Baik Sejak Kecil
Jurnalis : Sutar Soemithra, Fotografer : Sutar Soemithra
|
| |
Mulai Bervegetarian Setahun memang bukan waktu yang terlalu panjang untuk terjadinya perubahan pada diri anak-anak itu karena mengikuti Kelas Budi Pekerti, terlebih kelas diadakan sebulan sekali. Kelas ini mungkin bisa dibilang memiliki peran mempersiapkan nilai-nilai dasar budi pekerti kepada anak, namun peran terbesar penanaman budi pekerti tetap ada di tangan keluarga masing-masing anak. Mei Mei (8) disebut ayahnya, Subandi, memang sudah anak baik sejak kecil. Subandi menuturkan, putrinya tersebut sejak kecil telah dibiasakan untuk mandiri, misalnya mencuci piring sendiri sehabis makan dan juga membantu menyapu dan mengepel lantai. Ia juga mengakui perubahan yang terjadi pada putrinya tidak terlalu mencolok, namun, “Ada sekolah budi pekerti jadi lebih baik lagi,” ungkap Subandi. Lantas ia memberi contoh. Sebelum ikut Kelas Budi Pekerti, Mei Mei harus dibujuk-bujuk ketika bangun pukul 5 pagi. Tapi kini hanya ditepuk sedikit dia sudah mengerti dan langsung beranjak mandi pagi.
Ket: - Relawan pendamping (Da Ai Mama) sedang mengarahkan anak-anak Kelas Budi Pekerti agar membuat pertunjukan. Mereka dibagi ke dalam 9 kelompok. (kiri). Ada yang membuat Subandi bangga terhadap Mei Mei. Sudah lebih dari sebulan Mei Mei bervegetarian, tepatnya sejak perayaan Bulan Tujuh Penuh Berkah September 2009 lalu. Subandi dan istri sebenarnya telah 4 tahun menjadi vegetarian tapi belum berhasil mendorong anaknya mengikuti jejak mereka. Penjelasan panjang lebar tentang kaitan vegetarian dengan kesehatan oleh pakar vegetarian dr Susianto pada acara tersebut rupanya mampu meluluhkan hati putri mereka. “Kalau itu kan yang jelasin ahli, kalau saya kan orang biasa, makanya dia jadi lebih percaya,” kelakar Subandi. Ketika itu Mei Mei menuliskan tekad untuk bervegetarian di kertas berbentuk daun Bodhi bersama-sama tamu lain yang datang pada acara itu. Ia menulisnya bertekad vegetarian 3 hari. Dan ternyata Meimei menepati tekadnya. “Mau lanjut nggak?” tanya Subandi. “Seminggu deh,” sahut Mei Mei. Setelah seminggu juga lancar, Mei Mei berujar lagi, “Sepuluh hari deh.” Sampai akhirnya tanpa terasa sebulan lebih berlalu dan terus berlangsung sampai sekarang.
Ket: -Sebelum meninggalkan ruangan, anak-anak mengucapkan terima kasih kepada para relawan pendamping. Kemudian mereka bersama-sama meninggalkan ruangan. (kiri). Bagi Subandi tidak masalah mengeluarkan biaya lebih besar karena Mei Mei bervegetarian. Ia mencontohkan susu kacang yang lebih mahal daripada susu sapi. Dulu Mei Mei sering sariawan karena sering makan nugget. Sekarang sudah jarang sariawan. Buang air besar Mei Mei juga jadi lebih lancar. Karena sering menemani Mei Mei mengikuti Kelas Budi Pekerti juga yang akhirnya mendorong Subandi dan istrinya akhirnya bergabung menjadi relawan Tzu Chi. Subandi pun sering mengajak Mei Mei ikut kegiatan Tzu Chi, dan Mei Mei pun ternyata menyukainya. | ||
Artikel Terkait
Membangun Harapan, Renovasi Rumah Layak Huni untuk Warga di Tanah Tinggi
14 Maret 2025Program 500 Layak Huni ini tidak hanya bakal meningkatkan kualitas dan kesejahteraan warga penerima, tetapi juga memperkuat solidaritas dan kepedulian sosial di masyarakat.
Saling Belajar dan Berbagi
14 Agustus 2015 Di hari keenam kunjungannya (12/08/15), sebanyak 19 Tzu Ching yang didampingi relawan pendamping bertolak menuju Pondok Pesantren Nurul Iman yang terletak di Parung, Bogor. Dalam kunjungannya kali ini, mereka ingin mengenal dan merasakan kondisi lingkungan kehidupan pondok pesantren.
Berterima Kasih Kepada Bumi Melalui Penanaman Pohon
21 Februari 2019Relawan Tzu Chi Sinar Mas di Xie Li Kalimantan Selatan 2 khususnya relawan Dharma Wanita dari wilayah Senakin melestarikan lingkungan di sekitar SDN Sangsang. Lokasi ini dipilih relawan untuk menggalakkan penghijauan dengan menanam tanaman buah-buahan.








Sitemap