Valentina Angela, salah satu relawan Tzu Chi Pekanbaru, melakukan kunjungan kasih ke rumah keluarga Rahmadan untuk memastikan kesehatan dan kesiapan Rahmadan sebelum menjalani operasi katarak.
Perban yang menutupi mata kiri Azhari Rahmadan perlahan dibuka. Pemuda 19 tahun itu kembali menatap sekelilingnya. Meski pandangannya belum sepenuhnya sempurna karena sedang menjalani pemulihan pascaoperasi katarak, ada sesuatu yang berbeda pagi itu. Cahaya terasa lebih terang, bayangan di hadapannya mulai terlihat lebih jelas. Senyum pun mengembang di wajah Rahmadan.
“Perbandingannya jauh, walaupun masih bayang-bayang, tapi jelas dan terang, kalau sebelumnya beda,” ungkap anak keempat dari delapan bersaudara ini.
Rahmadan, begitu ia akrab disapa, tinggal di Kelurahan Tangkerang Selatan, Kecamatan Bukit Raya, Pekanbaru, Riau. Ia hidup sederhana bersama ibu serta lima saudaranya.
Di tengah keterbatasan keluarga, Rahmadan tidak tinggal diam. Ia membantu perekonomian keluarga sebagai pekerja serabutan. Membersihkan rumah orang hingga menjadi pekerja bangunan dilakoninya. Apa pun pekerjaan yang dapat dilakukan, ia kerjakan demi meringankan beban sang ibu, Samsuarni (49).
Pada usia 13 tahun, Rahmadan harus menjalani kesehariannya dengan penglihatan mata kiri yang terganggu.
Ketika pertama kali menyadari ada sesuatu yang tidak biasa pada matanya, Rahmadan segera mengatakannya kepada ibunya. Pemeriksaan di rumah sakit kemudian membawa kabar yang tidak pernah mereka duga, yaitu bahwa Rahmadan mengalami katarak pada matanya.
“Mak, gak ada yang nampak ni. Sebelah mana? Sebelah kiri. Sewaktu ke rumah sakit, ternyata katarak, kena bola mata hitam itu udah habis ditutup dengan katarak,” cerita Samsuarni.
Sejak saat itu, Rahmadan terbiasa melihat dunia dengan pandangan yang buram sebelah. Ketika masih kecil, kondisi itu mungkin dapat ia jalani. Namun, persoalan menjadi semakin terasa saat Rahmadan mulai bekerja.
Samsuarni, ibunda Rahmadan, dengan penuh kasih menemani setiap proses baksos kesehatan operasi katarak mulai dari pendaftaran, skrining, cek kesehatan, operasi, hingga pascaoperasi.
Ketika Mata Membatasi Langkah
Bagi Rahmadan, bekerja bukan sekadar mencari penghasilan untuk dirinya sendiri. Setiap pekerjaan yang ia lakukan menjadi bagian dari upayanya untuk membantu keluarga. Sayangnya, katarak pada mata kirinya kerap membuat aktivitas sederhana menjadi lebih berat. Bahkan sedang bekerja, pandangannya dapat tiba-tiba menjadi buram.
“Kalau kerja, kadang waktu duduk sampai lima menit pas mau berdiri itu kayak langsung buram. Kerja jadi pelan-pelan, waktu itu kerja angkat barang bantu kawan pindah rumah,” cerita Rahmadan.
Ketika bekerja di bidang bangunan, gangguan penglihatan itu juga memengaruhi konsentrasinya. Ia harus bekerja lebih perlahan dan memberikan waktu bagi matanya untuk beradaptasi saat pandangan mulai mengabur. Kesalahan kecil pun pernah terjadi.
“Pernah ditegur karena adukan masak semennya kurang gitu,” tambahnya.
Bukan hanya saat bekerja, kondisi matanya juga menjadi risiko ketika Rahmadan mengendarai sepeda motor untuk berangkat maupun pulang bekerja. Jika terlalu dipaksakan, pandangannya semakin gelap.
“Karena mata kalau dipaksakan akan menggelap. Pernah juga ngalamin di SPBU, untung aja ada abang SPBU yang nolongin sampai ke musala langsung baring,” kenangnya.
Meski demikian, Rahmadan tetap berusaha bekerja. Keterbatasan penglihatan tidak menghentikan keinginannya untuk membantu ibunya.
Setelah melakukan pendaftaran ulang dan pengecekan kesehatan kembali, Rahmadan beserta pasien lainnya dengan penuh keyakinan menunggu antrean operasi yang akan dilaksanakan oleh tim dokter dan perawat dari TIMA Indonesia.
Setelah menjalani operasi katarak, Rahmadan sempat mengalami kedinginan ketika berada di ruang operasi. Dengan penuh perhatian, relawan Tzu Chi memberikan selimut dan minyak kayu putih sebagai penghangat.
Di balik perjuangan Rahmadan, selalu ada Samsuarni. Sebagai seorang ibu, ia memahami keterbatasan yang dihadapi anaknya. Pendidikan Rahmadan yang hanya sampai kelas tiga sekolah dasar membuat Samsuarni memikirkan masa depan anaknya. Kekhawatiran itu semakin besar ketika katarak turut membatasi kemampuan Rahmadan dalam bekerja.
Karena itulah, ketika anaknya kesulitan menyelesaikan pekerjaan, Samsuarni tak segan turut membantu.
“Biar mama bantu letak kurangnya di mana, misalnya nyapu atau ngepel. Dia bilang, ‘Enggak sanggup, Mak; ya udah, biar Mama bantu biar Mama ngepel. Nah, itu kan kemarin dia membersihkan rumah orang, ibu ikut bantu,” ungkap Samsuarni.
Bagi Samsuarni, mendampingi anak bukan hanya dilakukan di rumah. Ketika kesempatan untuk mengobati mata Rahmadan akhirnya datang, ia pun setia berada di sisinya.
Samsuarni menemani Rahmadan menjalani setiap tahapan untuk mengikuti baksos kesehatan dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, mulai dari pendaftaran, skrining baksos, pemeriksaan kesehatan, operasi katarak, hingga pemeriksaan pascaoperasi.
Jalinan Jodoh yang Kembali Bertemu
Bagi keluarga Samsuarni, perjumpaan dengan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bukanlah yang pertama. Pada 2014 hingga 2015, Samsuarni pernah menerima bantuan sembako dan tunjangan tunai untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Bertahun-tahun kemudian, jalinan jodoh itu kembali bertemu.
Rahmadan terdaftar sebagai salah satu pasien bakti sosial kesehatan untuk menjalani operasi katarak gratis yang diselenggarakan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bersama Tzu Chi International Medical Association (TIMA) Indonesia pada Sabtu, 8 Agustus 2026 di Rumah Sakit Awal Bros Hang Tuah, Pekanbaru, Riau.
Bagi Samsuarni, bantuan yang kembali diterima keluarganya membawa rasa syukur tersendiri.
“Terima kasih banyak udah membantu kami dalam kondisi apa pun. Saya bahagia rasanya udah pernah menyatu dengan Yayasan Buddha Tzu Chi, karena segala pelajaran dari Tzu Chi udah banyak kami ambil,” ucap Samsuarni bersyukur.
Setelah tim dokter TIMA memeriksa mata Rahmadan pascaoperasi katarak, Suster Wenny memberikan anjuran dan semangat kepada Rahmadan saat menjalani masa pemulihan nanti.
Setelah menjalani operasi katarak dan pemeriksaan mata pascaoperasi, Rahmadan tetap harus menjalani pemulihan dan meminum obat yang ia terima sesuai anjuran dokter.
Kesempatan menjalani operasi katarak menjadi kabar yang sangat berarti bagi Rahmadan. Setelah bertahun-tahun hidup dengan pandangan terbatas, ia mulai membayangkan kehidupan dengan penglihatan yang lebih baik.
Yang pertama terlintas: ia ingin kembali bekerja dengan lebih fokus.
“Senang awak, jadi bisa fokus kerja lagi nanti kalau pandangan udah bagus dan enggak terganggu lagi,” harap Rahmadan.
Operasi pun selesai dilaksanakan. Keesokan harinya, Rahmadan kembali ke Rumah Sakit Awal Bros Hang Tuah untuk menjalani pemeriksaan pascaoperasi. Di sanalah perban yang menutupi mata kirinya dibuka.
Perlahan, dunia yang selama bertahun-tahun terlihat buram mulai lebih terang. Senyum Rahmadan menjadi penanda sederhana bahwa ada sesuatu yang telah berubah. Bukan hanya penglihatannya, tetapi juga harapannya.
Rahmadan pun mengungkapkan rasa terima kasih kepada para relawan Tzu Chi yang mendampinginya serta tim medis TIMA yang menangani operasi kataraknya.
“Alhamdulillah bagus semua, semuanya ramah, lembut. Dari skrining, operasi, sampai sekarang gitu. Terima kasih buat Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia udah bantu pulih kembali mata saya, terima kasih juga buat dokter udah bantuin buang kataraknya,” tuturnya.
Bagi Rahmadan, mata yang kembali melihat lebih terang berarti kesempatan untuk melangkah lebih mantap. Ia ingin kembali bekerja, membantu ibunya, dan menjalani kesehariannya tanpa harus terus merasa khawatir ketika pandangannya mendadak menggelap.
Pada usia 19 tahun, terang itu akhirnya kembali hadir. Dan bersama terang tersebut, tumbuh pula sebuah harapan sederhana dari seorang anak yang selama ini tak pernah berhenti berusaha untuk keluarganya.
Editor: Anand Yahya