Banjir Manado: Berlapang Dada

Jurnalis : Metta & Teddy, Fotografer : Metta & Teddy
 

foto
Dalam membantu warga,Tzu Chi selalu memerhatikan warga dengan sikap ramah dan santun.

Mama Dince, dengan semangat memegang sekop dan mengeruk lumpur yang telah mengering di halaman rumahnya. Ditemani anak dan juga tetangganya, ia terlihat tangguh karena hanya ia satu-satunya perempuan di antara para pemuda. Sambil menyekop lumpur kering itu, ia bernyanyi lantang: menyanyikan sebuah lagu ciptaannya yang berkisah mengenai banjir Manado…

Banjir di Manado
Torang lari baju di badan..
Sonyamda riki barangka to barang-barang
Masih ada pe sisa mar so ba pece-pece
Tapi apa mo dikata, takdir yang bicara
Hanya syukur pada tuhan karena masih diberikan kekuatan dan kesehatan

Dalam lagu yang secara spontan ia nyanyikan tersebut, tersirat bahwa banjir bandang yang terjadi memang meninggalkan luka. Tak ada barang yang bisa ia selamatkan, hanya baju yang menempel di badannya. Belum lagi lumpur yang terbawa arus banjir membuat rumah dan lingkungannya hampir sudah tak ada rupa. Namun mau dikata apa kalau takdir yang telah menentukan nasib mereka. Tak ada yang perlu disesali dan tak perlu merasa kehilangan karena kekuatan dan kesehatan masih ada dalam diri. "Torang (kita) masih bisa bergerak, kalau diam saja bisa stres," ujarnya. Dince memang dikenal sebagai wanita yang periang di lingkungannya. Dengan usianya yang lumayan matang (46), keberadaannya yang hobi menghibur dengan nyanyian seringkali memudahkannya untuk dikenal oleh warga lainnya. "Puji Tuhan," begitu ucapnya berkali-kali.

Tak jauh berbeda dengan Dince, Mom Wenba Tumimornor juga menganggap bahwa bantuan Tzu Chi merupakan perpanjangan tangan dari Tuhan. Walaupun rumahnya masih jauh dari kata bersih, namun ia mencoba bersyukur. Saat relawan memasuki rumahnya, ia langsung menunjukkan bekas air banjir yang menggenang bahkan sampai menghancurkan sebagian dari rumahnya. Sisa pohon Natal juga masih teronggok di atas kursi di sudut ruangan. "Terima kasih pada Tuhan yang telah memberikan bantuannya melalui Tzu Chi," ungkapnya.

foto  foto

Keterangan :

  • Program pembersihan lingkungan melalui cash for work ini disambut bahagia oleh para warga, Bantuan ini merupakan dukungan yang diberikan oleh Tzu Chi untuk mereka (kiri).
  • Lurah Paal IV, Joyce (tengah) memberikan koordinasi mengenai jumlah kelompok yang akan mengikuti Program Cash For Work dari Tzu Chi (kanan).

Begitu juga dengan Warni Umar dan suaminya, Pasil Saus yang merasa bahwa bantuan dari Tzu Chi ini berbeda dengan bantuan lainnya. "Kita dibantu untuk membersihkan rumah kita, dan kita dibayar. Ini bantuan yang menurut kami sangat bagus sekali," ungkap Warni yang sehari-hari merupakan seorang guru ngaji. Rumahnya sendiri kini ditambal dengan terpal karena sebagian bangunannya terbawa arus air banjir.

Torang Samua Bersaudara
Hari itu, sebanyak 999 warga Kampung Malvina, Kelurahan PAAL IV, kembali mengikuti kegiatan Cash-for-Work yang dilakukan bersama dengan Tzu Chi. Mulai dari jam 8 pagi, mereka berkumpul di lapangan setempat dan mulai mengikuti pengarahan yang diberikan oleh para relawan Tzu Chi.

Salah satunya adalah Latif, kakek berusia 78 tahun ini sedang duduk di bangku taman, dekat dengan rumahnya di Kelurahan Paal IV, ketika melihat rombongan relawan Tzu Chi datang. Seketika itu pun, ia bangkit menghampiri relawan dengan senyum gembira, menyambut relawan Tzu Chi.

foto  foto

Keterangan :

  • Antonette (kiri) bersyukur karena ketika bencana datang, banyak warga sekitar dan umat dari gereja yang membantunya menguras lumpur dari rumahnya (kiri).
  • Tidak hanya pemberian bantuan uang tunai, relawan juga memberikan Wipot, ember, dan sikat untuk membersihkan lantai rumah warga dari kuman (kanan).

Latif sendiri adalah salah satu warga yang ikut berpartisipasi dalam program cash for work, tetapi karena usianya yang sudah lanjut maka putrinya yang menggantikan untuk membersihkan saluran air yang tersumbat di depan rumahnya. Sembari melihat putrinya bekerja, ia berbicara kepada relawan mengenai asal muasal Kampung Malvina, Kelurahan Paal IV. Pada awalnya Kampung Malvina adalah sebuah aliran Sungai Tondano. Pada tahun 1936, terjadi longsor dan memotong aliran Sungai Tondano. Seiring berjalannya waktu aliran sungai yang awalnya terpotong, mulai membentuk aliran sungai baru yang mengelilingi Kampung Malvina ini. Dengan adanya aliran air ini , tanah baru ini pun menjadi subur dan digunakan oleh warga sekitar untuk bercocok tanam, karena lahan ini sangat bagus untuk menanam buah-buahan: durian, duku, dan kelapa.

Setelah lama kemudian, tahun 1981 warga mulai membangun pemukiman di sini yang kemudian dikenal dengan nama Kampung Malvina, Kelurahan Paal IV, karena letaknya hanya 4 km dari kota. Aliran air Sungai Tondano juga digunakan oleh PLN setempat sebagai pembangkit listrik untuk kampung ini. Latif mengatakan jika banjir kali ini merupakan banjir paling parah yang dialami oleh warga Kelurahan Paal 4.

Hal senada juga diungkapkan oleh Antonette (58). Antonette memiliki 9 anak, dan 2 orang diantaranya sudah meninggal. Rumahnya yang terletak di Kelurahan Paal IV, Kecamatan Tikala, Kampung Malvina, Manado, terendam banjir cukup parah. Antonette yang bertempat tinggal persis di pinggir aliran sungai, tidak menduga banjir akan meninggi hingga mendekati atap rumahnya. "Awalnya banjir hanya di sepanjang aliran sungai, karena dari rumah kita bisa lihat rumah-rumah kampung di bawah hanyut dibawa air, tetapi pelan-pelan air makin naik hingga hampir mencapai atap rumah. Kami pun langsung keluar rumah mengungsi tanpa sempat mengambil barang apa pun," jelas Antonette.

Meskipun harta benda hanyut dibawa air, Antonette tetap memanjatkan syukur karena mereka sekeluarga dapat mengungsi di saat yang tepat. "Beruntung ada teman-teman dari gereja dan ada Yayasan Buddha Tzu Chi yang memberikan angkong dan sekop, sehingga kami bisa mengeruk lumpur keluar," ucapnya penuh syukur. "Saya tidak akan menyalahkan siapa-siapa dalam bencana ini, karena ini adalah rencana Tuhan. Kita hanya bisa mengambil hikmah, contohnya banyak anak-anak yang tidak tinggal bersama orang tuanya, bisa berkumpul bersama untuk merapikan rumah mereka. Lalu antar umat beragama saling membantu seperti yang dilakukan Yayasan Buddha Tzu Chi kepada kami. Saya sangat bersyukur, semoga Tuhan memberkati," ungkapnya. Antonette pun berujar, "Torang Samua Basaudara (Kita semua adalah bersaudara) karena kita tinggal di atas bumi dan di bawah langit yang sama."

  
 

Artikel Terkait

Tzu Shao  Summer Camp 2013

Tzu Shao Summer Camp 2013

15 Juli 2013 Ketika memasuki museum, anak-anak merasa bangga ketika melihat adanya replika candi Borobudur dalam museum of world religions. Untuk itu kita sebagai anak bangsa harus lebih menghargai keindahan dan kekayaan alam Indonesia, karena bangsa lain begitu terpesona dengan keindahan alam Indonesia.
Suara Kasih: Berdoa Bagi Keselamatan Dunia

Suara Kasih: Berdoa Bagi Keselamatan Dunia

17 Januari 2012
Insan Tzu Chi tak hanya membawakan pakaian dan makanan bagi orang yang hidup menderita, namun juga senantiasa memberikan kehangatan dan dukungan bagi batin mereka. Inilah yang dilakukan oleh insan Tzu Chi di luar negeri.
Waisak 2557: Menumbuhkan Semangat Berbakti

Waisak 2557: Menumbuhkan Semangat Berbakti

28 Mei 2013 Melalui prosesi Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia ini, semoga dapat memberikan perubahan sikap ke arah yang lebih baik serta menumbuhkan batin yang penuh dengan cinta kasih dan kasih sayang pada semua makhluk.
Hakikat terpenting dari pendidikan adalah mewariskan cinta kasih dan hati yang penuh rasa syukur dari satu generasi ke generasi berikutnya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -