Dokter Jupanri Ferdinan Siregar menaiki motor untuk melakukan pemeriksaan awal di desa.
“Mampu melayani orang lain lebih beruntung daripada harus dilayani”
-Kata Perenungan Master Cheng Yen-
Kamis (6/8/2026), sekitar pukul 07.30 WIB matahari sudah mulai agak meninggi. Satu per satu kendaraan melaju menuju sebuah mini market di Rumbai, Kecamatan Kempas. Selain membawa relawan, kendaraan ini juga membawa pasien dan keluarga pendamping yang telah dijemput di beberapa desa, seperti Desa Seberang Sanglar, Desa Pebenaan, Desa Suhada, dan Desa Nusantara Jaya. Begitu semua kendaraan berkumpul, relawan segera melakukan verifikasi terakhir. Setelah dibagi beberapa kendaraan, rombongan sekitar 8 kendaraan ini segera melaju menuju Pekanbaru membawa 10 orang pasien dan keluarga pendamping.
Relawan memilih berangkat dua hari sebelum tindakan operasi dengan pertimbangan para pasien memiliki cukup waktu untuk beristirahat. Maklum perjalanan yang ditempuh sekitar 10 jam, belum lagi ada sistem buka tutup jalan karena sedang ada perbaikan. Menjelang magrib, rombongan besar ini sampai di Asrama Haji Pekanbaru untuk beristirahat.
Dokter Jupanri Ferdinan Siregar didampingi relawan tampak memeriksa mata seorang warga.
Perjalanan panjang para pasien ini tak lepas dari jerih payah relawan Xie Li Indragiri Hilir. Sejak bulan Mei, dokter dan relawan turun ke desa-desa menginformasikan akan ada bakti sosial operasi katarak di Pekanbaru. Dibantu perangkat desa setempat, dokter dan relawan mencari, mendata, dan melakukan skrining awal.
“Untuk kegiatan kan memang sudah diinformasikan ada kegiatan operasi katarak, bibir sumbing, hernia di bulan 8 jadi kami di region Indragiri sudah melakukan persiapan beberapa bulan sebelumnya. Dari bulan 5 kami sudah coba mendata calon-calon pasien, sudah berkoordinasi dengan desa sekitar perusahaan. Ada beberapa desa, berkoordinasi dengan kepala desa mencoba meminta datanya apakah ada pasien-pasien yang sesuai dengan kriteria yang akan dioperasi seperti itu,” terang dr. Jupanri Ferdinan Siregar, dokter Region Indragiri yang sejak awal turut mendampingi.
Dari proses skrining di desa-desa, terkumpul 16 orang yang dibawa skrining lanjutan di RS Awal Bros pada 1 Agustus 2026. Dari tahap skrining ini, akhirnya 10 orang yang dinyatakan lolos mengikuti operasi. Enam orang tidak lolos dengan beragam sebab, seperti gulanya tinggi, tekanan darah tinggi, dan lainnya.
Salah satu warga yang dinyatakan lolos untuk menjalani adalah Tumini (54) yang tinggal Desa Suhada. Sehari-hari ia menggarap ladang peninggalan sang suami yang telah lama meninggal dunia. Ibu 4 orang anak ini terganggu penglihatan sebelah kanannya sejak 10 tahun terakhir. Belum pernah ia memeriksakan matanya karena keterbatasan biaya. “Saya menderita sakit katarak ini sudah 10 tahun kalau terkena sinar matahari, kena lampu terang itu merasa ganjel,terganggu, pedih gitu. Apalagi kalau kena angin, pedih sekali,” ujarnya. Dari hasil skrining, Tumini menderita pterygium yaitu kondisi adanya lemak atau daging tumbuh di mata.
Sopianto (baju warna biru) dan Tumini (kerudung kuning) di dalam kendaraan menuju Pekanbaru.
Di desa yang sama, Sopianto (52) juga terganggu penglihatannya. Sehari-hari ia merawat kebun sawit keluarga juga membuka lapak kelapa. Keterbatasan penglihatan membuat aktivitas sehari-harinya tidak lagi leluasa.
“Kalau 10 tahun sudah ada tapi kami tak juga menghitung tapi mungkin ada 10 tahun lah yang kena itu. Sebetulnya masih bisa melihat meski tidak terlalu jelas. Cuma kalau panas, mata jadi merah,” ucap Sopianto. Dari pemeriksaan dokter, Sopianto juga menderita pterygium.
Kesempatan yang Dinanti
Kesempatan mendapatkan operasi gratis di Rumah Sakit Awal Bros menjadi berkah yang disyukuri Tumini dan Sopianto. Dengan sabar mereka mengikuti semua tahapan operasi. Termasuk harus menunggu cukup lama menanti selesainya operasi katarak terlebih dahulu. Tumini sesekali terlihat berdoa. Ditemani Tusi Rahayu (anak kedua) dan cucunya, ia sabar menanti giliran operasi. Bantuan ini menjadi penantian panjang yang sudah lama dinantikan.
“Saya merasa terbantu dari relawan Tzu Chi alhamdulilah bapak ibu telah membimbing saya operasi. Perasaan senang saya karena penyakit saya ini diangkat,” ucap Tumini.
Dokter Jupanri Ferdinan Siregar menuntun Sopianto saat keluar dari ruang operasi.
Rasa syukur yang sama juga dirasakan Sopianto. Selama ini, penglihatan yang terganggu membuat ruang geraknya menjadi terbatas. Ketika mendapat kesempatan untuk menjalani operasi, ia tidak menyia-nyiakannya.
Baginya, bantuan ini bukan sekadar sebuah tindakan medis. Lebih dari itu, ada harapan untuk kembali melakukan berbagai aktivitas dengan lebih mudah dan mandiri. “Syukur alhamdulilah kemarin belum jelas sekarang lebih jelas. Kalau tidak ada bantuan dari relawan mungkin belum bisa operasi, mungkin akan agak lama mengumpulkan dana untuk operasi,” ungkap Sopianto.
Mata sebelah kanan Tumini yang diperban setelah menjalani operasi.
Perjalanan selama 10 jam akhirnya menjadi bagian kecil dari sebuah perjuangan besar. Sebab bagi relawan Xie Li Indragiri, membantu bukan hanya tentang membawa seseorang dari satu tempat ke tempat lain. Ada kepedulian yang ikut berjalan bersama, menemani dalam lelah, memastikan dalam perjalanan, dan menghadirkan keyakinan bahwa selalu ada harapan bagi mereka yang membutuhkan.
“Tentu saja harapan kami yang punya kendala penglihatannya semoga penglihatannya berangsur pulih, bisa melihat, bisa beraktivitas kembali. dan semoga proses penyembuhannya juga berjalan dengan baik. Semoga semuanya bisa sembuh seperti yang diharapkan,” pungkas dr. Jupanri Ferdinan Siregar.
Hari itu, sepuluh pasien datang dari jauh membawa harapan. Mereka pulang dengan membawa sesuatu yang jauh lebih berharga, kesempatan untuk menatap kembali dunia dengan lebih terang.
Editor: Metta Wulandari