Bakti Sosial Kesehatan Degeneratif, Wujud Kepedulian Kepada Penerima Bantuan

Jurnalis : Robby Mulia Halim (Tzu Chi Medan), Fotografer : Kamin, Metta Puspa Sari, Robby Mulia Halim (Tzu Chi Medan)

Relawan Tzu Chi Medan komunitas Hu Ai Mandala mengadakan Bakti Sosial Kesehatan Degeneratif yang pertama bagi Gan En Hu (penerima bantuan Tzu Chi) dan orang tua anak asuh yang berusia 40 tahun ke atas.

Kesehatan merupakan salah satu aspek penting yang berpengaruh terhadap kualitas hidup seseorang. Menjaga kesehatan dapat dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana, seperti memperhatikan pola makan dan menerapkan gaya hidup sehat dalam keseharian. Namun, hal tersebut kerap terabaikan karena berbagai faktor, seperti kesibukan, kondisi ekonomi, serta keterbatasan pengetahuan mengenai pentingnya menjaga pola hidup sehat. Kondisi ini terutama dialami oleh masyarakat lanjut usia (lansia) yang rentan mengalami penyakit degeneratif, bahkan tanpa disadari.

Kepedulian terhadap kondisi tersebut mendorong relawan Tzu Chi Medan komunitas Hu Ai Mandala mengadakan Bakti Sosial Kesehatan Degeneratif untuk pertama kalinya bagi para Gan En Hu (penerima bantuan Tzu Chi) dan orang tua anak asuh berusia 40 tahun ke atas. Kegiatan ini dilaksanakan bersamaan dengan krgiatan Kepulangan Gan En Hu dan Anak Asuh pada Minggu, 2 Agustus 2026, di Depo Pelestarian Lingkungan Mandala.

Sebanyak 66 relawan Tzu Chi dan 8 relawan TIMA yang terdiri atas 5 dokter umum dan 3 apoteker turut menyukseskan kegiatan dan bekerja sama dengan penuh semangat cinta kasih dalam kegiatan ini.

Bakti sosial kesehatan ini menjadi wujud perhatian dan kepedulian relawan terhadap kesehatan para penerima bantuan dan orang tua anak asuh Tzu Chi yang berusia 40 tahun ke atas.

Pasien menjalani skrining awal yang meliputi pengukuran tinggi badan, lingkar perut dan berat badan. Setiap data dicatat dengan cermat sebagai dasar bagi dokter dalam memberikan saran yang tepat sasaran bagi pasien.

Para pasien berkonsultasi dengan dokter umum berdasarkan hasil skrining sebelumnya. Pasien bisa bertanya mengenai kendala dan masalah kesehatan yang dihadapi dan dokter TIMA memberikan anjuran setelah mendengarkan keluhan pasien.

“Bakti sosial ini berfokus pada pencegahan, deteksi dini dan pengobatan penyakit degeneratif seperti kolestrol tinggi, asam urat, diabetes, hipertensi dan masalah kesehatan lainnya. Banyak Gan En Hu kita terutama yang lanjut usia rentan terhadap penyakit tersebut dan terkendala kondisi ekonomi untuk memeriksakan kesehatannya. Hal ini tentunya berdampak terhadap kualitas hidup dan aktivitas mereka sehari-hari,” kata Tety, koordinator kegiatan.

Bakti sosial ini direncanakan berlangsung secara berkesinambungan sebagai upaya memantau kondisi kesehatan para penerima manfaat.

“Tujuan bakti sosial degeneratif tentu saja untuk memperhatikan kesehatan Gan En Hu dan orang tua anak asuh dan mencegah penyakit yang telah diderita berkembang lebih jauh. Bagi yang terindikasi penyakit degeneratif akan diberikan obat, dipantau secara berkala dan diminta datang lagi ke bakti sosial kedua dan ketiga di bulan September dan Oktober. Harapannya kondisi kesehatan mereka akan stabil setelah tiga bulan dan setelah itu mereka dapat menjaga pola hidup sehat,” ujar dr. Nany Taminsono, MKT, koordinator TIMA.

Sekitar pukul 08.00, para penerima bantuan dan orang tua anak asuh mulai berdatangan ke Depo Pelestarian Lingkungan. Mereka disambut hangat oleh relawan, kemudian diarahkan menuju meja pendaftaran untuk pendataan nama dan usia serta mengambil nomor antrean. Setelah itu, peserta menjalani skrining kesehatan yang meliputi pengukuran tinggi badan, lingkar perut, berat badan, serta pemeriksaan tekanan darah, gula darah, asam urat, dan kolesterol oleh tim medis TIMA. Setiap hasil pemeriksaan dicatat secara cermat sebagai dasar bagi dokter dalam memberikan saran dan penanganan yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.

Para pasien menebus obat yang diresepkan dokter saat konsultasi di bagian farmasi.

Apoteker dari TIMA menjelaskan anjuran penggunaan obat dan hal-hal yang perlu diperhatikan kepada pasien

Para pasien kemudian diarahkan ke lantai dua untuk berkonsultasi dengan dokter umum berdasarkan hasil skrining sebelumnya. Dalam sesi konsultasi ini, pasien dapat menyampaikan berbagai keluhan maupun permasalahan kesehatan yang dialami. Setelah mendengarkan keluhan pasien dan mempelajari hasil pemeriksaan, dokter TIMA memberikan penjelasan, saran kesehatan, serta resep obat yang dapat ditebus di bagian farmasi.

Relawan turut mendampingi dan menuntun pasien yang memiliki keterbatasan dalam bergerak. Selain membantu selama proses pemeriksaan, relawan juga memberikan dukungan moral, motivasi, dan kehangatan agar para pasien tetap bersemangat menjaga kesehatan. Setelah seluruh rangkaian pemeriksaan selesai, para pasien diarahkan kembali ke lantai satu untuk menikmati makan siang berbasis nabati yang sehat dan bergizi, yang telah dipersiapkan dengan penuh kesungguhan oleh relawan tim konsumsi.

Edukasi Kesehatan
Selain mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan secara gratis, para pasien juga mengikuti edukasi kesehatan yang bertujuan memberikan pemahaman mengenai berbagai penyakit yang umum muncul seiring bertambahnya usia, sekaligus mengenalkan langkah-langkah pencegahan melalui penerapan pola hidup sehat.

Dokter Nany Taminsono, MKT menjelaskan secara singkat dan sederhana apa itu hipertensi, jenis, faktor penyebab dan komplikasinya dengan penyakit lainnya serta cara pencegahan dan pengobatan hipertensi.

Pada bakti sosial pertama ini, edukasi kesehatan mengangkat tema hipertensi yang disampaikan oleh koordinator TIMA, dr. Nany Taminsono, MKT. Dalam penyuluhannya, dr. Nany menjelaskan secara singkat dan sederhana mengenai hipertensi, termasuk hipertensi primer yang penyebabnya tidak diketahui serta hipertensi sekunder yang memiliki penyebab tertentu. Ia juga menjelaskan berbagai faktor risiko hipertensi, baik yang dapat dikontrol, seperti obesitas, konsumsi garam berlebihan, kurang berolahraga, dan stres, maupun faktor yang tidak dapat dikontrol, seperti faktor genetik dan usia.

Selain itu, peserta mendapat penjelasan mengenai gejala hipertensi, komplikasi yang dapat terjadi seperti stroke, penyakit jantung, dan gangguan ginjal, serta langkah-langkah pencegahan dan pengobatannya.

“Usia boleh bertambah, tapi semangat sehat jangan berkurang. Kehidupan berubah bukan karena satu usaha yang besar, melainkan berbagai usaha kecil yang dilakukan secara konsisten,” pesan dr. Nany menutup penyuluhan.

Selain menambah pemahaman dan wawasan, penyuluhan ini juga menjadi wadah bagi para peserta untuk memperoleh jawaban atas berbagai pertanyaan seputar kesehatan yang selama ini belum mereka pahami karena keterbatasan dalam mengakses informasi.

Perhatian yang Menyejukkan Hati
Suasana hangat terjalin antara relawan, tim medis, dan para pasien sejak awal kegiatan. Senyuman, keramahan, dan ketulusan dalam melayani menghadirkan suasana penuh cinta kasih yang membuat setiap interaksi terasa menyejukkan.

Kehangatan tersebut turut dirasakan oleh Hera Puspita (42), penerima bantuan Tzu Chi sejak 2025 berupa santunan pengobatan bagi anaknya yang mengalami kelumpuhan. Kesibukannya mencurahkan waktu dan tenaga untuk merawat keluarga, terutama anaknya, membuat Hera kurang memperhatikan pola hidup sehatnya sendiri. Setelah menjalani pemeriksaan, ia mendapatkan obat-obatan serta penjelasan mengenai pola hidup sehat dari dokter TIMA.

“Terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi yang memberikan pemeriksaan kesehatan gratis. Dari awal saya dibantu, relawan Tzu Chi sangat perhatian dan selalu memberi dorongan semangat dan motivasi. Saya berharap Yayasan Buddha Tzu Chi semakin maju dan berkembang serta terus membantu orang seperti bakti sosial ini,” ungkap Hera yang telah menjadi donatur Tzu Chi sejak dua bulan terakhir.

Selesai menjalani pengobatan, para pasien menikmati makan siang vegetarian sehat dan bergizi yang disiapkan relawan tim konsumsi dengan kesungguhan hati.  

Sebanyak 37 penerima bantuan dan 31 orang tua anak asuh mendapatkan pemeriksaan serta pengobatan gratis dalam bakti sosial ini. Lebih dari sekadar pelayanan medis, Bakti Sosial Kesehatan Degeneratif juga menghadirkan kebersamaan, rasa syukur, dan inspirasi bagi seluruh pihak yang terlibat.

Bagi para pasien, kegiatan ini menjadi bentuk perhatian dan kepedulian yang memberikan ketenangan hati. Sementara bagi para relawan, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk semakin memperkuat tekad dalam menumbuhkan benih kebajikan dan cinta kasih kepada sesama, selaras dengan pesan Master Cheng Yen dalam ceramahnya.

“Harapan saya, kapan pun dan di mana pun berada, para relawan dapat menabur benih kebajikan agar berakar dan tumbuh lebat. Satu benih bertumbuh menjadi tak terhingga dan yang tak terhingga bertumbuh dari satu. Ini dimulai dari sebersit niat dan sebutir benih kebajikan,” kutipan dari Ceramah Master Cheng Yen.

Editor: Fikhri Fathoni

Artikel Terkait

Menebar Cinta Kasih Lewat Pelayanan Kesehatan dan Pengembangan Bakat Bagi Anak Asuh

Menebar Cinta Kasih Lewat Pelayanan Kesehatan dan Pengembangan Bakat Bagi Anak Asuh

06 Agustus 2026

Relawan Tzu Chi komunitas Hu Ai Titi Kuning menyelenggarakan bakti sosial penyakit degeneratif bagi para penerima bantuan Tzu Chi.

Sepaham, Sepakat dan Sejalan dalam Misi Kesehatan

Sepaham, Sepakat dan Sejalan dalam Misi Kesehatan

09 Agustus 2019
Baksos kesehatan degeneratif ke-2 bagi masyarakat Ario Kemuning, Palembang ini diikuti oleh 117 pasien (4/8/19). Dalam persiapan dan pelaksanaan baksos, relawan Tzu Chi Palembang pun semakin solid dan kompak dalam melayani masyarakat.
Melakukan Dengan Sukarela, Menerima Dengan Sukacita.

Melakukan Dengan Sukarela, Menerima Dengan Sukacita.

03 Juli 2019

Baksos Kesehatan Degeneratif Tzu Chi yang pertama diadakan di SLB Tuna Grahita Karya Ibu Palembang. Kegiatan ini melibatkan 72 relawan dan 40 orang tim medis (17 dokter, 5 dokter Koas, 11 perawat dan 7 apoteker). Sebelumnya pada tanggal 23 Juni 2019 telah diadakan survei untuk wilayah setempat, dan sebanyak 670 kupon pemeriksaan kesehatan diberikan kepada warga.

Orang yang mau mengaku salah dan memperbaikinya dengan rendah hati, akan mampu meningkatkan kebijaksanaannya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -