Waisak yang Penuh Makna

Jurnalis : Apriyanto, Hadi Pranoto, Fotografer : Anand, Teddy, Roann (He Qi Barat)
 
foto

* Prosesi persembahan pelita dan air oleh relawan komite Tzu Chi untuk melambangkan penerangan di dalam batin.

Minggu, 10 Mei 2009, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia mengadakan perayaan Waisak 2553 dan pencanangan pembangunan Aula Jing Si yang berlokasi di Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara. Sebanyak lebih dari 1.000 orang relawan dan masyarakat umum mengikuti prosesi Waisak ini dengan khusyuk dan khidmat.

Acara yang dimulai pada pukul 7 pagi ini diawali dengan prosesi persembahan pelita dan air oleh relawan komite Tzu Chi. Setelah itu, para peserta diajak untuk mengikuti prosesi pemandian Buddha Rupang. Melalui prosesi ini diharapkan peserta Waisak dapat membangkitkan cinta kasih dalam diri mereka masing-masing. Setiap interaksi dengan sesama selalu ada rasa syukur, menghormat, dan cinta kasih. Bila hal ini bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka setiap hari hati manusia selalu bersih dan setiap hari adalah prosesi pemandian Buddha Rupang.

Di hadapan altar Buddha Rupang yang di bawahnya terdapat kolam kecil, peserta membungkukkan badan dan dengan telapak tangan terbuka menyentuh air lalu merangkapkan tangan di dada, kemudian mengambil sekuntum bunga dan meninggalkan altar sambil merangkapkan kembali tangan di dada.

Menurut Franky O. Widjaja, Wakil Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, ”Peringatan Waisak ini merupakan hari yang sangat berbahagia, karena selain Waisak, Hari Ulang Tahun Tzu Chi dan juga Hari Ibu Sedunia. Terlebih lagi bagi para insan Tzu Chi di Indonesia, bertambah satu lagi kebahagiaannya dengan acara pencanangan pembangunan Aula Jingsi ini.” Franky menambahkan, ”Peringatan Waisak ini mengingatkan akan ajaran Buddha, membangkitkan cinta kasih kita semua. Tujuannya adalah supaya dunia aman, tenteram, dan bahagia.”

Wen Yu, relawan Tzu Chi yang bertindak sebagai koordinator acara mengatakan, ”Prosesi ini bermakna bahwa kita sebagai manusia memberikan penghormatan yang tertinggi kepada Buddha dan menerima keharuman serta kebijaksanaan Buddha. Dengan membawa pulang sekuntum bunga, ini memberi makna semoga dengan ini kita dapat menjadi bijaksana seperti Buddha.”

Setelah melaksanakan pemandian Buddha Rupang, peserta Waisak menerima sehelai daun Bodhi. Daun Bodhi yang diberikan ini melambangkan kebijaksanaan, mengingatkan diri sendiri agar senantiasa menjaga kejernihan batin sehingga setiap hari adalah hari Waisak.

foto  foto

Ket : - Mengambil sekuntum bunga bermakna menerima keharuman dan kebijaksanaan Buddha. Dengan
           membawa pulang sekuntum bunga, ini berharap semoga dengan ini kita dapat menjadi bijaksana seperti
           Buddha. (kiri)
         - Kolam kecil di Altar melambangkan air suci untuk merefleksikan diri dan penghormatan tertinggi kepada
           Buddha. (kanan)

Menurut Agus Rijanto, relawan Tzu Chi, membungkuk dan menyentuh air saat prosesi pemandian Buddha Rupang bermakna sebagai wujud merefleksikan diri sendiri. “Dengan menyentuh air berarti kita merefleksikan dan mengintrospeksi diri sendiri. Introspeksi diri adalah ajaran yang paling penting dalam ajaran kita, “ jelas Agus.

Perayaan Waisak memang selalu dilaksanakan dengan berbagai ritual, tetapi makna yang sesungguhnya dari semua ritual yang dijalankan adalah, “Membangkitkan cinta kasih di dalam diri kita dan dapat menumbuhkan kesadaran kepada seluruh umat manusia melalui kegiatan ini akan pencerahan dari diri Sang Buddha,” terang Agus Rijanto.

Prosesi perayaan Waisak Tzu Chi memang dilaksanakan secara sederhana tanpa banyak menjalankan banyak ritual. Menurut Agus Rijanto, prosesi Waisak Tzu Chi yang terlihat sederhana sesungguhnya terkandung makna yang dalam. “Sesuai dengan ajaran Buddha yang kita anut, bahwa ajaran Buddha itu sendiri tidak hanya membaca sutra atau mantra tetapi lebih dipentingkan adalah bagaimana kita memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan. Sekarang dengan adanya Jing Si ini bisa menjadi pusat kegiatan bagi relawan-relawan dalam rangka menjadi suatu wadah dalam pusat pemberian bantuan,” terangnya.

Setelah seluruh peserta Waisak selesai melaksanakan prosesi pemandian Buddha rupang, prosesi berikutnya adalah melaksanakan pradaksina (berjalan mengitari searah jarum jam sambil mengucapkan nama Buddha -red). Pradaksina ini bermakna dengan berjalan sambil menyebut nama Buddha diharapkan di dunia ini selalu ada Buddha, di setiap hati manusia selalu ada Dharma (ajaran Buddha -red), dan di setiap perbuatan selalu ada Dharma. Selesai pradaksina, maka selesai pula prosesi perayaan Waisak.

Membangkitkan cinta kasih, mampu mengintrospeksi diri dan membangkitkan kesadaran keluhuran Sang Buddha adalah pesan sesungguhnya yang disampaikan dari perayaan Waisak ini. Karena Waisak yang sesungguhnya bukan sekadar melaksanakan ritual, tetapi mampu menyelami semua esensi dari Waisak itu sendiri.

foto  foto

Ket : - Membungkukkan badan dan menyentuh air wangi melambangkang penghormatan tertinggi kepada Buddha
           dan mengintrospeksi diri sendiri. (kiri)
         - Daun Bodhi melambangkan kebijaksanaan, mengingatkan diri sendiri agar senantiasa menjaga kejernihan
           batin sehingga setiap hari adalah hari Waisak. (kanan)

Persiapan yang Matang dan Terencana
Lie Sarpin, salah satu panita dalam acara ini mengatakan bahwa persiapan untuk acara Waisak dan pencanangan ini sangat singkat—kurang lebih dua minggu. Namun meski persiapannya singkat, panitia tidak menemui kendala dan kesulitan yang berarti, baik selama persiapan maupun saat berlangsungnya kegiatan.

Menurutnya, perayaan Waisak dan pencanangan pembangunan Aula Jingsi yang dilaksanakan pada waktu yang bersamaan adalah sebuah jodoh. “Sebetulnya sudah direncanakan jauh sebelumnya, tetapi waktu kita kunjungan ke Taiwan bertemu dengan Master, kita diskusi pilih hari yang terbaik adalah hari ini. Karena hari ini adalah hari Tzu Chi dan hari ibu, jadi hari yang terbaik adalah hari ini. Efisiensi jadi tidak merumit-rumitkan masalah, yang paling gampang dan paling enak itu yang kita lakukan. Semuanya adalah jodoh,” terang Sarpin.

Toleransi beragama menjadi syarat utama untuk terciptanya sebuah dunia yang aman, tenteram, dan damai. Habib Sagaff, pimpinan Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman yang hadir pada saat acara pencanangan batu pertama Aula Jingsi, seusai prosesi Waisak ini memberikan pandangannya tentang perayaan Waisak. ”Waisak adalah hari kebesaran agama Buddha dan (dalam agama) Islam pun diharuskan untuk menghormati agama lainnya,” terang Habib Saggaff. Menurutnya, setiap manusia harus bisa memberi kebahagiaan bagi orang lain. Habib Sagaff yang sudah menjalin hubungan baik dengan Tzu Chi sejak lama ini menyambut baik adanya Tzu Chi di Indonesia. ”Saya yakin bangsa Indonesia mengharapkan kedatangan Yayasan Tzu Chi dan wujudnya di Indonesia,” kata Habib Sagaff.

foto  foto

Ket : - Prosesi Waisak yang dilaksanakan secara sederhana memaknai bahawa ajaran Buddha tidak hanya
           membaca sutra atau mantra tetapi lebih dipentingkan adalah bagaimana kita memberikan bantuan kepada
           masyarakat yang membutuhkan. (kiri)
         - Sebanyak lebih dari 1.000 orang relawan dan masyarakat umum mengikuti prosesi Waisak ini dengan
           khusyuk dan khidmat. (kanan)

Senada dengan Habib Sagaff, Bhiksuni Sien Lek mengungkapkan, ”Kalau kita ingin dunia ini damai, kita harus memiliki pendidikan agama yang baik. Agama mengajari kita tentang kedamaian, saling mengasihi, dan menghormati.” Bhiksuni Sien Lek datang bersama rekannya, Bhiksuni Sien An. Keduanya tinggal di sebuah ruko di daerah Jelambar, Jakarta Barat. Mereka telah lama mengenal Tzu Chi dan bahkan sudah menjadi relawannya. ”Saya tertarik sama Tzu Chi karena sangat rapi pelaksanaannya. Kita setiap kali ada prosesi Pemandian Buddha Rupang, kita selalu ikut,” terang Bhiksuni Sien Lek yang sangat mengagumi sosok Master Cheng Yen, pendiri Yayasan Buddha Tzu Chi. ”Master Cheng Yen sangat welas asih. Beliau bisa bergabung dengan semua agama. Welas asihnya yang sangat luas dan tidak membeda-bedakan agama, membuat organisasi ini (Tzu Chi) bisa diterima oleh semua umat beragama,” pujinya.

Karakter lintas budaya dan agama juga terlihat dari berbagai pertunjukan yang ditampilkan, seperti hadirnya tarian ondel-ondel khas Betawai dan pertunjukan lainnya yang bersifat umum. Ini menandakan apa yang dikerjakan dan disampaikan oleh Tzu Chi, semuanya bermakna cinta kasih dan kebersamaan.

Dapat menumbuhkan cinta kasih dan kebijaksanaan dengan mampu memberikan pengorbanan kepada sesama yang membutuhkan adalah pesan utama yang dipetik dari serangkaian kegiatan ini, karena disetiap kegiatan Tzu Chi selalu terkandung makna cinta kasih dan kepedulian terhadap sesama.

 

Artikel Terkait

Paket Pelipur Lara

Paket Pelipur Lara

22 September 2012 Pada hari Sabtu, 8 September 2012 sekitar pukul 8.45 pagi, si jago merah mengamuk di jalan Ancol Selatan II RT 14/07 kelurahan Sunter Agung. Di wilayah yang dikenal dengan nama Kampung Plastik (Kamplas) ini, musibah kebakaran telah menghanguskan 71 rumah, yang dihuni oleh 105 KK atau 363 jiwa. Asal api diduga berasal dari kompor salah satu warga yang meledak.
Santunan untuk 200 Kaum Dhuafa di Makassar

Santunan untuk 200 Kaum Dhuafa di Makassar

15 Juni 2017

Kali ini, sebanyak 200 kaum dhuafa dari lima panti asuhan mendapat bingkisan lebaran di Kantor Tzu Chi Makassar, Minggu 11 Juni 2017. Pembagian bingkisan ini dalam rangka bakti sosial Ramadan Yayasan Buddha Tzu Chi KP Makassar, dirangkai dengan buka puasa bersama dan penayangan sejarah Tzu Chi.

Belajar Menjaga Tradisi, Belajar Mengasihi

Belajar Menjaga Tradisi, Belajar Mengasihi

30 Januari 2020

Dalam rangka merayakan hari raya Imlek, Sekolah Tzu Chi Indonesia mengadakan sebuah pertunjukan dan aktivitas permainan yang diadakan untuk semua jenjang, dari TK hingga SMA pada Senin, 27 Januari 2020. 

Bertuturlah dengan kata yang baik, berpikirlah dengan niat yang baik, lakukanlah perbuatan yang baik.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -