Peresmian Sekolah Terpadu Cinta Kasih Tzu Chi

Jurnalis : Ivana, Fotografer : Anand Yahya
 
foto

* Monumen Cinta Kasih Di Jetis

Sekitar 500 undangan duduk di bawah tenda dan menanti dengan sabar. Sementara di atas panggung, 20 siswi SMAN I Jetis menyanyikan lagu Bagimu Negeri dan Melati di Tapal Batas dengan suara lantang. Ratusan siswa-siswi SDN I Jetis dan SMPN I Jetis dengan serius belajar dalam ruang kelas mereka yang baru, dalam gedung sekolah yang dibangun pascagempa lebih dari setahun lalu, yang peresmiannya akan dilakukan hari ini. Seluruh hadirin tengah menanti kedatangan Gubernur DIY Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X, untuk melakukan peresmian.

Rangkaian acara peresmian dimulai tepat pukul 12.00 setelah Sultan HB X tiba di halaman bangunan baru SDN I Jetis dan SMPN I Jetis. Gedung sekolah yang bertempat di Desa Sumberagung, Kec. Jetis, Kab. Bantul ini mulai dibangun sejak 14 November 2006, sekitar 6 bulan setelah gempa yang meruntuhkan berbagai bangunan di daerah Bantul termasuk sarana-prasarana pendidikan pada tanggal 27 Mei 2006 lalu. Selain itu dilakukan pula renovasi untuk gedung SMAN I Jetis yang juga mengalami kerusakan. Sudah seminggu tepatnya sejak dimulai tahun ajaran 2007/2008, para siswa dapat pindah dari tenda ataupun gubuk sementara yang mereka gunakan sebagai pengganti gedung sekolah yang rusak pascagempa. Sekolah yang baru dibangun ini memiliki konsep sekolah terpadu dari tingkat SD sampai SMA, dengan nama Sekolah Terpadu Cinta Kasih Tzu Chi. Ada 5 sekolah yang tergabung dalam sekolah berpadu ini yaitu SDN Jonggalan, SDN Trimulyo, SDN I Jetis, SMPN I Jetis, dan SMAN I Jetis.

Acara peresmian hampir seluruhnya diisi dengan penampilan dari para siswa. Penampilan itu meliputi tari tradisional, paduan suara, pembacaan puisi, dan peragaan isyarat tangan 'yang baru 2 hari ini mereka pelajari' lagu-lagu Tzu Chi. "Kami merasa bersyukur atas dukungan Pemerintah Daerah DIY serta instansi pendidikan setempat, demikian juga jerih payah relawan Tzu Chi Indonesia sehingga proyek pembangunan kembali gedung sekolah bisa lancar. Sekolah baru ini dibangun dengan memadukan cinta kasih dari berbagai tempat, dirancang dengan sangat cermat, dengan pondasi yang kokoh, bentuk tampilan yang indah nan megah," demikian disampaikan Sugianto Kusuma, mewakili Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.

Sultan HB X yang dalam sambutannya mengaku lebih berbahagia menghadiri peresmian gedung sekolah dibanding peresmian gedung bank, sebab membangun gedung sekolah merupakan investasi Sumber Daya Manusia, menyatakan, "Dengan pembangunan Sekolah Terpadu Cinta Kasih Tzu Chi yang menggabungkan 3 sekolah dasar negeri, 1 SMP negeri, dan 1 SMA negeri di Jetis, Bantul ini sesungguhnya suatu rintisan rayonisasi pendidikan wajib belajar 12 tahun dalam satu kesatuan pendidikan yang terus secara terpadu." Beliau bahkan menyatakan bahwa konsep ini perlu menjadi percontohan bagi pendidikan di daerah lainnya, sebab dapat memotong pengeluaran uang pangkal yang sesungguhnya tidak perlu ketika seorang siswa akan melanjutkan dari jenjang SD ke SMP, dan dari jenjang SMP ke SMA.

foto  

Gempa yang terjadi setahun lalu telah mengakibatkan sekitar 1.300 fasilitas pendidikan di DI Yogyakarta rusak berat, namun saat ini sekitar 80% telah berhasil dipulihkan. Pemerintah Propinsi menargetkan bahwa hingga akhir tahun 2007 ini, seluruh kerusakan secara fisik dapat dipulihkan secara total sebelum selanjutnya berkonsentrasi pada pemulihan nonfisik seperti bidang ekonomi. Terhadap Tzu Chi, Sultan HB X mengibaratkannya sebagai sebuah samudera yang luas yang mampu menampung semua aliran anak sungai sehingga dapat menggabungkan banyak orang dari latar belakang yang berbeda. Beliau menambahkan bahwa setiap perbuatan yang berlandaskan semangat kemanusiaan memang sudah seharusnya dilakukan dengan manajemen yang baik.

Ketika benang merah ditarik dan selubung merah penutup papan nama sekolah terlepas, maka Sekolah Terpadu Cinta Kasih Tzu Chi secara resmi beroperasi. Peresmian ini dilengkapi pula dengan penandatanganan prasasti oleh Sultan HB X dan Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Liu Su Mei. Sekolah yang dibangun di atas lahan seluas 45.731 meter persegi itu memiliki 48 ruang kelas dan mampu menampung 2.000 siswa. Selain itu dilengkapi pula dengan masjid, fasilitas lapangan olahraga, kantin, perpustakaan, dan ruang-ruang kegiatan untuk siswa.

Di balik terselesainya Proyek Harapan Cinta Kasih Tzu Chi di Yogyakarta tidak lepas dari kerja keras Frananto Hidayat, Koordinator relawan Tzu Chi di Yogyakarta. "Saya bersyukur semuanya bisa berjalan lancar sesuai rencana. Karena bagi saya kerja kemanusiaan ini membawa beban moril tersendiri," ujarnya. Untuk selanjutnya ia menyatakan masih perlu proses untuk menanamkan budaya yang baik dalam diri para siswa agar mereka mempunyai rasa ikut memiliki sekolah serta memiliki kebiasaan hidup yang lebih baik.

 

Artikel Terkait

Kamp 4 in 1 2017: Melatih Diri, Menenangkan Batin

Kamp 4 in 1 2017: Melatih Diri, Menenangkan Batin

18 September 2017
Jika sehari-harinya relawan Tzu Chi terus bergerak bersumbangsih membantu orang lain yang membutuhkan, maka ada kalanya mereka memerlukan waktu sejenak untuk recharge batin dengan menyelami Dharma Master Cheng Yen. Pelatihan yang diadakan selama dua hari (16-17 September 2017) ini mengusung tema “Sutra Makna Tanpa Batas.”
Rumah Sakit Cinta Kasih Mengedukasi Pasien dan Keluarganya

Rumah Sakit Cinta Kasih Mengedukasi Pasien dan Keluarganya

21 Maret 2017

Sebagai sarana edukasi bagi masyarakat khususnya untuk pasien dan keluarganya, Rumah Sakit Cinta Kasih Tzu Chi (RSCK) Cengkareng mengadakan penyuluhan kesehatan di lingkungan RSCK. Penyuluhan yang diadakan selama tiga hari, pada 16, 17, dan 20 Maret 2017 tersebut diisi dengan materi mengenai bagaimana cara menjaga diri (kesehatan) di lingkungan rumah sakit.

Natal yang Istimewa di SLB Kasih Bunda

Natal yang Istimewa di SLB Kasih Bunda

22 Desember 2023

Tak terasa sudah lima tahun berturut-turut, relawan Tzu Chi di Hu Ai Jembatan Lima meramaikan perayaan Natal di SLB Kasih Bunda. Kali ini temanya adalah Natal yang Istimewa.

Ada tiga "tiada" di dunia ini, tiada orang yang tidak saya cintai, tiada orang yang tidak saya percayai, tiada orang yang tidak saya maafkan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -