Senin, 18 November 2019
Indonesia | English

Surat Duka Cita Master Cheng Yen Setelah Ledakan Gas di Kaohsiung

14 Agustus 2014 Jurnalis : Shih Cheng Yen
Fotografer : Chung Hui-Jeng

Di malam yang larut pada tanggal 31 Juli, di Kota Kaohsiung, terjadi ledakan gas yang meluluhlantakan. Ledakan terjadi pada tengah malam dan menyebabkan api yang hebat sehingga menyebabkan warga diguncang ketakutan dan kecemasan. Menurut informasi terakhir, lebih dari 20 orang kehilangan nyawa dan lebih dari 280 terluka.

Hidup tidak kekal. Insan Tzu Chi di Kaohsiung baru saja menyelesaikan pekerjaan darurat setelah kecelakaan pesawat TransAsia Airlines di Penghu. Mereka bergegas kembali bekerja segera setelah ledakan gas terjadi. Pada tanggal 1 Agustus dini hari, para relawan dibagi dalam grup dan mengunjungi 16 rumah sakit di kota untuk menenangkan batin para korban luka dan keluarga mereka. Mereka juga mengunjungi rumah duka untuk memberikan ketenangan kepada kerabat korban meninggal dan mereka menlantunkan doa Buddhis. Kemudian mereka membangun pusat layanan yang menyediakan teh dan layanan kesehatan. Pada hari pertama, mereka menyajikan 5.362 porsi makanan hangat.

Setelah ledakan, Master Cheng Yen memberikan perhatian besar pada kejadian ini. Master Cheng Yen merasa sangat sedih dan cemas. Master Cheng Yen juga mengimbau seluruh relawan agar tidak hanya memberikan ketenangan batin kepada korban tetapi juga untuk berhati-hati dan memperhatikan keselamatan mereka. Berjaga-jaga terhadap bencana yang menimpa dunia, Master Cheng Yen mendoakan agar semua orang menjadikan ketakutan mereka sebagai berkah dan luka mereka sebagai cinta kasih. Mari kita bekerja bersama, mendukung satu sama lain dan berdoa untuk dunia tanpa bencana.

Berikut adalah naskah utuh surat Master Cheng Yen
Dunia tidak kekal, daratan itu rapuh. Di malam hari tanggal 31 Juli, waktu Taiwan, terjadi ledakan gas besar di Kaohsiung. Keesokannya, lebih dari 20 orang kehilangan nyawanya dan lebih dari 280 orang terluka. Banyak rumah yang hancur. Menghadapi tragedi ini, saya merasakan kesedihan yang mendalam.

Segera setelah kejadian, seluruh relawan Tzu Chi di distrik Kaohsiung dikerahkan dan mulai bekerja untuk menenangkan batin mereka yang membutuhkan. Kami di Hualien mendirikan pusat komando dan mengumpulkan informasi melalui internet. Saya menganggap bahwa seluruh umat manusia di dunia seperti anggota keluarga saya sendiri. Duka yang saya rasakan di hati sulit saya ungkapkan dengan kata-kata. Tidak ada yang pasti dalam kehidupan. Relawan-relawan kami baru saja menyelesaikan bantuan untuk korban pesawat TransAsia Airways di Penghu – sekarang ledakan yang mengerikan terjadi. Ledakan itu memengaruhi daerah seluas tiga kilometer persegi dan menyebarkan teror dan kepanikan di antara warga yang tinggal di sana. Saya berbagi perasaan anda.

Sebelum ledakan, ada berita mengenai kebocoran gas. Banyak polisi dan pemadam kebakaran menuju lokasi untuk menanggapinya; menutup lokasi berbahaya. Mereka datang ke tempat yang paling berbahaya, dengan harapan mencegah kecelakaan. Tetapi ledakan terjadi satu per satu. Para polisi dan pemadam kebakaran di garda terdepan menanggung akibat dari ledakan – banyak dari mereka yang meninggal dan terluka. Saya merasa berempati untuk mereka; mereka meninggal saat menjalankan tanggung jawab; menjaga keselamatan dan keamanan publik. Saya memberikan penghormatan terdalam untuk mereka.

Saya juga berterima kasih kepada Insan Tzu Chi di Kaohsiung. Segera setelah mendengar berita, mereka segera bergerak. Mereka berjaga di dekat keluarga korban yang terluka dan meninggal dan memperlakukan mereka seperti keluarga mereka sendiri. Ledakan terjadi pada tengah malam; para anggota dibagi dalam beberapa tim dan pergi ke lokasi, rumah sakit, dan tempat lainnya. Mereka menunjukkan cinta kasih, merangkul setiap anggota keluarga yang sedang berjuang dengan penderitaan dan duka mereka. Pada pukul 03.30 keesokan harinya, insan Tzu Chi menyajikan makanan hangat dan teh untuk tim penyelamat, korban luka dan keluarga mereka. Ketika saya melihat mereka mengerjakan ini dengan kepedulian dan perhatian serta tim medis menuju lokasi bencana untuk memantau kesehatan semua orang, saya merasa sangat bersyukur dari hati sayang yang paling dalam.

Saya tidak bisa hadir di sana tetapi saya berterima kasih kepada relawan Tzu Chi yang bergerak dengan semangat “menuju ke garis terdepan dan mendampingi masyarakat hingga saat terakhir” dalam cinta kasih. Mereka menenangkan batin yang terluka. Hari ini anggota Tzu Chi memberikan hati yang penuh ketulusan dan dengan kedua tangan menawarkan penghiburan yang tulus. Seluruh shifu dari Aula Jing Si sedang berdoa bersama anggota Tzu Chi di seluruh dunia dengan hati yang tulus dan memohon berkat dan semoga kalian dapat kembali kehidupan seperti biasa sesegera mungkin. Kami berdoa semoga kecemasan semua orang dapat berubah menjadi berkat, dan luka mereka menjadi cinta kasih. Mari bekerja bersama, dukung satu sama lain dan berdoa untuk dunia tanpa bencana.

Sumber: www.tzuchi.or.id, Diterjemahkan oleh: Willy

Artikel dibaca sebanyak : 1330 kali


Berita Terkait


Berita Internasional: Cinta Kasih Lintas Benua untuk Afrika

24 Juni 2019

Berita Internasional: Bantuan Keuangan untuk Puluhan Mahasiswa Yaman di Istanbul

22 Januari 2019

Berita Internasional: Master Cheng Yen Terima Gelar Doktor Kehormatan

17 Januari 2019

Berita Internasional: Sekolah untuk Anak-anak Suriah di Istanbul Menjadi Sekolah Resmi

14 Desember 2018

Berita Internasional: Tzu Chi Memasang Sistem Penyaringan Air di Laos

12 September 2018


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Bekerja untuk hidup sangatlah menderita; hidup untuk bekerja amatlah menyenangkan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat