Bagi Hati, Bagi Beras
Jurnalis : Yusie (He Qi Timur), Fotografer : Thomas Ng (He Qi Timur)|
|
| ||
| Warga dengan penuh semangat mulai berbaris rapi sembari bercanda, baik dengan sesama warga maupun dengan relawan Tzu Chi, sehingga tampak kebahagiaan di wajah mereka. Kegiatan ini bukan acara pembagian beras dan minyak goreng semata, tetapi lebih bertujuan membagikan sukacita dan cinta kasih bagi sesama yang membutuhkan. Berdasarkan data dari pembagian kupon yang telah dilakukan pada tanggal 31 Juli 2011, jumlah keluarga yang mendapatkan bantuan sebanyak 2.125 keluarga. Sekitar 100 relawan dan 30 Tzu Ching ikut berpartisipasi. Kegiatan ini juga dibantu oleh aparat Kelurahan Cilincing, Polsek Cilincing, dan anggota TNI sehingga kegiatan dapat berjalan dengan tertib dan lancar. Nenek Minah (85) di barisan terdepan. “Saya lihat di tv ada nenek meninggal karena diinjek pas lagi bagi sembako. Saya takut nih, gemeteran,” ucap Minah. “Tapi kalo di sini rapi ye...”, lanjutnya. Minah pun menyampaikan perasaan bahagianya menerima bantuan beras cinta kasih ini dengan mata berkaca-kaca, “Ya Allah, terima kasih banget. Nenek girang banget, dikasih beras. Nenek mah udah nggak punya beras.” Sambil menunggu waktu dimulainya pembagian beras, para relawan menghibur warga dengan isyarat tangan lagu “Satu Keluarga”.
Keterangan :
Pembagian Beras Dimulai Menurut Walikota Jakarta Utara H. Bambang Sugiyono, kegiatan ini bukan hanya sekadar pembagian beras dan minyak semata, namun juga ada rasa saling mengasihi dengan sesama yang membutuhkan. Beliau mengatakan, “Jika hal seperti ini terus dilakukan, maka akan membuat manusia di dunia ini mewujudkan tali kasih sehingga dunia ini menjadi damai.” Atas nama warga Cilincing, walikota menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. “Bagi warga yang sedang menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan dan mendapatkan bantuan seperti ini, tentunya hal ini sungguh luar biasa. Merupakan wujud tali kasih yang patut ditiru,” tambah Bambang. Kisah di Balik Pembagian Beras
Keterangan :
Keprihatinan lain datang dari Nenek Selbia. Nenek yang sudah tidak mengingat umurnya ini tinggal di rumah yang cukup memprihatinkan, dengan tinggi sekitar 170 cm, berlantai tanah, dan cukup gelap. Saat hujan turun, rumahnya selalu terendam air setinggi kira-kira 10 cm. Tidak banyak perabotan yang ada di sana. “Rumah nenek mah udah rombeng, suka malu ama orang,” ungkapnya. Nenek Selbia tinggal bersama ketiga anak dan cucunya, ia mengandalkan kehidupannya sehari-hari hanya dari anak-anaknya yang juga berpenghasilan tidak tetap. “Alhamdulillah, nenek bersyukur dikasih beras. Bisa buat sampai lebaran, tapi habis lebaran nggak tau lagi mau makan apa,” ungkapnya . Pukul 12.00 WIB kegiatan pembagian beras 42,5 ton dan minyak goreng 2.125 liter sudah selesai. Seperti tidak ada rasa lelah setelah berkali-kali memanggul beras, para relawan masih tetap bersemangat merapikan tempat kegiatan dan membantu warga yang masih tampak datang satu per satu. Kegiatan pembagian beras boleh selesai, tapi cinta kasih dan sukacita yang telah dibagikan semoga semakin berbuah dan tersebar ke seluruh dunia. | |||
Artikel Terkait
Melatih Raga dan Mengasah Kebijaksanaan
14 November 2011 Jika kita hanya mempraktikkan bentuk, tetapi tidak mengembangkan tenaga berarti kita hanya mengembangkan unsur Yang dengan mengabaikan Yin. Ketenangan, akal, dan ketrampilan diwakili oleh Yin dan gerakan, tubuh, penerapan diwakili oleh Yang.
Mendukung Kesembuhan Pak Sukandar
02 Januari 2020Mendalami Dharma, Memupuk Kebijaksanaan
22 Maret 2019Mengapa relawan Tzu Chi disebut sebutir benih? Karena dari masing-masing relawan, masyarakat di luar bisa mengenal Dharma. Karena dengan menjadi relawan, orang lain di luar bisa ikut menjadi relawan. Bukan karena ajakan semata, tapi bisa juga karena mereka melihat perubahan positif dalam diri relawan Tzu Chi yang membuat mereka terinspirasi.










Sitemap