"Apa Kabarmu?"

Jurnalis : Veronika Usha, Fotografer : Veronika Usha
 
foto

* Kepedulian Tzu Chi tidak hanya dalam bentuk bantuan berwujud materi saja, namun juga dalam bentuk perhatian dan pendampingan, sehingga dapat memotivasi para penerima bantuan untuk dapat hidup lebih baik.

Pemberian bantuan bedah rumah kepada beberapa warga kurang mampu di Kelapa Gading, Jakarta Utara bertujuan untuk memberikan tempat tinggal yang layak bagi mereka. Tidak hanya itu, setelah rumah-rumah cinta kasih itu berdiri, pendampingan kepada para warga penerima bantuan pun terus dilakukan. Salah satu bentuk pembinaannya adalah dengan melakukan kunjungan kasih kepada mereka.
“Hubungan baik yang sudah kita bina harus terus kita jaga dengan baik,” ucap Richtiarty Superani, salah salah satu relawan yang lebih akrab disapa Etty. Etty menuturkan, dalam setiap kegiatan kunjungan kasih, ia dan teman-teman relawan, tidak hanya sekadar melihat kondisi rumah para penerima bantuan. Mereka lebih sering melakukan sharing tentang permasalahan hidup yang terjadi.

“Yang penting, kita harus terus memberikan semangat, masukan, atau nasehat, agar mereka bisa memandang dan menjalani kehidupan ini dengan lebih baik,” tambah Etty. Dalam sebulan, kegiatan kunjungan kasih di Kelapa Gading dijadwalkan setiap dua minggu sekali. Dan hari ini, 21 Januari 2009, enam orang relawan Tzu Chi akan berbagi kasih dengan 13 penerima bantuan bedah rumah di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Ditengah teriknya matahari, para relawan menyusuri lorong demi lorong Kelurahan Kelapa Gading Timur, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Setelah melewati beberapa lorong akhirnya tiba juga di rumah pertama, yakni rumah Haji Uchang (82).

foto  foto

Ket : - Dalam kegiatan kunjungan kasih ini, para relawan juga membagikan dan menempelkan kata-kata
           perenungan di setiap rumah para penerima bantuan bedah rumah di Kelapa Gading, Jakarta Utara. (kiri)
         - Di tengah teriknya sinar matahari, dengan sigap, enam orang relawan Kelapa Gading memasuki lorong
           demi lorong pemukiman padat penduduk untuk menebarkan benih-benih cinta kasih kepada mereka yang
           membutuhkan. (kanan)

Seperti layaknya saudara jauh, keluarga Haji Uchang menyambut kedatangan para relawan dengan sangat gembira. Setelah bercengkrama dengan Haji Uchang dan keluarga, para relawan memberikan sebuah kata perenungan, dan menempelkannya di sebuah sisi tembok, di rumah Haji Uchang.

“Jangan lupa Haji Uchang, kita harus terus melakukan kebajikan, agar hidup kita menjadi lebih bahagia,” tutur Etty. Tidak lupa, ia juga mengingatkan Haji Uchang untuk mengajak anak-anak serta cucunya, agar membaca kata perenungan tersebut, dan menerapkannya dalam kehidupan mereka.

Tidak hanya Haji Uchang, kebahagiaan juga terpancar jelas dari wajah ketiga saudara sekandung yang tinggal tidak jauh dari rumah Haji Uchang. Meskipun sedikit kaget, Sarmilah, Salmah, dan Damih, menyambut kedatangan para relawan Tzu Chi dengan penuh kehangatan.

“Apa kabar, Bu? Senang sekali ibu-ibu dari Tzu Chi mau mengunjungi kami,” tutur Sarmilah.

Sarmilah, Salmah, Damih, serta Hambali (yang saat itu tidak berada di rumah), adalah empat bersaudara yang mendapatkan bantuan rumah dari Tzu Chi. Damih bercerita, dulu sebelum rumahnya dibantu oleh Tzu Chi, setiap hari ia, Tri Asmono, suaminya, dan keempat anaknya harus tidur berdesak-desakan.

   foto

Ket : - Irvan, bayi Damih yang masih berumur dua minggu ini beruntung, karena ketika ia dilahirkan, ia telah
           mendapatkan rumah yang layak, sehingga baik untuk perkembangannya kelak.

“Belum lagi kalau hujan, bocor di mana-mana,” ucap Damih. Tapi sekarang semua telah berbeda, Damih pun sangat bersyukur, ketika melahirkan Irvan, anak kelimanya, ia sudah memiliki rumah yang layak bagi keluarganya.

Setiap mendapat kunjungan kasih yang dilakukan oleh para relawan Tzu Chi, Damih mengaku sangat bahagia. Bagaimana tidak, bagi Damih, para relawan Tzu Chi adalah tempatnya berkeluh kesah.

“Waktu itu saya dan suami sempat bingung ketika menghadapi masalah biaya sekolah Yuyun, putri pertamanya yang ingin melanjutkan sekolah. Ketika relawan datang, mereka menanyakan kesulitan apa yang tengah saya hadapi. Dan alhamdulilah, Tzu Chi mau membantu beasiswa anak saya,” kenang Damih.

Bukan hanya sebatas materi, para relawan Tzu Chi juga menularkan kebiasaan baik kepada para penerima bantuan. Salah satunya adalah keluarga Nedah (45) dan Muhammad (50). Semenjak memperoleh celengan bambu, Nedah mewajibkan keluarganya untuk berbuat kebajikan setiap hari dengan cara memasukkan sejumlah uang ke dalam celengan tersebut.

foto   foto

Ket : - Kehangatan seperti layaknya keluarga, terpancar jelas ketika para relawan menyapa para warga. (kiri)
         - Tzu Chi memberikan bantuan bedah rumah kepada Dasih dan ketiga saudara kandungnya. Tidak hanya itu,
           putri pertama Dasih juga mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya. (kanan)

“Meskipun uang yang dimasukkan tidak besar, tapi saya mengajarkan keluarga saya untuk terbiasa berbagi sedikit rezeki. Seperti yang pernah saya dengar dari para relawan, uang dari celengan bambu ini akan digunakan untuk membantu orang yang membutuhkan. Jadi dengan celengan ini, saya juga membantu mereka,” jelas Nedah sambil tersenyum.

 

Artikel Terkait

Selamat Ulang Tahun, DAAI TV Indonesia!

Selamat Ulang Tahun, DAAI TV Indonesia!

26 Agustus 2021

HUT ke-14 DAAI TV Indonesia dirayakan secara internal pada 25 Agustus 2021. Perayaan itu adalah wujud syukur seluruh tim atas kerja keras dan konsistensi akan penyiaran yang tetap menjaga pedoman kebenaran, kebajikan, dan keindahan di tengah keterbatasan dalam situasi pandemic.

Mendalami Budaya Humanis Tzu Chi Melalui Kelas Budi Pekerti

Mendalami Budaya Humanis Tzu Chi Melalui Kelas Budi Pekerti

17 Januari 2018
Bekal hidup dalam membentuk karakter seorang anak agar menjadi lebih baik lagi diterapkan pada Kelas Budi Pekerti (Qin Zi Ban) Tzu Chi Bandung. Kegiatan tersebut berlangsung pada Minggu 14 Januari 2018, berlokasi di Aula Jing Si Tzu Chi Bandung.
Juara 2 (Artikel): Manusia Berharap, Tuhan yang Menentukan

Juara 2 (Artikel): Manusia Berharap, Tuhan yang Menentukan

27 November 2014 Bapak Tarigan menjawab dengan santai, "Sinabung setiap hari menyemburkan asap putih tebal setinggi 100 sampai 300 meter dan kalau malam hari akan kelihatan guguran lava pijar sejauh 300 sampai 2.000 meter kearah Selatan dan Tenggara serta jika malam tiba dan suasana sekitar sini sudah hening maka akan terdengar suara gemuruh seperti suara guntur."
Umur kita akan terus berkurang, sedangkan jiwa kebijaksanaan kita justru akan terus bertambah seiring perjalanan waktu.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -