Tzu Ching Camp: Belajar dari Kunjungan Kasih
Jurnalis : Apriyanto, Fotografer : Apriyanto
|
| |
Intinya Hok Cun berpesan bahwa kita harus menjalani hidup ini dengan penuh syukur dan menghargai setiap orang sebagai ladang berkah. Sesudah Hok Cun berbagi kisah, panitia langsung membagi para peserta dalam beberapa kelompok. Erwin, Intan, Sandra, Tuti, dan Jeniffer masuk dalam kelompok 1. Mereka bersama Johny Shixiong pergi mengunjungi pasien penerima bantuan Tzu Chi, salah satunya adalah dua bersaudara Tomy Chandra dan Devi M. Chandra yang mengalami autis (suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa Balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal, Wikipedia). Begitu sampai di rumahnya yang sederhana Tomy dengan riuh menyambut kedatangan Johny dan para Tzu Ching. Tomy yang berpostur tinggi tegap berteriak sambil melambaikan tangan, ia terlihat gembira melihat kedatangan tamu. Edi ayahnya pun begitu ceria menyambut kehadiran Johny dan para Tzu Ching dalam acara kunjungan kasih itu. Saat semuanya berkumpul di ruang tamu, Tomy lantas mendekati Intan, meraih kedua tangan Intan lalu meletakkan tangan Intan di wajahnya seraya mengajak main cilukba. Kepada para Tzu Ching, Edi menjelaskan Tomy baru diketahui mengalami autis setelah berusia 2 tahun. “Ketika berusia 2 tahun, Tomy tidak merespon apa-apa, setelah diperiksa di rumah sakit oleh dokter kejiwaan baru diketahui kalau Tomy ternyata autis,” jelas Edi. Semestinya Tomy harus menjalani serangkaian terapi, tetapi berhubung keterbatasan biaya maka terapi untuk Tomy tak tuntas dijalankan. Dan Edi mengasuh Tomy dengan segala keterbatasan yang ia miliki. Selain itu Devi M. Chandra, anak kedua Edi juga mengalami keterbatasan. Meski secara fisik tubuh Devi layaknya anak-anak yang lain, tetapi ia tak mampu untuk melayani dirinya sendiri seperti, makan atau membersihkan diri. Keadaan ini menjadi ujian kesabaran bagi pasangan Edi dan istrinya Hie Siu Tjin. “Anak itu sudah pemberian Tuhan, biar bagaimanapun harus saya terima dan jaga,” kata Edi.
Keterangan :
Melihat ketegaran Edi dalam menjalani hidupnya, membuat Erwin, Intan, Sandra, Tuti, dan Jeniffer terharu. Mereka bukan saja merasa tersentuh melihat kehidupan Tomy dan Devi, tetapi juga kagum pada sikap Edi dan Hie Siu Tjin. “Mereka orang tua yang tegar dan bertanggung jawab. Melihat mereka membuat saya harus menghargai kasih orang tua. Bahwa sesungguhnya orang tua akan selalu menyayangi anak-anaknya,” aku Intan. Intan yang berasal dari Bandung merasa kalau kegiatan Tzu Ching Camp yang ia ikuti sangatlah bermanfaat. Di Tzu Ching camp ia tak hanya belajar tentang tata krama, tetapi juga kasih sayang. Dengan mengikuti kegiatan Tzu Ching Camp, Intan merasa menemukan keluarga baru yang saling memberikan perhatian. Bagi Intan mengikuti Tzu Ching Camp merupakan pengalaman yang berharga untuk membina diri. Di acara itu ia belajar untuk bersyukur dan melihat realita kehidupan secara lebih dekat. “Saya merasa mendapatkan banyak manfaat dari kegiatan ini. Seperti saat kunjungan kasih semula saya masih takut-takut menghadapi Tomy, tetapi ternyata setelah bermain bersama saya baru mengetahui kalau mereka juga butuh kasih sayang,” ungkap Intan jujur. | ||
Artikel Terkait
Mendampingi dan Menjaga Kesehatan Warga Jamika
27 Februari 2019 Minggu, 24 Februari 2019 Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Kantor Perwakilan Bandung mengadakan baksos degeneratif lanjutan ke dua yang berlangsung di SD Swadaya, Kelurahan Jamika, Bandung.Belajar Toleransi di Rumah Tzu Chi
06 Februari 2015 Suasana kantor penghubung di Karimun siang itu sangat ramai dan dipenuhi oleh relawan dan Gan En Hu. Mereka datang dengan antusias, karena akan bersama-sama merayakan imlek di Tahun Kambing ini.
Berbagi Berkah Ramadan untuk Petugas Kebersihan
14 April 2023Bulan Ramadan digunakan relawan Tzu Chi di Xie Li Sumatera Selatan (Sumsel) 1 bersama Paguyuban Sinar Mas Sumatera Selatan berbagi paket sembako untuk 120 petugas kebersihan Kota Palembang.








Sitemap