Rabu, 21 Agustus 2019
Indonesia | English

Menghargai Jalinan Jodoh Baik

24 Juli 2018 Jurnalis : Riani Purnamasari (He Qi Barat 1)
Fotografer : Riani Purnamasari, Reza Rezaie (He Qi Barat 1)

Dalam ceramahnya, Master Cheng Yen terus mengingatkan para relawan bahwa setiap orang tidak tahu seberapa panjang kehidupannya masing-masing. Karena itu, kita harus memanfaatkan waktu untuk mengembangkan kebijaksanaan. Kita harus membentangkan sebuah jalan yang benar untuk kehidupan ini dan kehidupan mendatang.

Menjalin jodoh dengan Tzu Chi sejak awal 2017, seorang dokter TIMA bernama dokter Prawira adalah seorang dokter muda yang bersungguh hati bersumbangsih menjadi relawan medis Tzu Chi. “Dalam satu bulan, saya memang mendedikasikan waktu saya beberapa kali mengikuti bakti sosial komunitas relawan Tzu Chi,” ujarnya.


Dokter Prawira yang merupakan anggota TIMA sejak 2017 mendedikasikan waktunya untuk terus bersumbangsih menjadi relawan baksos Tzu Chi.

Dokter Prawira menjalankan profesi dokternya sejak 2009. Ia yang terpanggil hatinya untuk menjadi relawan dan berbakti kepada kemanusiaan, mengenal Tzu Chi melalui kawan seprofesinya, yaitu dokter Williana yang juga merupakan anggota TIMA. Menjadi seorang dokter, memahami pasien dengan berbagai keluhan dan penderitaan, sudah menjadi makanan sehari-hari. Dokter Prawira mengasah hatinya untuk tetap hangat dan memberikan cinta kasihnya kepada setiap pasiennya. Ia pun mengungkapkan kekagumannya kepada Master Cheng Yen.

“Visi Master Cheng Yen begitu baik. Master Cheng Yen hebat sekali bisa mengajak para relawan menyebarkan cinta kasih dan welas asih. Mengajak para relawan untuk menjadi manusia yang baik dan melayani sesama yang membutuhkan. Saya sangat senang bisa menjadi salah satu relawannya,” Dokter Prawira menuturkan.


Aroi Firmansyah yang sudah lama gigi atasnya double layer.

Kehadiran para relawan Tzu Chi di tengah masyarakat menumbuhkan rasa syukur dari para peserta baksos. Hari Minggu 22 Juli 2018, sejak pukul 05.00 para relawan sudah mulai melakukan perjalanan dari Komplek Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng menuju sebuah SD bernama SDN 1 Muara yang bersedia menjadikan sekolahnya sebagai tempat kegiatan bakti sosial kesehatan umum dan gigi. Sejumlah 110 orang relawan turut menjalin jodoh yang baik dengan 184 pasien pengobatan gigi dan 545 pasien pengobatan umum.

Beberapa relawan adalah anak-anak pengungsi penerima bantuan dari Tzu Chi seperti Reza, Arman, Joia dan Haidari. Dengan menjalin jodoh yang baik dengan para relawan lainnya di Tzu Chi, mereka juga berpartisipasi mengambil bagian dengan bersumbangsih menjadi relawan pada kegiatan komunitas. Bersekolah di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi, salah seorang gurunya yaitu Laoshi Adi (mengajar bahasa Mandarin) mengajak mereka untuk menjadi relawan pada bakti sosial ini.

Setiap ladang berkah ada yang menggarap, Setiap orang memiliki ladang berkah


Reza dan Joia membantu tim apotik untuk memastikan obat masuk dan keluar dengan benar.

Setiap orang memiliki peran masing-masing dalam bersumbangsih. Arman yang pertama dipilih oleh para relawan ruang gigi untuk membantu pencucian steril alat-alat pemeriksaan gigi. Pos ini adalah yang terakhir memulai pekerjaannya. Karena setiap pasien diperiksa dengan teliti oleh dua dokter gigi, awal adalah screening penentuan cabut atau tambal, dan di dalam ruang pemeriksaan, dokter gigi sudah menunggu untuk memberikan pelayanan kesehatan cabut dan tambal gigi yang baik.

Salah satunya adalah pasien anak bernama Aroi Firmansyah. Ia adalah anak berusia 6 tahun yang menangis sepanjang duduk di tempat pemeriksaan. Karena posisi gigi atasnya yang double (2 layer) yang mana bagian depan terdapat 4 gigi seri dan persis di belakangnya terdapat 2 gigi dewasa yang mulai tumbuh. Sang ayah sangat berterima kasih kepada Tzu Chi yang telah hadir di tengah desa mereka dan memberikan jawaban atas masalah kesehatan anaknya.


Haidari membantu di pendaftaran untuk menghitung jumlah peserta yang hadir.

“Di sini puskesmas jauh dari rumah saya. Dan puskesmas jarang sekali ada dokter gigi yang praktik. Maka saya sangat berterima kasih kepada Tzu Chi dengan adanya baksos ini. Anak saya sering nyeri kepala akibat dari giginya yang bertumpuk. Sekarang sudah dicabut 4 giginya dan semoga sembuh dan tidak nyeri lagi,” ujar Rubiyansyah, ayah dari Aroi Firmansyah.

Sampai dengan pukul 12.00, pasien masih berdatangan dan Haidari yang membantu di bagian pendaftaran merasa cukup kewalahan. Dengan bahasa Indonesia yang belum terlalu lancar, Haidari tetap berusaha membantu para relawan untuk melakukan penghitungan pasien yang masuk ke ruang tunggu dokter. Namun pos paling terakhir yang selesai adalah apotek. Reza dan Joia membantu para relawan untuk memastikan resep masuk dan keluar dengan benar. Mereka bekerja sama untuk mempercepat waktu pelayanan agar pasien tidak terlalu lama menunggu.


Arman bertugas mencuci alat gigi.

“Kami merasa berbahagia bisa ikut menjadi relawan Tzu Chi untuk melayani pasien baksos. Semoga jalinan jodoh yang baik ini dapat terus menjadikan saya menyadari berkah yang saya terima di dunia ini dan bisa terus bersumbangsih di Tzu Chi,” ujar Reza dan Arman.

Selepas makan siang dan baksos pun selesai, para relawan bergotong royong membereskan lokasi baksos, baik dalam ruangan maupun luar ruangan. Semua logistik dimasukkan ke dalam truk yayasan. Semua kursi dan meja dikembalikan ke tempat semula. Dan semua relawan pulang dengan membawa kebahagiaan di dalam hati. Seiring berlalunya waktu, kita harus menumbuhkan jiwa kebijaksanaan agar kita senantiasa merasa bahagia dan dipenuhi sukacita dalam Dharma.


Joia membantu tim logistik setelah baksos selesai.


Para relawan bekerja sama membereskan tenda-tenda Tzu Chi setelah baksos selesai.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 583 kali


Berita Terkait


Layanan Kesehatan di Pondok Pesantren

12 Maret 2019

Membuka Harapan Baru di Sintang

17 Desember 2018

Perhatian dan Layanan Kesehatan Bagi Lansia

14 November 2018

Berbagi di Panti Asuhan Yayasan Kasih Mandiri Bersinar

17 September 2018

Bahagianya Bisa Kembali Melihat Sanak Keluarga

30 Agustus 2018


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Kesuksesan terbesar dalam kehidupan manusia adalah bisa bangkit kembali dari kegagalan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat