Rabu, 18 September 2019
Indonesia | English

"Terima Kasih Tuhan, Kau Kirim Mereka ke Papua"

20 Juli 2019 Jurnalis : Hadi Pranoto
Fotografer : Hadi Pranoto

Martha Basna dengan tepat menjawab setiap acungan jari sebagai pertanda keberhasilan operasi kataraknya.

Jarum jam belum menunjukkan pukul 07.00 WIT (05.00 WIB –red), namun antrian pasien yang akan melakukan post op (pemeriksaan pascaoperasi) katarak dan pterygium sudah memanjang di Rumah Sakit Bhayangkara, Lodewijk Mandatjan, Manokwari, Papua Barat, Sabtu, 20 Juli 2019. Sebelumnya, 90 orang yang telah dioperasi (katarak 85 dan pterygium 5 orang) pada Jumat, 19 Juli 2019 ini telah diinformasikan untuk datang pada jam 7 - 9 pagi keesokan harinya. Beruntung, Tim Medis dan relawan Tzu Chi yang datang tepat waktu segera berinisiatif mengatur dan memulai pendaftaran.

Semua Berkat Kuasa Tuhan
Di satu sudut selasar rumah sakit, duduk di bangku urutan pertama, jari jemari tangan Martha Basna saling mengait erat. Matanya terpejam, sementara mulutnya terus berbicara pelan. Berkali-kali wanita berusia 54 tahun ini mengucap syukur kepada Tuhan. “Terima kasih Tuhan, semua berkat kuasa-Mu,” ucapnya pelan dan sangat mendalam. Rasa syukurnya semakin memuncak ketika relawan mulai melepas perban di mata kirinya. Martha dengan tangkas menjawab setiap jari yang ditunjukkan perawat. “Dua..., tiga..., lima...!” ucapnya tegas. Semakin perawat melangkah mundur, nada suaranya semakin keras. Perawat pun tersenyum. Sebuah tanda bahwa operasi katarak yang dijalani Martha Basna telah berhasil dengan baik.

 

Martha selalu berdoa agar katarak di matanya bisa hilang. Doa itu pun terwujud dengan adanya Baksos Kesehatan Tzu Chi. Martha bersyukur para dokter dan relawan Tzu Chi bisa datang ke Papua.

Dua tahun sudah Martha menunggu. Selama dua tahun ia harus hidup dan bekerja dengan sebelah mata yang tidak bisa melihat dengan sempurna. “Banyak juga yang bilang, ‘jangan kau ikut baksos (kesehatan) itu, nanti kalau gagal gimana’? Tapi saya bilang, Tuhan punya Kuasa..., saya tidak takut, Tuhan pasti jaga kita. Saya yakin pasti berhasil,” ungkapnya.

Sebagai petani, penglihatan menjadi salah satu modal utama bagi Martha dalam bekerja. “Saya menanam kol, pisang, sawi, kacang panjang dan macam-macam lagi,” ujarnya. Terlebih kini Martha adalah tulang punggung keluarga, setelah suaminya tak lagi leluasa bergerak akibat penyakit degeneratif (asam urat) yang dideritanya. “Karena itu saya berterima kasih kepada Tuhan karena telah mengirim orang-orang ini (relawan dan Tim Medis Tzu Chi) ke Papua. Mereka jauh-jauh datang dari Jakarta tidak mungkin jika tidak karena kuasa Tuhan,” kata Martha.

Dan doa Martha pun terjawab sudah. Penglihatannya kini pulih kembali. Ia pun berharap bisa bekerja lebih giat lagi. “Siap (bekerja) di kebun, siap (menjual) di pasar,” katanya dengan penuh senyum.

 

Ruben sebelumnya sempat mendengar kabar miring (gosip) tentang operasi katarak. Beruntung tekad untuk sembuh mengalahkan rasa takutnya.

Selain Martha, salah satu pasien lainnya Ruben (58) juga sempat mendengar kabar burung (gosip) serupa. Bahwa jika operasi katarak maka bola matanya akan diganti dengan mata sapi. “Tapi saya tidak percaya, saya berani saja,” kata Ruben, yang menderita katarak sejak tahun 2017. Dulu Ruben bekerja sebagai supir truk pengangkut barang-barang material. Seiring dengan kondisi kesehatan dan penglihatannya yang menurun, ia pun beralih pekerjaan, berkebun. Beruntung anak-anaknya sudah berkeluarga dan hidup mandiri.

Rasa syukur dan senang juga menghinggapi Ruben pascaoperasi katarak. “Dah senang sekarang, mata sudah dioperasi,” kata Ruben, “mata adalah penunjuk jalan saya.”

Ketua Tzu Chi Biak Susanto Pirono dan istri, Yenny The menyapa setiap pasien yang tengah menunggu hasil pemeriksaan pascaoperasi. Keduanya memberikan semangat dan motivasi kepada pasien dan keluarganya.

Wujud Nyata untuk Kemanusiaan
Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-127 ini merupakan Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-2 yang dilakukan di kota ini. Sebelumnya, tujuh tahun lalu (2012), Tzu Chi pernah mengadakan baksos kesehatan dan melayani para pasien: karatarak, pterygium, bibir sumbing, dan bedah minor. Dalam baksos kesehatan kali ini Tzu Chi memberikan pelayanan khusus penyakit mata: katarak dan pterygium. Pelaksanaan screening sebelumnya telah dilaksanakan pada tanggal 13 Juli 2019 di  RS Bhayangkara Lodewijk Mandatjan dan diikuti oleh 667 orang. Hasilnya, 256 orang dinyatakan lolos untuk dioperasi.

Kapolda Papua Barat, Brigjen Pol. Drs Herry Rudolf Nahak, M.Si dalam sambutannya pada pembukaan baksos kesehatan ini mengatakan jika penderita katarak di Papua memang sangat tinggi. Akibatnya semakin banyak masyarakat yang tidak produktif dan berdampak pada kondisi perekonomian mereka.

 

Kapolda Papua Barat, Brigjen Pol. Drs Herry Rudolf Nahak, M.Si memakaikan seragam operasi kepada salah satu dokter sebagai penanda dimulainya Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-173 di RS Bhayangkara Lodewijk Mandatjan, Manokwari, Papua Barat.

“Penyebab kebutaan terbesar di Papua adalah katarak. Persoalannya pengobatan untuk penyakit katarak di Papua Barat masih sangat minim,” kata Kapolda. Karena itulah Herry menyambut baik dan mendukung inisiatif dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang menyelenggarakan baksos kesehatan dalam rangka membantu masyarakat kurang mampu terbebas dari penyakit katarak dan pterygium. “Banyak slogan kemanusiaan, tetapi kerja nyatanya mana? Inilah bukti bahwa cinta kasih diberikan langsung kepada masyarakat Papua Barat,” tegas Brigjen Herry,”saya sangat salut dengan semangat kerja dan ketulusan relawan. Ini juga yang saya harapkan juga bisa tumbuh dalam diri anggota Polda Papua Barat."

Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-127 ini sendiri diadakan dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-73. Baksos kesehatan melibatkan kerja sama dari berbagai instansi, mulai dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Kepolisian Daerah (Polda) Papua Barat, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Barat, dan juga Kepala-kepala Puskesmas di Manokwari sebagai ujung tombak dalam menjaring pasien. “Ini wujud cinta kasih universal untuk masyarakat yang membutuhkan bantuan pengobatan,” kata Susanto Pirono, Ketua Tzu Chi Biak, “dengan bersatu hati berbuat kebajikan, salaing membantu, setiap orang saling bersatu hati, memberi tanpa membed-bedkan.Wujud cinta kasih kepada sesama.”

 

Ketua Tzu Chi Biak, Susanto Pirono menyampaikan tujuan diadakannya baksos kesehatan ini, yakni membantu masyarakat kurang mampu terbebas dari penyakitnya agar kehidupan mereka menjadi lebih baik.

Menurut Susanto, alasan lain diadakannya baksos kesehatan di Manokwari adalah karena ia melihat adanya potensi dan antusiasme yang besar dari para relawan dan calon relawan Tzu Chi di Manokwari. Dan ini perlu dilakukan pembinaan, penggalangan, dan pelatihan. ‘Seperti disampaikan oleh Ketua dan Wakil Ketua Tzu Chi Indonesia bahwa ketika mengadakan baksos kesehatan itu juga merupakan salah satu cara untuk menggalang dan membina relawan setempat untuk bergabung dalam barisan insan Tzu Chi Indonesia,” kata Susanto, yang berharap Tzu Chi bisa tumbuh dan berkembang di Manokwari. Ini sesuai dengan misi Tzu Chi yaitu memberi cinta kasih seraya menumbuhkan cinta kasih kepada sesama.

 

Lagu isyarat tangan (shou yu) Satu Keluarga diperagakan relawan Tzu Chi Biak, Manokwari, dan Jakarta sebagai bentuk pengenalan budaya humanis Tzu Chi.

Kepada para pasien yang telah berhasil dioperasi, Susanto berharap pengobatan katarak dan pterygium ini bisa mengubah kehidupan pasien dan juga keluarganya menjadi lebih baik. “Mereka yang tidak bisa atau kurang jelas melihat tentunya akan menjadi beban keluarga. Mereka tidak bisa lagi bekerja dan bahkan mungkin bergantung kepada anggota keluarga lainnya. Semoga setelah dioperasi, mereka bisa kembali bekerja dan tidak bergantung pada orang lain,” ungkap Susanto.

Artikel dibaca sebanyak : 1256 kali


Berita Terkait


Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-127 di Manokwari

24 Juli 2019

Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-112 di Jayapura

11 Mei 2016

Berbagi Berkah Melalui Baksos Kesehatan

27 Mei 2015

Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-98: Jalinan Jodoh yang Tak Pernah Putus

09 Mei 2014


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Kehidupan masa lampau seseorang tidak perlu dipermasalahkan, yang terpenting adalah bagaimana ia menjalankan kehidupannya saat ini.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat