Rabu, 26 Juni 2019
Indonesia | English

Berbuat Demi Bumi, Berkarya Untuk Seluruh Makhluk

09 Januari 2009 Jurnalis : Djunarto (He Qi Timur)
Fotografer : Kurniawan (He Qi Timur)

 
foto

* Ji Shou shixiong sedang mempresentasikan tentang kerusakan bumi dan bagaimana cara kita menjaga kelestariannya kepada para ketua RT yang hadir.

Mengawali tahun 2009, tanggal 9 Januari 2009 He Qi Timur Hu Ai Kelapa Gading memulai aktivitasnya untuk menuntaskan rencana presentasi pelestarian lingkungan ke semua wilayah Kelapa Gading. Tinggal beberapa RW lagi yang perlu diperkenalkan pentingnya pelestarian lingkungan demi kehidupan yang lebih baik bagi seluruh makhluk bumi. Kehidupan modern dan serba instan saat ini seperti penggunaan kantong plastik, styrofoam, dan sumpit bambu, tanpa disadari tidak ramah bagi lingkungan.
Jam menunjukkan jam 18.30 WIB. Cuaca yang bersahabat di sekitar kantor RW 12 Kelurahan Kelapa Gading Timur dan kantor yang bersih berukuran 8 X 5 m itu membuat suasana terasa nyaman. Walaupun hari itu adalah hari kerja, seluruh ketua RT yang diundang mulai berdatangan, termasuk juga warga RW 12 yang tertarik mengikuti presentasi dari relawan Tzu Chi.

Peserta yang berjumlah sekitar 25 orang mulai menempati kursi dan memenuhi ruangan kantor RW 12. Tepat jam 19.00 WIB, Ji Shou shixiong mulai melakukan presentasi. Para peserta tampak antusias menyimak setiap presentasi yang ditayangkan serta dijelaskan seperti isu global warming, efek rumah kaca, perusakan hutan, CO2 dan gas metan, yang kesemuanya merupakan penyumbang terbesar bagi kerusakan bumi di samping pertambangan serta pembangunan yang tidak ramah lingkungan.

Jauh sebelum dunia mengkumandangkan isu mengenai global warming, Master Cheng Yen telah berinisiatif dalam penyelamatan bumi di bulan Agustus 1990 dengan semboyan “Sampah menjadi Emas, dan Emas menjadi Cinta Kasih”. ”Tujuh puluh gelas plastik air mineral dapat didaur ulang dan dibuat 1 buah selimut, yang dipergunakan untuk dibagikan kepada warga seluruh dunia yang membutuhkan saat darurat bencana,” terang Ji Shou. Ia menambahkan, ”Rumah Sakit Cuci Darah di Penang dimana tempat saya tinggal, semuanya dibiayai oleh sampah daur ulang dan pasien tidak dipungut biaya atau gratis”.

foto  

Ket : - Seorang peserta yang mewakili generasi tua mengutarakan kerisauannya terhadap kerusakan bumi dan
           menanyakan bagaimana kesadaran generasi muda tentang hal ini?

Sesudah semua peserta menyimak apa yang dipresentasikan, pada sesi tanya jawab Ketua RW 12 bertanya, “Pak, bilamana saya yang sudah berumur ini melakukan kegiatan penyelamatan bumi ini, dikhawatirkan generasi di bawah saya, dalam hal ini generasi anak-anak tidak paham dan melakukan kegiatan yang makin merusak bumi. Hal ini membuat kegalauan dalam hati saya. Sudah pernahkah relawan Tzu Chi memperkenalkan penyelamatan lingkungan melalui program daur ulang sampah kepada anak-anak mulai dari tingkat SD sampai SMA?” Warno, Kepala Posko Daur Ulang Kelapa Gading menjawab, “Penyelamatan lingkungan melalui program daur ulang telah diperkenalkan ke lingkungan sekolah walaupun agak kesulitan karena perlu mengurus ijin ke Depdiknas. Kami mengajak Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu yang hadir di sini, untuk berpartisipasi aktif dengan memulai dari lingkungannya dulu. Sampah yang bisa didaur ulang dikumpulkan kemudian diserahkan ke pemulung atau ke Tzu Chi. Setiap tanggal 9 dan 15, mobil daur ulang Tzu Chi berkeliling RW 12 untuk mengambil sampah daur ulang, sehingga sampah tersebut tidak dibuang sembarangan yang pada akhirnya dapat mencemari lingkungan. Kalau lingkungan tempat tinggal kita bersih maka dapat menjadi contoh untuk lingkungan yang lain termasuk kepada generasi muda.”

foto

Ket : - Warno menjelaskan kepada peserta bahwa sebaiknya menjaga lingkungan dimulai dari lingkungan yang
           terdekat yaitu rumah tempat tinggal dan sekitarnya.

Apa yang diungkapkan Ketua RW 12 ini mewakili generasi tua yang sudah menampakkan kerisauan dan kegalauan hati akan rusaknya bumi kita yang tercinta, tempat dimana kita berpijak, berkarya. Kapan lagi kita mau memulai kalau tidak dari sekarang?

 

Artikel dibaca sebanyak : 1339 kali


Berita Terkait


Memegang Teguh Semangat Dokter Humanis

25 Juni 2019

Memupuk Kebiasaan Baik Melalui Celengan Bambu

24 Juni 2019

Banjir Konawe: Cobaan Berat Bagi Asriani dan Keluarga

21 Juni 2019

Memberi Perhatian Kepada Para Lansia

20 Juni 2019

Banjir Konawe: Menenteramkan Batin Para Pengungsi

20 Juni 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Bila kita selalu berbaik hati, maka setiap hari adalah hari yang baik.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat