untuk membawa perubahan?
Lalu Dina menjawabnya melalui kisah seekor burung kecil yang berulang kali membawa tetesan air demi memadamkan kebakaran hutan. Dari cerita yang dibagikannya ia mengatakan bukan dari banyaknya air yang dibawa oleh hewan tersebut, melainkan tekad seorang Bodhisatwa untuk melakukan kebajikan.
Relawan Tzu Chi, Dina dengan penuh semangat membawa materi melalui kisah Burung Kecil Memadamkan Api, dalam Tzu Ching Camp 2026.
Terkadang seseorang sering kali berpikir dan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, “Saya ini masih kuliah, anak rantau yang belum punya apa-apa?” Namun, dahulu Master Cheng Yen tak pernah khawatir menjalankan misi kemanusiaanya yang beliau mulai pada 1966 dengan hanya tabungan 50 sen yang dikumpulkan para ibu rumah tangga untuk menebar cinta kasihnya hingga sampai saat ini.
Karena itu, diri sendiri juga harus memiliki ketulusan dan keyakinan, agar orang lain juga tergerak hatinya untuk ikut bersumbangsih dan berbuat baik di Tzu Chi. Dari langkah kecil, jika dilakukan dengan kesungguhan dan ketulusan hati akan membawa banyak kebajikan yang lebih besar.
Semangat peserta kembali dihidupkan juga oleh Adi lewat materi bertajuk Semut Mendaki Gunung Sumeru. Mengisahkan perjalanannya dari sosok seseorang yang dahulu menutup diri hingga dipercaya mengoordinasikan pementasan drama musikal Sutra Bakti Seorang Anak saat aktif sebagai relawan Tzu Ching. Ia memberikan pembuktian bahwa keberanian lahir dari tindakan nyata.
“Lakukan dulu apa yang ada di depan mata, apa yang bisa kita lakukan saat ini,” tutur Adi. Baginya, rasa percaya diri tumbuh melalui kesediaan menyambut tanggung jawab dan bekerja sama. Ia mengibaratkannya seperti semut: meski seekor semut tampak kecil dan tak berdaya, ketika bergerak bersama, mereka mampu menghadapi tantangan besar.
Menjadikan Budaya Humanis Sebagai Kompas Hidup
Salah satu relawan Tzu Chi yang memberikan materi selanjutnya, Martha, ia mengenang kembali ikrarnya di Guo Yi Ting, Tzu Chi Center pada 2008, peran sebagai relawan harus berjalan selaras dengan tanggung jawab menuntut ilmu. “Di bangku kuliah kita harus tekun belajar, lalu saat ada waktu luang lakukanlah bersumbangsih bagi sesama,” pesan Martha.
Budaya humanis dihadirkan oleh Martha sebagai kompas penuntun langkah bagi peserta Tzu Ching Camp 2026. Ia mengajak relawan Tzu Ching untuk senantiasa menjaga tata krama dan mengestafetkan amanah kebajikan kepada sesama.
Bagi Martha, ketika relawan mengenakan seragam, maka orang lain akan melihat sosok insan Tzu Chi dalam diri kita. Karena itu sebagai relawan harus memegang prinsip dengan langkah welas asih dan kebijaksanaan dalam kebersamaan untuk menumbuhkan akar kebajikan. Nilai luhur tersebut, diwujudkan melalui latihan empat sikap dalam gerak tubuh sehari-hari, seperti “naga mengulum mutiara” saat memegang mangkuk dan “buru phoenix minum air” saat menggunakan sumpit. Latihan ini mengajak peserta untuk menjaga sikap dan melatih kesadaran penuh dalam setiap gerakan.
Pada sesi kali ini, para peserta juga diajak untul memperdalam Budaya Humanis dengan menyusuri Aula Jing Si untuk memahami keempat misi Tzu Chi. Mereka juga diberikan pengetahuan dari salah satu aksi pelestarian lingkungan yang dilakukan para relawan untuk merawat bumi, serta kesiapsiagaan relawan dalam menyalurkan bantuan tanggap darurat bencana.
Menyalakan Lentera Kebajikan di Hati Peserta
Setelah mendengar dan menyimak sesi materi pembelajaran yang diberikan oleh para relawan Tzu Chi, salah satu Tzu Ching Pati, Diah Kurnia Poetry (15) yang akrab disapa Aira, saat ini duduk di bangku kelas 10 SMA. Ketika berangkat bersama peserta lainnya dari Jawa Tengah untuk mengikuti Camp, awalnya sempat merasakan kembimbangan dan kekhawatiran.
Berbagai pembelajaran yang tersaji sepanjang hari pertama tidak berhenti sebagai materi di atas panggung, melainkan berlabuh menjadi perenungan mendalam di benak para peserta. Hal ini dirasakan betul oleh Diah Karuna Poetry (15), siswi kelas 10 SMAN 1 Tayu, Pati, Jawa Tengah, yang akrab disapa Aira. Saat akan berangkat dari Pati bersama relawan lainnya menuju Tzu Chi Center, dirinya asih diliputi rasa kebimbangan. Namun setibanya di Jakarta rasa ragu itu hilang seketika.
Berangkat jauh dari Pati, Diah Karuna Poetry (kanan), ia merasa mendapatkan pengalaman selama Tzu Ching Camp 2026 membuatnya semakin menghargai diri sendiri dan termotivasi untuk terus aktif bersumbangsih dalam kegiatan sosial.
“Jujur awalnya saya agak tidak percaya diri untuk menghadiri kegiatan ini, karena mereka yang hadir merupakan peserta yang sudah berkuliah dan saya juga takut tidak memiliki teman, ternyata disni para Tzu Ching yang aku kenal sangat baik dan ramah, suasananya tidak semenakutkan yang aku bayangkan.” ucap Aira dengan penuh kebahagiaan.
Selain merasakan hangatnya kebersamaan, ia juga memperoleh pelajaran berharga yang membekas di hati yaitu belajar untuk menghabiskan makanan sebagai bentuk menghargai rezeki, sekaligus menyadari bahwa masih banyak orang di luar sana yang kelaparan dan kesulitan mendapatkan makanan.
Usai mengikuti sesi Tur Aula Jing Si, Kenzie Wangsu menemukan ketertarikan pada Misi Amal Tzu Chi, ia berjanji akan lebih aktif lagi dalam mengikuti kegiatan Tzu Chi.
Hal serupa juga dirasakan oleh Kenzie Wangsu (16), remaja yang duduk di kelas 11 Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng. Perhatiannya tertuju pada misi amal sebagai tonggak awal berdirinya Tzu Chi dalam membantu sesama yang membutuhkan. “Dulu setiap ingin berdana, saya selalu cemas apakah nominal yang kecil ini cukup untuk menolong? Tetapi materi yang diberikan menyadarkan saya bahwa kita tidak harus memikirkan seberapa kecil yang kita berikan, melainkan fokus dan konsisten pada apa yang bisa kita perbuat saat ini.” ucap Kenzie Wangsu.
Editor: Nur Al Fajar Rumsari