Belajar Mencintai Bumi dan Mempraktikkannya
Jurnalis : Purwanto (Tzu Chi Tj. Balai Karimun) , Fotografer : Mie Li, Vincent (Tzu Chi Tj. Balai Karimun)Tzu Chi Tanjung Balai Karimun melakukan kegiatan rutin kelas Budi Pekerti, Minggu 10 Maret 2019. Sebanyak 29 Xiao Tai Yang mengikuti kegiatan ini.
Sudahkah kita mencintai bumi ini? Tentu itu menjadi suatu pertanyaan yang harus kita jawab bersama. Mencintai dan menyayangi bumi bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, tetapi tanggung jawab semua manusia yang ada di bumi. Kalau bumi kita sudah rusak, kita akan tinggal di mana?
Untuk menumbuhkan rasa mencintai bumi, Tzu Chi Tanjung Balai Karimun mengadakan Kelas Budi Pekerti yang bertema tentang ini, pada Minggu, 10 Maret 2019, pukul 08.30 WIB. Sebelum memulai materi, Lissa Mama sebagai pembawa acara bertanya kepada Siao Phu Sa, apa yang yang harus dilakukan untuk menjaga bumi?
Anak-anak antusias menjawab pertanyaan tersebut. “Tidak membuang sampah sembarangan, membawa botol minum saat bepergian, mengurangi penggunaan plastik,” jawab beberapa anak kelas Budi Pekerti.
Sebelum memulai kelas Budi Pekerti, siswa-siswi memberikan penghormatan kepada Master Cheng Yen sebanyak tiga kali.
“Mencintai Bumi” itulah materi yang dibawakan Dwi Papa pada kesempatan ini. “Mengapa harus menyayangi bumi? Karena bumi sedang sakit,” jawab Dwi Papa. Ia menjelaskan keadaan lingkungan di berbagai daerah di Indonesia dan beberapa negara. Di Karimun belakangan ini cuaca panas, tetapi di berbagai daerah di Pulau Jawa ada yang kebanjiran. Di Indonesia ada kekeringan, tetapi di negara lain suhunya sangat dingin bahkan ada yang sampai meninggal karena cuaca yang ekstrim tersebut. Itu merupakan contoh akibat manusia tidak menyayangi bumi dan tidak memelihara lingkungan.
Untuk memperjelas materi mencintai bumi, Dwi Papa menanyangkan video tumpukan sampah yang terjadi di laut Kepulauan Karibia. Sampah di laut ini panjangnya kurang lebih 8 kilometer. Dan setelah dipelajari, sampah ini banyak berasal dari sungai Montagua di Guatemala. Sampah-sampah di laut tersebut jelas mengganggu ekosistem di laut. Dampaknya terjadi pencemaran di perairan, daratan, maupun udara.
Sampah tersebut mengakibatkan banyak ikan atau hewan lain yang mati karena makan sampah tersebut. Sampah plastik juga mempunyai dampak yang buruk yaitu memicu perubahan iklim, mencemari lingkungan, terurainya sangat lama, dan berbahaya bagi manusia dan hewan.
Anak-anak Menempelkan Kata Perenungan yang telah dibagikan terlebih dahulu. Isi kata perenungan yang kali ini ditempelkan di buku anak-anak berbunyi “Sepasang tangan yang berkegiatan daur ulang adalah sepasang tangan yang paling indah.”
Setelah mendengarkan penjelasan menyayangi bumi, David (10) sudah mulai mengerti cara mencintai bumi. Hal yang sering ia lakukan selama ini untuk mengurangi sampah antara lain saat ke sekolah, les, jalan-jalan, main ke rumah teman, ia membawa botol minum. Selain itu ia juga sudah terbiasa membuang sampah pada tempatnya dan mengambil sampah yang bukan miliknya.
Di akhir penjelasan materi, Dwi Papa menjelaskan beberapa cara sederhana mecintai bumi dan lingkungan. Cara yang harus dilakukan yaitu belajar mengurangi sampah plastik, mengambil atau membersihkan sampah, dan mendaur ulang sampah.
Dwi Papa menjelaskan materi kelas Budi Pekerti kali ini, yakni tentang Mencintai Bumi.
Teori tanpa praktik hanya sebatas pengetahuan saja. Untuk memperjelas teori tersebut, maka dilanjutkan dengan praktik memilah sampah yang bisa didaur ulang dan tidak bisa didaur ulang di lantai pertama di Kantor Tzu Chi Karimun. Setiap kelompok diberi kesempatan untuk memilah berbagai macam sampah sesuai dengan jenisnya ke tempat yang sudah disampaikan.
Ternyata, banyak siswa-siwi kelas Budi Pekerti yang belum memahami jenis-jenis sampah tersebut. Supaya mereka dapat membedakan sampah mana yang bisa didaur ulang dan yang mana tidak, Sukirman (41) relawan daur ulang memberikan penjelasan kepada semua siswa-siswi kelas Budi Pekerti.
Sukirman Papa dari depo daur ulang menjelaskan kepada siswa-siswi sampah
mana saja yang bisa didaur ulang dan yang mana saja yang tidak bisa didaur
ulang lagi.
“Tujuan dari pemilihan sampah ini adalah anak-anak Kelas Budi Pekerti dapat mengerti mana barang yang bisa didaur ulang dan tidak bisa didaur ulang, sehingga mereka dapat mempraktikkannya di rumah dengan keluarganya” ungkap Sukirman.
Kegiatan daur ulang ini mengingatkan semua orang dengan Kata Perenungan Master Cheng Yen bahwa “Sepasang tangan yang berkegiatan daur ulang adalah sepasang tangan paling indah.”
Setelah diberikan penjelasan oleh Sukirman, seorang siswa Budi Pekerti yang bernama Ryan (10) memperoleh pengalaman yang baru. Ia dapat menjelaskan serta membedakan sampah yang bisa didaur ulang seperti botol minuman, kardus, kertas, plastik, dan kaleng. Sedangkan sampah yang tidak bisa didaur ulang antara lain styrofoam dan beberapa jenis botol minuman.
Terlihat keseriusan dari wajah salah satu siswa kelas Budi Pekerti kali
ini mengikuti pemilahan sampah.
“Kemarin saya kadang-kadang masih buang sampah sembarangan, mulai sekarang saya akan sering buang sampah pada tempatnya,” tuturnya. Selain itu ia juga menceritakan kegiatannya di sekolah tentang menjaga lingkungan. Setiap hari Sabtu, ia selalu ikut bergotong royong membersihkan kelas dan halaman sekolah. Ryan melaksanakan gotong royong tersebut dengan tidak terpaksa, tetapi dengan senang dan gembira.
Editor: Khusnul Khotimah
Artikel Terkait
Tak Kenal Maka Tak Sayang
31 Oktober 2019Tamu yang sedikit berbeda pada Kelas Budi Pekerti ini bertujuan agar anak-anak bisa langsung bersentuhan dengan dunia hewan dan berbagi kasih dengan mereka tanpa kecuali. Tentunya selain untuk lebih menyayangi hewan, mereka juga bisa berlatih kewaspadaan dan kehati-hatian saat berhadapan dengan reptil.
Belajar dari Semangat Albert
04 November 2016 Divonis dengan talasemia tidak membuat Albert, seorang anak yang tengah beranjak remaja itu menjadi putus asa. Ia malah mencoba menjadi seseorang yang penuh semangat untuk menguatkan orang-orang di sekelilingnya.Ajaran Baru, Semangat Baru
23 Juli 2014Lingkungan yang baik dapat memberikan dampak positif bagi anak, sedangkan lingkungan yang kurang baik bisa berdampak buruk bagi kepribadian anak. Melalui lembaga Tzu Chi di Tanjung Balai Karimun ini diharapkan dapat membentuk karakter anak yang baik dengan adanya pendidikan budi pekerti. Pendidikan budi pekerti harus ditanamkan sejak dini pada diri anak agar nantinya menjadi orang yang mempunyai pengetahuan yang didasari moral baik.







Sitemap