Kamis, 15 November 2018
Indonesia | English

Waisak 2557: Waisak Hari Cinta Kasih di Dunia

13 Mei 2013 Jurnalis : Apriyanto, Yuliati
Fotografer : Anand Yahya, Hansen Hioe (He Qi Pusat), Stephen Ang (He Qi Utara), Widosari Tjandra (He Qi Selatan)

 

 

foto
Beberapa biksu dari berbagai sekte di agama Buddha bersama-sama menjalani prosesi pemandian Rupang Buddha dalam perayaan Waisak Tzu Chi.

Setiap tahun umat Buddha di seluruh dunia selalu merayakan Hari Waisak guna memperingati tiga peristiwa penting, yaitu Kelahiran Bodhisatwa Siddhartha Gautama, Siddhartha Gautamamencapai Kebuddhan, dan wafatnya Buddha Gautama. Tak terkecuali dengan insan Tzu Chi. Menjelang Waisak, insan Tzu Chi di berbagai pelosok dunia merayakan Waisak dengan bentuk yang khas – memperingati budi besar Buddha, budi seorang ibu, dan budi semua makhluk.

Namun yang membuatnya unik adalah tata cara Waisak di Tzu Chi yang dijalankan dengan begitu terbuka atas dasar filosofi cinta kasih yang universal. Hal inilah yang membuat Waisak Tzu Chi di Indonesia bisa dihadiri oleh banyak kalangan dari berbagai agama dan golongan.

Minggu 12 Mei 2013, bertempat di Tzu Chi Center Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, insan Tzu Chi Indonesia kembali merayakan Waisak dengan meriah dan khidmat. Hari itu sebanyak 3.500 undangan datang dari berbagai golongan dan agama. Mereka semua berkumpul dan bersatu hati mengikuti prosesi pemandian Rupang Buddha dengan tertib dan indah. Saat perayaan Waisak tiba dan prosesi pemandian Rupang Buddha berlangsung, para peserta berjalan khidmat dalam sebuah barisan yang rapi menuju altar Buddha yang berasap tipis di atas kolam kecil berair wangi. Di depan altar berhiaskan Rupang Buddha kristal ini para peserta secara bergantian membungkukkan badan menyentuh air wangi dan menangkupkan tangan di depan dada.  

Pesan yang Baik dan Universal
Bahkan para biksu yang hadir di perayaan hari itu pun berasal dari berbagai sekte di agama Buddha. Bhante Khanit Sannano dari sekte Theravada mengatakan Waisak yang diadakan Tzu Chi memiliki pesan yang baik dan universal. Ia menerangkan kalau keunikan dari Waisak yang diadakan oleh Tzu Chi adalah ritualnya yang sederhana namun penuh makna cinta kasih “Hari ini, hari Waisak, kita ambil sebagai simbol hari cinta kasih di dunia. Maka di hari cinta kasih dunia ini marilah kita kumpulkan umat dari berbagai kalangan untuk mengikuti kegiatan bersama. Agama apa pun boleh datang ke Waisak, karena hari ini adalah hari cinta kasih,” terang Bhante Khanit.

foto  foto

Keterangan :

  • Rupang Buddha berbentuk kristal terletak berjejer di meja bundar berair wangi. Para relawan dan peserta berjalan perlahan ke altar untuk mengikuti prosesi pemandian Rupang Buddha (kiri).
  • Bhante Khanit Sannano (kanan) baru pertama kali mengikuti Waisak Tzu Chi. Ia sangat terkesan dengan acara yang diadakan oleh relawan Tzu Chi yang penuh kebersamaan (kanan).

Lebih lanjut Bhante Khanit mengharapkan agar umat Buddha di Indonesia bisa merenungkan makna Waisak di dalam diri masing-masing. Perenungan itu maksudnya adalah menumbuhkan cinta kasih bagi diri sendiri semoga terbebas dari kebencian. Dengan cinta pada diri sendiri tentu akhirnya seseorang tak lagi memiliki niat jahat kepada orang lain.

Bhante Dharmavimala selaku Mahanayaka Sangha Agung Indonesia juga menerangkan kalau Kekuatan pikiran baik dari semua yang hadir di acara Waisak hari itu dapat memberikan kedamaian bagi semua makhluk. Menurutnya yang lebih penting dari kegiatan itu adalah bisa membersihkan noda-noda batin setiap peserta yang hadir.

foto  foto

Keterangan :

  • Bhante Dharmavimala selaku Mahanayaka Sangha Agung Indonesia, berharap umat yang hadir bisa melakukan perenungan diri (kiri).
  • Menurut Biksu Long Shan, makna sesungguhnya memandikan Rupang Buddha adalah membersihkan diri sendiri (kanan).

Bhante Dharmavimala juga menambahkan kalau Master Cheng Yen pendiri dari Yayasan Buddha Tzu Chi merupakan tokoh yang luar biasa, yang besar pengaruhanya bagi orang banyak untuk melakukan hal baik sesuai dengan ajaran Buddha. “Kita ketahui banyak orang yang akhirnya bisa berada di jalan Dharma, bisa mengabdikan diri di kemanusiaan,” katanya.

Memandikan Rupang Buddha
Selain mengumpulkan cinta kasih, Waisak yang diadakan oleh Tzu Chi juga memiliki makna pembersihan diri. Hal ini disimbolkan dengan memandikan Rupang Buddha yang ada di depan altar. Menurut Biksu Long Shan, Ketua Caitya Maha Gridjakuta, awal dari tradisi memandikan Rupang Buddha muncul ketika Bodhisatwa Siddhartha Gautama lahir di dunia langsung dimandikan oleh para Dewa-Dewi dari surgawi sebagai sebagai tanda syukur bahwa calon Buddha hadir di dunia ini. Dan peristiwa ini pun akhirnya menjadi tradisi bagi umat Buddha di seluruh dunia dalam memperingati Hari Raya Waisak.

foto  foto

Keterangan :

  • Sebanyak 960 orang relawan Tzu Chi bersatu membentuk formasi daun Bodhi (kiri).
  • Para peserta bersiap-siap mengikuti prosesi Waisak sejak pukul 5 sore (kanan).

Menurut Biksu Long Shan memandikan Rupang Buddha melambangkan pembersihan tubuh Sang Buddha. Setelah seseorang membersihkan tubuh Sang Buddha, artinya orang itu juga telah membersihkan diri sendiri dari segala noda di masa lalu. Makna terpenting lagi adalah memandikan Rupang Buddha di depan altar bermakna sadar. “Belajar sadar bahwa sebagai simbolisasi mau menyucikan diri kita. Secara tidak langsung kita membersihkan diri kita. Kalau bisa membersihkan diri kita maka kita bisa mencapai kesadaran seperti Buddha,” terang Biksu Long Shan.

Biksu Long Shan juga berharap melalui Waisak ini para peserta yang hadir dari lintas agama bisa memperoleh berkah, tenteram, makmur, harmonis, damai, dan bebas bencana. Setelah berlangsung beberapa saat, prosesi perayaan Waisak yang khidmat ini pun berakhir. Para peserta yang kebanyakan adalah relawan Tzu Chi pulang dengan membawa kebahagiaan. Tentu setelah acara itu berakhir Tzu Chi berharap di setiap hati peserta akan tumbuh benih kebijaksanaan dan benih cinta kasih demi kesejahteraan semua makhluk.

  
 

Artikel dibaca sebanyak : 2316 kali


Berita Terkait


Tidak Menyerah pada Keterbatasan

15 November 2018

Perhatian dan Layanan Kesehatan Bagi Lansia

14 November 2018

AKIDA Donasikan 42 Unit Tenda Untuk Palu

13 November 2018

Gigi Sehat di Balik Senyuman Siswa-siswi SD Eka Tjipta SLNE

13 November 2018

Menebar Cinta Kasih Melalui Kunjungan Kasih ke Rumah Lansia

13 November 2018


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Lebih mudah sadar dari kesalahan yang besar; sangat sulit menghilangkan kebiasaan kecil yang buruk.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat