Menjadi Mata dan Telinga Master Cheng Yen

Jurnalis : Sutar Soemithra, Fotografer : Sutar Soemithra
 
foto

Sebanyak 33 relawan mengikuti pelatihan pembicara Tzu Chi agar dapat mewariskan ajaran luhur Tzu Chi, menjadi mata dan telinga Master Cheng Yen.

Tzu Chi terus berkembang dan makin banyak orang tertarik untuk mengenal Tzu Chi, terlebih setelah DAAI TV mengudara di langit Indonesia, Tzu Chi menjadi memiliki akses yang tanpa batas untuk dikenali siapapun. Belum lagi terus berkembangnya media Tzu Chi lainnya dan semakin bertambahnya kegiatan. Oleh karena itu, jumlah relawan Tzu Chi yang memahami Tzu Chi dan mampu menjelaskannya dengan baik kepada orang lain. "Bisa dibayangkan Tzu Chi akan makin banyak mengajak orang melangkah di jalan cinta kasih," ujar Mario William dalam Pelatihan Pembicara Tzu Chi yang diadakan di kantor Yayasan Buddha Tzu Chi, Mangga Dua, Jakarta.

Meskipun akses untuk mengenali Tzu Chi makin terbuka luas, namun informasi yang bisa didapatkan tidak bisa secara menyeluruh sehingga tetap memerlukan relawan Tzu Chi untuk memberi penjelasan lebih lanjut. Sayangnya, tidak banyak relawan Tzu Chi yang bisa melakukan hal tersebut dengan baik. Sifat dasar masyarakat Indonesia yang tertutup mungkin salah satu yang menyebabkan hal tersebut. Bahkan, beberapa orang menganggap dirinya tidak memiliki bakat untuk berbicara di depan orang lain sehingga membenarkan keadaan tersebut.

Pelatihan selama satu setengah jam tersebut membuka hati para relawan bahwa kemampuan berbicara di depan orang lain bukanlah bakat. "Berbicara dengan handal bukan bakat, tapi karena belajar," jelas Mario yang menjadi pembicara inti dalam pelatihan yang diikuti 33 relawan tersebut. Mereka adalah para kepala he qi (relawan komunitas) dan beberapa muda-mudi Tzu Chi (Tzu Ching). Menurut Mario yang sehari-hari bekerja pada bagian pemasaran DAAI TV Indonesia, banyak orang sukses dimulai karena hebat dalam berbicara. Ia lalu memberi contoh kehebatan Hillary Clinton dan Barack Obama dalam membius publik melalui kehebatannya berbicara dalam kampanye pemilihan Presiden Amerika Serikat saat ini. Dalam beberapa ajarannya, Master Cheng Yen juga sering menempatkan mulut (ucapan) sebagai faktor pertama. "Mulut bertutur bahasa baik, pikiran mengilhami niat luhur, tangan mengerjakan kebajikan, kaki melangkah dalam kebenaran," bunyi salah satu kata perenungan Master Cheng Yen.

Beberapa tips Mario paparkan, dari cara mengatasi rasa grogi di depan orang banyak, bahasa tubuh, teknik menguasai panggung, cara membuka sesi, hingga cara memegang mikrofon. "Kalau gugup, senyum. Dengan senyum mulut menjadi tidak kaku," ia memberikan salah satu trik untuk menghadapi kendala yang paling sering dihadapi pemula. Mendengar berbagai tips tersebut, Lan Fang, salah seorang relawan, menjadi lebih percaya diri jika harus berbicara di depan orang banyak padahal selama ini ia sangat pemalu. Tanggal 16 Februari 2008 lalu ia menjadi salah satu pembicara dalam pelatihan relawan baru yang diikuti oleh sekitar 30 orang di Tzu Chi Tangerang. "Ada grogi sedikit," kata Lan Fang.

foto  foto

Ket : - Para relawan Tzu Chi memeragakan isyarat tangan 'Kita Satu Keluarga'. Keluarga besar Tzu Chi yang terjalin
           karena cinta kasih selalu membuka kesempatan kepada siapapun yang ingin menjadi anggota keluarga
           besar. (kiri)
         - Sosialisasi kepada masyarakat umum ibarat menyediakan lahan kepada siapapun untuk ikut menanaminya
           dengan benih-benih cinta kasih. (kanan)

Menurut Suriadi, staf Tzu Chi bagian pelatihan, pelatihan kali ini merupakan rangkaian pelatihan yang telah disusun berkesinambungan. Pelatihan menjadi pembicara handal kali ini diadakan agar para relawan bisa meneruskan Dharma Master Cheng Yen, relawan Tzu Chi selama ini sangat aktif dalam berbagai kegiatan namun sangat kurang dalam sharing, dan agar para relawan bisa mempersiapkan materi sendiri jika hendak menjadi pembicara.

Selain melatih diri sendiri, tugas relawan Tzu Chi adalah juga mengajak sebanayak orang untuk ikut melatih diri, seperti kata perenungan Master Cheng Yen, "Lahan batin manusia bagaikan sepetak sawah, bila tidak ditanami dengan bibit yang baik, tidak akan bisa menuai hasil yang baik." Jika setiap batin manusia ditanami dengan bibit-bibit yang baik berupa cinta kasih, bersyukur dan sikap menghargai, maka sawah-sawah tersebut akan menjadi hamparan luas yang bisa memberikan hasil panen yang memberikan kebahagiaan bagi semua makhluk.

Ajaran Tzu Chi adalah warisan mulia yang berguna bagi semua manusia sehingga harus diwariskan kepada generasi penerus. "Bagaimana kita mewariskan? Pakai ini," ujar Mario William sambil menunjuk mulut. Mewariskan ajaran Tzu Chi berarti mewakili Master Cheng Yen, menjadi mata dan telinga beliau.

 

Artikel Terkait

Tidur Lebih Nyaman dengan Bantuan Kasur dan Selimut dari Tzu Chi

Tidur Lebih Nyaman dengan Bantuan Kasur dan Selimut dari Tzu Chi

22 Oktober 2018
Bahagia dan tersanjung, itulah yang dirasakan warga di Dusun Tiga Konsesi di Kecamatan Sindue Tombusabora, di Kabupaten Donggala. Setelah sebelumnya mendapatkan bantuan berupa dua lembar tikar dan 1 dus mi instan untuk masing-masing Kepala Keluarga, kali ini Tzu Chi (21/11) membagikan kasur dan selimut.
Suara Kasih : Mensosialisasikan Vegetarian

Suara Kasih : Mensosialisasikan Vegetarian

25 April 2011 Setiap orang turut memikul tanggung jawab. Yang terpenting adalah budaya humanis misi kesehatan, yakni menghargai kehidupan. Selain mengobati penyakit pasien, para dokter juga berusaha mengubah pola pikir dan mengembangkan kebijaksanaan pasien.
Tzu Chi Bandung Bersama Korps Paskhas AU Bagikan 1000 Paket Sembako.

Tzu Chi Bandung Bersama Korps Paskhas AU Bagikan 1000 Paket Sembako.

02 Juli 2020
Yayasan Buddha Tzu Chi Bandung bersama Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara menggelar pembagian paket sembako (simbolis) bagi warga binaan di wilayah KorpsPaskhasau di Lanud Sulaiman, Bandung. Acara tersebut berlangsung di Markas Komando Korps Pasukan Khas. Jl. Hercules II, Komplek Pangkalan Udara Sulaiman, Kec. Katapang, Bandung.  
Cara kita berterima kasih dan membalas budi baik bumi adalah dengan tetap bertekad melestarikan lingkungan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -