Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-155: Dari Pulau Muda, Alfian Menjemput Harapan dan Senyum Baru

Jurnalis : Nur Al Fajar Rumsari, Fotografer : Nur Al Fajar Rumsari

Muhamad Alfian bersama Ibunya Ida Laisa, sedang melakukan proses daftar ulang untuk mendapatkan tindakan medis selanjutnya dalam Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-155 di Pekanbaru.

Pagi itu, langkah kecil Muhamad Alfian (7) terlihat di antara keramaian kegiatan bakti sosial kesehatan Tzu Chi ke-155 di Pekanbaru. Dengan wajah polos khas anak-anak, ia datang bersama ibunya Ida Laisa (44) serta ayahnya Jono (46). Mereka membawa harapan sederhana untuk mendapatkan pengobatan bagi Alfian agar bibir sumbingnya dapat dioperasi hingga si kecil itu menjadi lebih berani, tumbuh sehat, serta dapat menjalani hari-harinya seperti anak-anak lainnya.

Pasangan Jono dan Ida Laisa di karuniai 3 putra, Roy Jordi (23), Marpin (17), dan si bungsu Alfian. Ayahnya yang bekerja sebagai buruh dengan penghasilan yang tidak selalu menentu. Dalam kesehariannya, pendapatan yang diperoleh terkadang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga. Meski hidup dengan keterbatasan, ia tetap berusaha memenuhi kebutuhan anak-anaknya dan memberikan yang terbaik bagi keluarganya.

Sedangkan ibunya, Ida Laisa merupakan seorang ibu rumah tangga yang telah melahirkan putra pertama dan keduanya dengan kondisi kesehatan normal. Namun, takdir berkata lain. Putra bungsunya, Alfian, terlahir dengan kondisi sumbing yang membuatnya membutuhkan perhatian dan penanganan khusus sejak lahir.

“Sedih kita lihat dia lahir dengan kondisi (sumbing) itu, air mata saya langsung menetes saat itu, Bidan pun ikut menangis, sebabnya saya sudah mengalami kan (Ida Laisa pun terlahir sumbing). Kuasa Allah tak ada nyangkal,” ucap Ida Laisa dengan air mata yang luruh.

Relawan Tzu Chi Pekanbaru, Valentina Angela melakukan kunjungan kasih ke Asrama Haji Pekanbaru (tempat para pasien dari luar wilayah menginap) untuk memastikan kesiapan Alfian menjalani operasi bibir sumbing.

Kini, Alfian telah duduk di bangku kelas satu Sekolah Dasar (SD) di Pulau Muda, Kecamatan Meranti, Kabupaten Pelalawan sebuah wilayah di Provinsi Riau. Di usianya yang masih kecil, ia terkadang harus menghadapi ucapan dari teman-teman sebaya yang kurang menyenangkan terkait kondisi yang dialaminya. Ketika di sekolah, Alfian tidak ingin lepas dari genggaman sang ibu lantaran ia takut mendengar perkataan yang membuat hatinya sedih.

“Kamu tuh bibirnya sumbing,” ucapan yang seringkali ia dengar dari teman-temannya. Alfian kemudian memilih untuk bercerita kepada sang ibu. Bagi Alfian, ibunya menjadi tempat untuk mengadu dan mendapatkan kembali rasa nyaman serta semangatnya. “Mah cuma aku seorang aja yang bibirnya kayak gini (sumbing) ya,” ucap Alfian mengadu kepada ibunya.

Sercercah Harapan pun Datang
Mengetahui adanya informasi tentang Baksos Kesehatan Tzu Chi Indonesia dari dokter di desanya, Ida segera bergegas mendaftarkan Alfian untuk mengikuti proses screening. Pada Sabtu, 1 Agustus 2026, Ida membawa Alfian ke RS. Awal Bros Hangtuah untuk menjalani pemeriksaan. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan oleh tim dokter TIMA Indonesia, kondisi Alfian dinyatakan baik dan hasil screening menunjukkan bahwa ia memenuhi kriteria untuk mendapatkan tindakan medis selanjutnya.

Kabar tersebut tentu menjadi kebahagiaan bagi Ida dan keluarga karena Alfian akhirnya memiliki kesempatan untuk mendapatkan penanganan yang selama ini diharapkan. “Alhamdulillah hasilnya bagus, saya bahagia sekali,” ujar ida dengan penuh syukur.

Alfian bersama teman-temannya bermain dengan riang di depan rumahnya di Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Pelalawan, Riau.

Selain Ida, Jono, sang ayah, juga turut merasakan kebahagiaan setelah mengetahui putranya mendapatkan kesempatan mendapatkan tindakan medis untuk mengatasi kondisi bibir sumbing yang dialaminya sejak lahir. Bagi Jono, kesempatan ini menjadi sebuah harapan baru agar Alfian dapat tumbuh lebih percaya diri dan menjalani hari-harinya tanpa harus merasa berbeda dari teman-teman sebayanya.

“Senang rasanya, gembira melihat dia akan dioperasi, sangat bersyukur lah,” ujarnya.

Rasa senang dan syukur keluarga itu bukan tanpa alasan, selain biaya yang terbatas, akses kesehatan pun masih sulit didapatkan di Pulau Muda. Hingga walaupun jarak antara Pulau Muda dan Pekanbaru terhitung sangat jauh, Alfian bersama sang ibu, rela menempuh perjalanan selama satu hari untuk tiba di lokasi Baksos Kesehatan Tzu Chi. Hal itu menjadi bagian dari ikhtiar keluarga untuk mendapatkan penanganan terbaik untuk Alfian.

Bagi orang tua, kesehatan anak bukan sekadar persoalan hari ini. Ada kekhawatiran, doa, dan harapan yang selalu menyertai setiap langkah. “Kami menuju ke sini lewat perjalanan darat satu hari, saya berharap Alfian nanti bisa baik-baik dan sehat seperti semula, seperti anak-anak lainnya,” tutur Ida pada saat dikunjungi relawan Tzu Chi Pekanbaru.

Di ruang tunggu sebelum menjalani operasi, Alfian bersama Ida Laisa tampak bahagia didampingi dan diberikan semangat oleh salah satu relawan Tzu Chi Pekanbaru.

Memperbaiki Kondisi Bibir Alfian
Pada Sabtu, 8 Agustus 2026, dengan penuh harapan, Ida setia mendampingi Alfian melewati setiap tahapan pelayanan dalam baksos kesehatan itu. Mulai dari melakukan pendaftaran ulang, menjalani pemeriksaan, hingga dengan sabar menunggu antrean untuk mendapatkan tindakan operasi. Meski harus menunggu cukup lama, Ida tetap tenang dan memastikan Alfian merasa nyaman.

“Walaupun ada rasa khawatir, saya tetap merasa senang. Alhamdulillah semoga semuanya berjalan lancar operasinya hari ini dan tidak ada kendala apa pun,” ucap Ida saat menunggu giliran di depan ruang operasi.

Sambil menunggu Alfian memasuki ruang operasi, Ida terus mendampingi dan menenangkan putranya. Dengan penuh kasih sayang, ia menguatkan Alfian agar tidak merasa takut, sembari bersama-sama melantunkan doa. Di tengah rasa harap dan cemas, doa menjadi kekuatan bagi ibu dan anak tersebut untuk melewati momen penting ini dengan tenang.

“Saya baca-baca doa agar dia tenang, pikiran saya juga tenang. Lihatlah dia enggak ada rasa takutnya kan,” ucap Ida sembari terus melantuntkan doa untuk menenangkan putranya.

Tim medis TIMA Indonesia sedang mengoperasi bibir Muhamad Alfian.

Setelah berpuasa dan menjalani pemeriksaan ulang, tibalah giliran Alfian memasuki ruang operasi bersama pasien bibir sumbing lainnya. Ida tetap setia menanti di luar sambil terus melantunkan doa, memohon agar proses operasi putranya berjalan lancar dan berhasil.

Alhamdulillah, sebentar lagi bibir anak saya akan membaik seperti teman-temannya yang lain, mudah-mudahan ndak ada yang meledeknya lagi, makin ramai kawannya,” tutur Ida.  

Sebenarnya tak hanya Alfian, Ida juga turut berpuasa. Ia sengaja menemani putranya menjalani puasa agar Alfian merasa memiliki teman dan tidak menjalani persiapan operasi seorang diri.

“Supaya anak saya ada temannya puasa, supaya dia ndak melihat aku makan-makan. Saya sudah janji juga dengan dia, kalau dia puasa, saya juga puasa,” tambahnya. Setelah hampir dua jam menunggu, Alfian akhirnya dibawa keluar dari ruang operasi menuju ruang pemulihan.

Keesokan harinya, Minggu, 9 Agustus 2026, tim dokter Tzu Chi melakukan kunjungan kepada para pasien bibir sumbing yang tengah menjalani masa pemulihan. Salah satunya adalah Alfian. Dokter Yantoko, Sp.BP (Bedah Plastik), turut melihat langsung kondisi bibir Alfian sehari pacsaoperasi.

Menurut dr. Yantoko, anak yang hanya menjalani operasi bibir sumbing tanpa disertai kelainan pada langit-langit mulut umumnya memiliki proses pemulihan yang lebih sederhana. “Ini hanya bibir saja. Untuk makan, bebas, tidak ada pantangan khusus. Yang penting, berat badannya jangan sampai turun dan harus banyak minum air putih,” jelasnya.

Dokter Yantoko, Sp,BP sedang melihat kondisi bibir Alfian setelah satu hari pascaoperasi di ruang pemulihan RS. Awal Bros Hangtuah.

Operasi ini menjadi harapan besar bagi Ida Laisa agar putranya, Alfian, dapat tumbuh dan menjalani kehidupan dengan penuh percaya diri, keteguhan hati, serta senyuman seperti anak-anak lainnya. Kehadiran para relawan Tzu Chi yang setia mendampingi selama proses tindakan medis pun menjadi penguat bagi Ida, membuatnya merasa tidak sendirian dalam melewati setiap tahapan pengobatan putranya.

“Rasanya senang banget, saya bersyukur ada relawan Tzu Chi yang mau mendampingi. Kami terbantu banget, tenang rasanya, buat saya jadi semakin kuat, sangat bersyukur mungkin ini keberuntungan anak saya, Alfian,” tutur Ida.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-155: Kembali Melihat Terang, Harapan Baru Rahmadan untuk Keluarga

Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-155: Kembali Melihat Terang, Harapan Baru Rahmadan untuk Keluarga

11 Agustus 2026

Melalui baksos kesehatan Tzu Chi bersama TIMA Indonesia di Pekanbaru, Rahmadan akhirnya menjalani operasi katarak dan kembali memiliki harapan untuk menatap masa depan lebih terang.

Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-155: Dari Pulau Muda, Alfian Menjemput Harapan dan Senyum Baru

Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-155: Dari Pulau Muda, Alfian Menjemput Harapan dan Senyum Baru

13 Agustus 2026

Langkah kecil Alfian dan keluarganya membawa asa besar. Mereka menempuh perjalanan panjang untuk mendapatkan pengobatan dalam Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-155 di Pekanbaru.

Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-155: Mengobati dengan Hati, Memulihkan Harapan Masyarakat Pekanbaru dan Sekitarnya

Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-155: Mengobati dengan Hati, Memulihkan Harapan Masyarakat Pekanbaru dan Sekitarnya

10 Agustus 2026

Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-155 hadir membawa kepedulian dan cinta kasih bagi masyarakat Pekanbaru, Riau, dan wilayah sekitarnya.

Bila kita selalu berbaik hati, maka setiap hari adalah hari yang baik.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -