Baksos Kesehatan Tzu Chi di Batam: Hampir Empat Tahun Pandangan Kabur, Pak Benny Tetap Berjuang demi Keluarga

Jurnalis : Rizky Afifah, Agus (Tzu Chi Batam), Fotografer : Vemmy Ho, Jenny Agusri, Emilia (Tzu Chi Batam)

Hampir empat tahun hidup dengan katarak membuat Pak Benny kesulitan mengenali orang yang berdiri di hadapannya. Melalui bakti sosial kesehatan Tzu Chi ia menjalani operasi katarak dan merasakan penglihatan mata kirinya menjadi lebih terang. Bersama 299 pasien, operasi tersebut memberi harapan baru untuk kembali bekerja.

Selama hampir empat tahun, Pak Benny menjalani hari-harinya dengan pandangan kabur akibat katarak pada kedua matanya. Meski penglihatannya terganggu, ia tetap bekerja di perusahaan swasta untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Di tengah keterbatasan tersebut, bakti sosial kesehatan yang diselenggarakan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bersama Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK) Batam memberinya kesempatan untuk menjalani operasi katarak pada salah satu matanya.

Pekerjaan Pak Benny menuntutnya beraktivitas di lapangan. Namun, gangguan penglihatan membuat tugas sehari-harinya semakin sulit. Melihat dengan jelas orang yang berdiri di hadapannya pun menjadi tantangan tersendiri. Mengendarai sepeda motor untuk menunjang pekerjaannya juga harus dilakukan dengan ekstra hati-hati.

“Ke mana-mana bawa motor pelan-pelan. Ini kayak gini, saya nggak nampak, blur nih. Jadi dipaksa. Nggak kerja, nggak makan,” ungkap Pak Benny. Ucapan itu menggambarkan perjuangannya untuk terus mencari nafkah meski penglihatannya terbatas.

Di balik perjuangan tersebut, ada keluarga yang menjadi tanggung jawabnya. Pak Benny memiliki dua orang anak. Anak pertamanya yang berusia 19 tahun telah bekerja, sedangkan anak keduanya masih duduk di kelas satu SMA. Keduanya turut mendampingi sang ayah saat menjalani operasi, memberikan dukungan dalam proses pengobatan yang telah lama dinantikannya.

Berjuang Mendapatkan Pengobatan
Sebelum memperoleh kesempatan mengikuti bakti sosial kesehatan Tzu Chi ini, Pak Benny telah berupaya mendapatkan penanganan melalui BPJS Kesehatan. Ia sempat menggunakan obat tetes mata, tetapi kondisinya tidak kunjung membaik. Setelah menjalani pemeriksaan, ia mengetahui bahwa gangguan penglihatannya disebabkan oleh katarak. Pak Benny berharap dapat segera menjalani tindakan medis karena kondisi matanya semakin mengganggu pekerjaan.

Bapak Benny menjalani screening di Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK) Batam sebagai bagian dari rangkaian bakti sosial kesehatan Tzu Chi. Pemeriksaan ini menjadi tahap awal untuk memastikan kondisi kesehatannya sebelum menjalani operasi katarak.

“Selama ini saya pakai obat tetes, tapi kok nggak ada perubahan. Terus saya coba cek ke Puskesmas, katanya katarak. Habis itu saya minta tindakan. Dokter, kapan nih tindakannya? Kok mata saya ini sudah makin parah,” tutur Pak Benny menceritakan perjuangannya mendapatkan pengobatan.

Harapan itu kembali terbuka ketika seorang teman memberitahu tentang bakti sosial operasi katarak gratis yang diselenggarakan oleh Yayasan Tzu Chi. Pak Benny pun mencoba mendaftar kegiatan baksos kesehatan Tzu Chi ini dan bersyukur karena dinyatakan lolos untuk menjalani operasi katarak.

Kesempatan ini menjadi langkah penting setelah hampir empat tahun hidup dengan penglihatan tidak jelas. Menjelang operasi, Pak Benny mengaku diliputi berbagai perasaan, mulai dari takut dan cemas hingga jantung berdebar. Namun, di balik kecemasannya itu, relawan Tzu Chi selalu mendampingi agar Pak Benny tidak khawatir dan cemas. Selain itu tersimpan harapan besar agar penglihatan Pak Benny bisa membaik sehingga bisa kembali beraktivitas mencari nafkah dengan lebih nyaman.

“Sesudah operasi ada senangnya, ada harunya. Sebelum operasi ada rasa deg-degan, takut, cemas, pokoknya segala macam,” ungkap Pak Benny.

Kembali Melihat dengan Lebih Jernih
Kebahagiaan Pak Benny semakin terasa ketika perban mata kanannya dibuka setelah operasi. Ia merasakan penglihatannya menjadi lebih terang dan jernih. Setelah bertahun-tahun kesulitan melihat dengan jelas, perubahan itu menjadi pengalaman yang sangat berarti.

“Kondisi mata saya sekarang lebih jelas, jernih. Cuma rasanya masih ada agak-agak kotoran gitu ya. Mungkin karena baru dibuka,” ucap Pak Benny.

Pada 24 Oktober 2026, Pak Benny didorong menuju meja operasi untuk menjalani operasi katarak di Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK) Batam. Ia berharap operasi ini dapat memulihkan penglihatannya sehingga bisa kembali bekerja dan menafkahi keluarga.

Meski masih merasakan sedikit ketidaknyamanan, Pak Benny mengaku sangat senang dengan perubahan yang dialami dari penglihatan matanya. Ia berharap suatu saat dapat menjalani operasi kembali untuk mata kirinya agar penglihatannya semakin baik.

“Sekarang perasaannya sangat senang bisa lihat jernih. Saya enggak lupa mengucapkan terima kasih banyak kepada Yayasan Buddha Tzu Chi dan RS Budi Kemuliaan Batam. Enggak bisa diutarakan dengan kata-kata,” ungkap Pak Benny dengan penuh rasa syukur.

Bagi Pak Benny, dan 299 pasien katarak lainnya yang menjalani operasi katarak,  ini bukan sekadar kesempatan untuk melihat lebih jelas, tetapi juga harapan untuk melanjutkan mencari nafkah untuk keluarga. Ia ingin tetap bekerja dan memenuhi kebutuhan anggota keluarga yang menjadi tanggung jawabnya.

“Setelah saya bisa melihat, harapan saya terutama untuk keluarga. Saya mencari makan untuk keluarga, harapannya ya selalu begitu saja,” tuturnya.

Kesehatan, Bekal untuk Terus Berjuang
Selain bersyukur atas kesempatan mendapatkan pengobatan, Pak Benny mendoakan agar Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dan RSBK Batam semakin maju dan sukses. Ia juga mendoakan agar para relawan senantiasa diberi kesehatan dan rezeki sehingga berbagai kegiatan kemanusiaan dapat terus berlangsung dan membantu lebih banyak orang.

“Semoga sehat selalu, banyak rezeki, semuanya panjang umur. Intinya sehat. Kalau banyak uang tapi tidak sehat, tidak bisa juga. Kesehatan utama,” ungkapnya.

Tim Medis Tzu Chi (TIMA) membuka perban mata kanan Pak Benny sehari setelah menjalani operasi katarak. Ia bersyukur karena penglihatan mata kirinya terasa lebih terang dan jelas. Pengalaman ini menumbuhkan harapan agar ia dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.

Melalui bakti sosial kesehatan, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bersama RSBK Batam berupaya membantu masyarakat memperoleh penanganan medis yang dibutuhkan. Bagi Pak Benny, kesempatan menjalani operasi katarak menjadi bagian penting dari perjuangannya setelah sekian lama menghadapi keterbatasan penglihatan.

Kini, Pak Benny menjalani masa pemulihan dengan harapan penglihatannya terus semakin membaik. Ia masih ingin mendapatkan penanganan pada mata kirinya, tetapi perubahan yang dirasakannya sudah menghadirkan kebahagiaan dan harapan. Ia ingin kembali bekerja, memenuhi kebutuhan keluarga, dan mendampingi anak-anaknya. Sebab, baginya, kesehatan bukan sekadar tentang kemampuan melihat, melainkan juga bekal untuk terus berjuang dan menjalankan tanggung jawab kepada keluarga.

Editor: Anand Yahya

Artikel Terkait

Menjemput Harapan dari Rumah ke Rumah

Menjemput Harapan dari Rumah ke Rumah

22 September 2026

Selama berbulan-bulan, dokter dan relawan Tzu Chi menyusuri rumah warga hingga pelosok Jambi untuk menemukan pasien katarak. Di balik perjalanan itu, tersimpan kisah perjuangan, pengorbanan, dan harapan kembali melihat.

Katarak Hilang, Hidup Lebih Terang

Katarak Hilang, Hidup Lebih Terang

27 September 2023

Relawan Tzu Chi di komunitas Xie Li Sumatera Selatan  (Sumsel) 1 memberi bantuan operasi katarak bagi 6 pasien di RS Fadhillah, Prabumulih. Pasien ini berasal dari desa sekitar operasional PT Bumi Sawit Permai (BSP), Kabupaten Ogan Ilir.

Menjangkau Pelosok Pulau, Membuka Harapan bagi Penderita Katarak

Menjangkau Pelosok Pulau, Membuka Harapan bagi Penderita Katarak

09 Oktober 2026

Menembus batas geografis demi menjangkau masyarakat yang membutuhkan, relawan Tzu Chi Batam bersama tenaga medis menggelar skrining awal bakti sosial operasi katarak di Dabo Singkep, Kabupaten Lingga.

Bila sewaktu menyumbangkan tenaga kita memperoleh kegembiraan, inilah yang disebut "rela memberi dengan sukacita".
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -