Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dan FPTP Bahas Kolaborasi Transformasi Pesantren

Jurnalis : Fikhri Fathoni , Fotografer : Fikhri Fathoni

Sambutan hangat terjalin saat Hong Tjhin, Sekretaris Umum Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, menerima kedatangan delegasi Forum Percepatan Transformasi Pesantren (FPTP) di Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara.

Pada Senin, 2 Februari 2026, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menyambut hangat kedatangan delegasi Forum Percepatan Transformasi Pesantren (FPTP) di Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara. Kehadiran delegasi FPTP tersebut disambut oleh Hong Tjhin, Sekretaris Umum Tzu Chi Indonesia. Dalam pertemuan ini, kedua belah pihak membahas rencana kolaborasi untuk mendukung percepatan transformasi pesantren di Indonesia.

Bagi FPTP, transformasi pesantren mencakup berbagai aspek, antara lain integritas keilmuan, regulasi dan kelembagaan pesantren, pengembangan metode pembelajaran berbasis teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), kemandirian ekonomi pesantren, serta penguatan ekosistem antarpesantren. Dari sejumlah aspek tersebut, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bersama FPTP akan mengkaji kembali bidang-bidang yang akan ditransformasi melalui kolaborasi yang akan dirancang ke depan.

Sementara itu, bagi Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, kolaborasi dengan pondok pesantren bukanlah hal baru. Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia telah menjalin kerja sama dengan Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman, Parung, Kabupaten Bogor, sejak 2003 hingga saat ini. Kolaborasi tersebut meliputi bidang pendidikan, pembangunan sarana dan prasarana, beasiswa, agrikultur, serta kesehatan. Hingga kini, Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman telah bertransformasi menjadi pesantren modern yang melahirkan santri dengan kualitas unggul.

Dalam suasana dialog yang terbuka, Hong Tjhin mewakili Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menyampaikan komitmen untuk mendukung kolaborasi lintas lembaga demi mendorong transformasi pesantren.

KH. Saifullah Ma’shum, Direktur Eksekutif FPTP, menyimak dan merespons berbagai masukan dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang diharapkan dapat menjadi bekal dalam proses transformasi pesantren.

Hong Tjhin mengungkapkan bahwa diskusi kali ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi kemajuan pesantren. “Saya rasa ini adalah hal yang sangat baik. Jika kita berbicara tentang pesantren yang jumlahnya mencapai sekitar 48.000 di Indonesia, apabila sepuluh persen saja dari jumlah tersebut dapat meningkatkan standar pengelolaannya, hal ini akan sangat membantu, baik dalam bidang kesehatan maupun pendidikan di Indonesia. Tzu Chi berkomitmen untuk bekerja sama dengan FPTP guna meningkatkan standar pesantren, sekaligus menjadi ruang pembelajaran bersama,” ujar Hong Tjhin.

Menurut Hong Tjhin, perbedaan latar belakang dan kultur antara Tzu Chi dan FPTP justru dapat saling menguatkan. “Dua akar akan lebih baik daripada satu akar. Akar kearifan yang telah diterapkan di pesantren akan diperkuat dengan nilai-nilai Tzu Chi, yakni kemandirian yang dibangun melalui kerja keras dan kedisiplinan yang aplikatif. Kedua hal ini tidak saling bertentangan, melainkan saling mendukung,” tambahnya.

Perbedaan latar belakang menjadi kekuatan bersama ketika Hong Tjhin menegaskan bahwa kolaborasi ini bertujuan saling menguatkan nilai, akar, dan kearifan yang telah tumbuh di masing-masing institusi.

Pertemuan ditutup dengan penyerahan cendera mata berupa buku dari KH. Saifullah Ma’shum kepada Hong Tjhin, sebagai simbol persahabatan, apresiasi, dan awal kerja sama yang berkelanjutan.

Melalui diskusi yang terjalin antara Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dan FPTP, Direktur Eksekutif FPTP, KH. Saifullah Ma’shum, menyampaikan bahwa banyak masukan dan gagasan yang diperoleh. “Saya sangat senang hari ini dapat diterima oleh Pak Hong Tjhin dan mendapatkan banyak masukan. Kami juga berkomitmen untuk memulai perintisan proyek percontohan (piloting) di berbagai bidang, termasuk mengatasi persoalan kesehatan dan kebersihan pesantren melalui pendirian sejumlah klinik pesantren dengan dukungan dan kerja sama Yayasan Buddha Tzu Chi,” ujarnya.

Editor: Anand Yahya

Artikel Terkait

Mengawali Tahun Ajaran Baru di Tzu Chi Center

Mengawali Tahun Ajaran Baru di Tzu Chi Center

21 Juli 2016

Menyambut tahun ajaran 2016/2017, Ehipassiko School BSD City mengadakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) kepada siswa-siswi SMA-nya di Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk. Rabu, 20 Juli 2016.

Berkenalan Dengan Tzu Chi

Berkenalan Dengan Tzu Chi

07 Desember 2017
Jumat, 1 Desember 2017, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menerima kunjungan dari Buddhist Fellowship Singapore dan Yayasan Dhammavihari Buddhist Studies. Kunjungan ke gedung Tzu Chi Center  ini pun disambut oleh 18 relawan Tzu Chi komunitas He Qi Utara 1.
Praktik Nyata di Keseharian

Praktik Nyata di Keseharian

29 Maret 2016 Selama hampir sehari penuh anak-anak belajar mengenai sejarah Tzu Chi di Indonesia, aktivitas relawan di tengah masyarakat, dan budaya humanis Tzu Chi.
Menyayangi dan melindungi benda di sekitar kita, berarti menghargai berkah dan mengenal rasa puas.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -