Tzu Ching Power, Agar Dunia Jadi Lebih Baik

Jurnalis : Philip, Dharma Chandra (Tzu Ching), Fotografer : Cecelia Vania, Andre Astama, Dickson (Tzu Ching)


Foto Bersama keluarga besar Tzu Ching Indonesia pada Tzu Ching Camp 2019, 28-29 September 2019 di Tzu Chi Center PIK, Jakarta Utara.

Muda-mudi Tzu Chi atau yang dikenal dengan Tzu Ching kembali mengadakan Tzu Ching Camp, 28-29 September 2019. Kamp ini dihadiri keluarga besar Tzu Ching Indonesia, terdiri dari Papa Mama, Xue Zhang Jie, Tzu Ching dan Relawan Kembang.

Acara bertema ‘Tzu Ching Power’ ini dihadiri oleh Tzu Ching dari Jakarta, Tangerang, Bandung, Makassar, Batam, dan Singkawang. ‘Tzu Ching Power’ memiliki harapan agar kumpulan Tzu Ching yang banyak memiliki kekuatan untuk membuat dunia jadi lebih baik dengan banyak hal. Di antaranya kegiatan sosial, campaign media sosial, perbuatan baik di dalam maupun di luar Tzu Chi, dan banyak lainnya.

Philip Tanjaya, Ketua Tzu Ching Camp 2019 mengatakan antusias peserta sangat tinggi saat Tzu Ching Camp 2019 dibuka pendaftarannya. Terbukti dengan jumlah peserta yang mendaftar ada 103 orang. Antusias para panitia pun tidak kalah dengan mempersiapkan semua yang dibutuhkan selama 3 bulan.


Dina sebagai moderator, ditemani oleh Marissa, Sharon, dan Martha menjelaskan bagaimana pentingnya melakukan pelestarian lingkungan dan bervegetaris.

Tzu Ching Camp 2019 ini sedikit berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Acara yang dibawakan lebih ringan dan lebih banyak diisi dengan games, sharing, gathering, dan kegiatan di luar Jing Si Tang, dan tentu saja tidak melupakan makna dan budaya humanis Tzu Chi.

Awal mula Tzu Ching dan Praktik Mencintai Bumi dengan Waves
Sesi sharing yang pertama mengundang tiga orang yang sangat berjasa dalam berdirinya Tzu Ching Indonesia, yaitu Jhony, Rudy Darwin, dan Elvi Kurniawan.

Sesi sharing dibawakan dengan sangat menarik oleh moderator, Addo. Addo memberikan pertanyaan kepada ketiga narasumber tentang bagaimana awal mula Tzu Ching berdiri. Para narasumber yang masih aktif di dunia Tzu Ching memberikan gambaran bagaimana Tzu Ching dahulu berani untuk mengambil tanggung jawab yang sangat besar, yaitu bakti sosial membagikan sembako kepada warga. Besar harapan Jhony agar Tzu Ching Indonesia bisa semakin banyak, dan bertumbuh menjadi masa depan Tzu Chi Indonesia.


Rudy Darwin menjawab pertanyaan dari Addo di sesi sharing

WAVES (We Are Vegetarians and Earth Saviours) adalah brand yang dibawa oleh Tzu Ching dalam mengkampanyekan Vegetarian dan Pelestarian Lingkungan Dina, Marissa, Sharon, dan Martha adalah pelopor Tzu Ching dalam melakukan kegiatan WAVES di wilayahnya masing-masing. Kegiatan ini rutin dilaksanakan oleh mereka setiap bulan, mulai dari belum ada tempat yang memadai, sampai akhirnya beberapa wilayah memiliki depo pelestarian lingkungan sendiri.

“Kita harus melakukan pelestarian lingkungan agar bumi yang sudah menua ini bisa berumur makin panjang. Bumi bisa tetap exist walaupun tanpa manusia, tapi manusia tidak bisa exist tanpa ada bumi,” komentar Adi Tanuwijaya mengenai pelestarian lingkungan.

Malam Keakraban Keluarga Besar Tzu Ching Indonesia
Salah satu ciri khas Tzu Ching Camp Indonesia setiap tahun yang tidak pernah hilang adalah malam keakraban di antara keluarga Besar Tzu Ching Indonesia. Kegiatan ini dilakukan di depan pintu tembaga pukul 19.00 – 21.00 WIB. Kewajiban pada malam keakraban adalah tiap kelompok harus bisa memberikan penampilan yang menghibur kelompok lainnya. Setiap kelompok mempersiapkan dengan sangat baik penampilan mereka. Tak lupa juga panitia mempersiapkan games ‘lempar yel yel’ dan dimainkan oleh peserta dan panitia Tzu Ching Camp 2019.


Kelompok dua yang dimentori oleh Liwan Shibo memimpin timnya dalam menjalani malam keakraban.

Ada satu games yang baru pertama kali dibawakan di Tzu Ching Camp Indonesia, yaitu games Mission Tzu Ching Power. Setiap kelompok yang terdiri dari 7-8 peserta diminta untuk menjalankan 5 games, yaitu misi Amal, misi Stainless straw,  misi Vegetarian, misi Celengan Bambu, dan misi Pelestarian Lingkungan.

Di games misi amal, peserta harus melakukan interaksi dengan penjual kelontong di pinggir jalan, serta membeli barang dagangan mereka. Setelah itu, peserta juga harus melakukan interaksi kepada pekerja jalanan sambil memberikan barang yang telah mereka beli.

Di games misi stainless straw, peserta diberikan 10 set stainless straw yang harus mereka jual kepada masyarakat umum sambil menjelaskan untuk tidak menggunakan barang sekali pakai agar bumi ini bisa berumur panjang. Semua dana yang berhasil dikumpulkan akan didonasikan untuk pembangunan rumah di Palu melalui Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.


Peserta Tzu Ching Camp 2019 yaitu Michelle, Fiona, Widiana, Satria, Siska, Alma, dan Angeline menuju Pasar Duta Mas untuk menjalankan games mission Tzu Ching Power.

Di games misi vegetarian, peserta wajib mewawancarai orang yang selesai makan makanan vegetarian, menanyakan alasan mereka mau bervegetarian, dan menjelaskan manfaat bervegetaris bagi diri sendiri dan lingkungan. Lalu di games misi celengan bambu, peserta diwajibkan untuk membawa celengan bambu untuk menaruh uang penjualan stainless straw. Selain penjualan stainless straw, peserta juga mempersilahkan masyarakat jika ingin berdonasi untuk pembangunan rumah di Palu.

Kemudian di games misi pelestarian lingkungan, peserta diwajibkan membawa tas Huan Bao dan mengambil sampah yang bisa didaur ulang di jalur yang mereka lewati pada saat melakukan games mission. Selesai melakukan games mission, peserta kembali ke Jing Si Tang untuk mempersiapkan bahan presentasi yang akan mereka bawakan di kelas.

Pelantikan Tzu Ching 2019
Moment yang paling membahagiakan di setiap Tzu Ching Camp adalah bertambah panjangnya barisan keluarga besar Tzu Ching Indonesia. Kali ini pelantikan Tzu Ching dilakukan oleh Andy Xue Zhang dan Linda Shigu, mereka melantik sebanyak 15 Tzu Ching baru yang memperpanjang dan mempererat jalinan jodoh keluarga besar Tzu Ching Indonesia.


Sebanyak 15 anggota Tzu Ching baru yang dilantik berasal dari Jakarta, Tangerang, Bandung, dan Batam.

Michel Tjoi dari Tzu Ching Bandung memberikan kesan dan pesannya untuk Tzu Ching Camp 2019. “Mengikuti kamp ini, saya lebih tahu bagaimana melestarikan lingkungan. Saat tadi pagi saya berinteraksi dengan masyarakat akan pelestarian lingkungan ternyata respon dan antusiasnya tinggi. Mereka ternyata masih peduli akan lingkungan tapi tidak tahu cara melestarikannya,” ujarnya.

Satria, perwakilan dari Tzu Ching Makassar juga memberikan kesan dan pesan terhadap jalannya Tzu Ching Camp Indonesia 2019.

“Misi PL di Tzu Ching Camp kali ini membuat saya excited karena ini pertama kali diadakan di luar saat kamp. Saya belajar bagaimana rasanya ditolak dan juga diterima masyarakat. Semoga dengan mengikuti kamp ini saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi,” pungkas Satria.

Editor: Khusnul Khotimah


Artikel Terkait

Tzu Ching Power, Agar Dunia Jadi Lebih Baik

Tzu Ching Power, Agar Dunia Jadi Lebih Baik

07 Oktober 2019

Moment paling membahagiakan di setiap Tzu Ching Camp adalah bertambah panjangnya barisan keluarga besar Tzu Ching Indonesia. Kali ini ada 15 anggota Tzu Ching baru yang memperpanjang dan mempererat jalinan jodoh keluarga besar Tzu Ching Indonesia.

Kendala dalam mengatasi suatu permasalahan biasanya terletak pada "manusianya", bukan pada "masalahnya".
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -