Tzu Ching Camp: Jalinan Jodoh yang Baik

Jurnalis : Widya (Tzu Ching Jakarta), Fotografer : Meilin (Tzu Ching Bandung), Stepen Wijaya, Tan Siu Wei (Tzu Ching Jakarta)
 

foto
Tzu Ching menyambut para peserta camp dengan lagu “Bie Hai Pa Qu Meng Xiang” atau “Jangan Takut Bermimpi.”

 “Ada dua hal yang tidak bisa ditunda di dunia ini yaitu berbakti kepada orang tua dan berbuat kebajikan.” Kata perenungan Master Cheng Yen ini membawa kita untuk merenungkan kembali pentingnya orang tua dalam hidup kita. Kehidupan manusia bersifat sementara dan tidaklah kekal, waktu yang berputar tidak bisa diulang kembali, jangan saat kita menoleh kembali segalanya sudah tiada. Penyesalan selalu datang terlambat pada akhirnya. Selagi kita masih punya kesempatan untuk menyayangi orang tua kita sayangilah orang tua kita.

Sejak tanggal 8 hingga 9 Juni 2013, sebanyak 198 peserta ikut menghadiri Tzu Ching Camp VIII yang berlokasi di Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Kehadiran peserta disambut dengan  tepukan tangan hangat dari para panitia Tzu Ching yang berbaris rapi, disertai dengan sikap tulus dan ramah dari Tzu Ching, para peserta pun serasa seperti berada di rumah sendiri.

Pada awal pembukaan acara, para peserta duduk sesuai dengan kelompok masing-masing. Disinilah, mereka belajar menjalin jodoh baik antara satu dengan yang lainnya. Ditemani oleh 27 mentor yang merupakan “papa” dan “mama” mereka selama camp, mereka pun memainkan games untuk mencairkan suasana yang awalnya tegang. Suasana tegang dan serius di pagi hari itu pun berubah menjadi suasana yang penuh dengan canda tawa.  Melalui Tzu ChingCamp ini, para peserta juga diajarkan budaya humanism Tzu Chi yaitu melalui shou yu (bahasa isyarat tangan) yang berjudul,  “Bie Hai Pa Qu Meng Xiang” atau “Jangan Takut Bermimpi.” Dengan antusias dan tanpa malu-malu peserta  memperagakan bahasa isyarat tangan tersebut.

foto   foto

Keterangan :

  • Saat peserta datang , Tzu Ching sudah berbaris rapi menyambut kehadiran teman-teman baru (kiri).
  • Berbagai sharing didapat peserta, mulai dari Perjalanan Master Cheng Yen dan Tzu Chi hingga pelestarian lingkungan (kanan).

Lintas Agama 
Salah satu peserta Tzu Ching Camadalah Ayu. Menurutnya Yayasan Buddha Tzu Chi adalah sebuah yayasan yang welas asih, organisasi sosial kemanusiaan yang universal tanpa membeda-bedakan agama, suku, ras dan memberi cinta kasih tanpa pamrih. Awal ketertarikannya untuk mengikuti Tzu Ching adalah karena ia melihat bantuan pembagian beras tahun lalu, disana ia mulai kagum, melihat relawan Tzu Chi benar-benar tulus dalam memberikan bantuan, Tzu Chi juga dengan sopan dan ramah menyambut penerima bantuan yang tertib mengantri. Bahkan, relawan Tzu Chi pun ikut membantu membawakan karung beras pada orang tua yang tidak kuat membawa karung beras tersebut sampai ke rumah mereka. Dari sinilah ia menjadi beranggapan bahwa Tzu Chi adalah organisai kemanusiaan sosial yang universal memberikan bantuan tanpa pandang bulu, memberikan bantuan berdasarkan siapa saja yg membutuhkan.

  “Dalam waktu 2 hari 1 malam yang sangat singkat ini, saya mendapatkan pelajaran hidup yang bermakna  ini, sampai saya tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata lagi, yang jelas saya merasa bersyukur sekali jika dibandingkan dengan kehidupan orang-orang di luar sana. Betapa Allah memberikan kehidupan yang sempurna untuk saya, saya diberikan kesempatan berkumpul dengan keluarga,  terdapat atap diatas rumah, mempunyai tempat tidur yang baik, ada makanan diatas meja, dan sepatu diatas kaki saya. Alhamdulillah Allah begitu mencintai saya, ini membuat saya berhak untuk membantu masyarakat yang kehidupannya tidak lebih baik,” ungkap Ayu. Jalinan jodoh yang baik dengan Tzu Chi membuatnya untuk terus bertekad berjalan di jalan Bodhisatwa ini.

 


Artikel Terkait

Penantian itu Usai Sudah

Penantian itu Usai Sudah

30 November 2008 Saat itu tahun 2006, dan lama-kelamaan penglihatan matanya makin berkurang. Maka ia pun lalu bilang ke kakaknya tentang kondisi matanya. Oleh kakaknya dibilang, ya udah nanti kita periksa. Satu hari, oleh kakak dan keponakannya mengajak Hioe Tjien-nyan berobat ke sebuah rumah sakit di Jakarta. Di sana, oleh dokter ia dikatakan menderita katarak, dan jika ingin cepat sembuh harus lekas dioperasi.
Rumah yang Bersih bagi Oma dan Opa The Khian Hong

Rumah yang Bersih bagi Oma dan Opa The Khian Hong

16 Juli 2018
Berbuat baik dan tolong menolong tak mesti dalam bentuk bantuan barang atau pun materi. Seperti yang dilakukan oleh relawan Tzu Chi Makassar dengan membersihkan rumah warga lanjut usia (lansia) di Jalan Nusantara No.180, Pelabuhan Makassar, Minggu (15/7).
Padang:

Padang: "Anak Adalah Segala-galanya"

22 Oktober 2009
Seperti warga Kota Padang lainnya, Edi juga menjadi korban gempa. Rumahnya ambruk dan ketiga anaknya sempat terkurung di reruntuhan. Tapi Edi tak larut dalam kesedihan. Bersama relawan Tzu Chi lainnya, ia turut bersumbangsih membantu sesama.
Bila kita selalu berbaik hati, maka setiap hari adalah hari yang baik.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -