Sabtu, 15 Desember 2018
Indonesia | English

Hari Ibu yang Dirayakan Anak Asuh Tim Teratai

04 Desember 2018 Jurnalis : Rosy Velly Salim (He Qi Pusat)
Fotografer : Menhao (He Qi Pusat)


Isyarat tangan berjudul Xing Fu De Lian (Wajah yang bahagia) dibawakan oleh relawan Tzu Chi di He Qi Pusat dalam gathering anak asuh Tzu Chi.

Relawan Tzu Chi di Komunitas He Qi Pusat setiap bulan di Minggu pertama mengadakan pertemuan dengan Anak-anak asuh Tim Teratai. Pertemuan ini biasa digelar di Kantor He Qi Pusat, di ITC Mangga Dua lantai 6, Jakarta Utara. Pada bulan Desember ini, pertemuan anak asuh jatuh pada Minggu, 2 Desember 2018. Sebanyak 73 orang, terdiri dari 45 anak asuh dan 28 wali anak asuh menghadiri pertemuan yang kali ini juga merayakan Hari Bakti atau Hari Ibu.

Perayaan Hari Ibu pada tahun ini mengangkat tema ”Keluarga Harmonis dan Bahagia”. Yang membedakan perayaan Hari Bakti atau Hari Ibu kali ini adalah adanya persembahan berupa kue Onde. Menurut Rina M. Astuti, selaku koordinator acara, Onde mempunyai filosofi, bulatnya Onde bagaikan keluarga yang utuh. Kuahnya yang manis bagaikan keharmonisan keluarga, dan warna onde ada putih, merah, hijau melambangkan warna-warni kehidupan.

Semua peserta yakni dari para Gan En Hu, anak asuh Tim Teratai mengikuti rangkaian acara dengan gembira. Salah satunya adalah permainan keakraban orang tua dan anak dengan menjaga agar balon tidak jatuh ke lantai. Permainan ini dilakukan oleh dua orang yang saling mendekapkan balon di dada, lalu mengantarkan balon ke tempat tujuan.

Rasa haru dan tangis terjadi ketika berlangsung prosesi hari bakti dengan basuh, lap kaki orang tua oleh anak. Anak-anak juga berkesempatan untuk menunjukkan rasa sayangnya dengan memberikan suapan onde, dan memberikan pelukan kepada orang tuanya serta memberikan lukisan. 


Yudha mengungkapkan kasihnya dengan membasuh dan melap kaki ayahnya.

“Saya bangga kepada Simon ini. Meskipun ia anak satu satunya laki di keluarga saya, ia selalu perhatikan saya kalau saya sakit, kalau pulang kerja,” tutur Srimartini, ibunda dari Michael Simon.

“Mama sudah makan?, sudah minum? Jika saya sakit, ia pijitin dan ingatkan saya minum obat” tambah Srimartini, ketika sesi sharing orang tua.

Srimartini sehari hari bekerja sebagai tukang sapu untuk menghidupi ketiga anaknya. Isak tangis Michael pecah. Ia merasakan dan teringat pengorbanan dan cinta kasih ibunya.

Simon sendiri saat ini duduk di bangku kelas 5 SD dan bercita-cita menjadi dokter. Untuk menggapai cita-cita itu, Simon rajin belajar untuk nantinya bisa masuk Jurusan IPA dan kuliah di kedokteran.

“Semoga anak saya bisa maju dan tercapai cita citanya. Terimakasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi karena sudah bantu masalah kami, dalam SPP, menanamkan kemandirian, keberanian dan juga penampilan,” ujar Srimartini.

“Terima kasih kepada mama yang sudah menjagaku, perhatiin dan menyekolahkanku,” ujar Simon.


Srimartimi bersama Michael Simon sedang mengutarakan isi hatinya saat sesi sharing.

Suasana penuh keharuan berganti menjadi sukacita karena anak-anak sudah menunjukkan hormat dan bakti yang membuat orang tua mereka bahagia saat itu. Diharapkan anak-anak asuh terbiasa mengungkapkan rasa sayangnya pada orang tua mereka di tiap kesempatan.

Alunan lagu dan gerakan isyarat tangan berjudul Xing Fu De Lian (Wajah yang bahagia) dibawakan oleh tim isyarat tangan relawan Tzu Chi. Mereka juga mengajak semua yang hadir turut bersama memberikan senyuman, dan raut wajah yang bahagia pun terpancar dalam suasana kekeluargaan.  

Yudha, anak asuh penyandang difabel juga autis turut dalam memperagakan isyarat tangan. “Tiga tahun belakangan ini, sistem motorik dan keterampilannya meningkat. Berkat bimbingan relawan dari yang tadinya ia cuek saja sekarang lebih bisa peduli, mengerti dan lebih fokus. Ia bangun pagi sendiri, mencuci piring, menyapu di rumah, mengerjakan PR sendiri. Saya sangat bersyukur dan berterimakasih karena itu sangat berarti,” ungkap Sudaksono (55), ayah dari Yudha.

Bekerja sebagai tukang ojek dan merawat sang istri yang sakit stroke, serta mengurus pekerjaan rumah tadinya dikerjakan sendiri oleh Sudaksono. Namnun sekarang Yudha bisa membantunya mengurus rumah. Terinspirasi dari Kata Perenungan Master Cheng Yen, yakni berbakti kepada orang tua dan berbuat kebaikan menyemangati Yudha menjalani kehidupan.

Di sela acara, ditayangkan juga drama Sutra Bakti Seorang Anak yang bertujuan mengajak semua peserta menyelami kebaikan dan kasih yang mendalam dari orang tua. Anak-anak lalu diajak menyanyikan bersama lagu Dang Ni Lao Le atau Ketika Engkau Sudah Tua.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 302 kali


Berita Terkait


Waisak Tzu Chi 2018: Kerja Sama Dalam Kemanusiaan

14 Mei 2018

Tanda Cinta untuk Ibuku Tersayang

27 Desember 2017

Menjadi Orang Tua Teladan yang Berbakti Pada Orang Tua

18 Desember 2017

Membingkai Budi Pekerti Pada Anak

07 Desember 2017

Kasih Ibu, Luas dan Dalam

23 Mei 2017


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Keharmonisan organisasi tercermin dari tutur kata dan perilaku yang lembut dari setiap anggota.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat