Banjir Sumatera: Alat Berat Tzu Chi Buka Akses Aceh Tamiang

Jurnalis : Liani (Tzu Chi Medan), Fotografer : Liani (Tzu Chi Medan)

Relawan Tzu Chi menyaksikan tumpukan lumpur kering di Desa Kesehatan menjadi salah satu fokus pembersihan dan siap diangkut menggunakan dump truck. Fokus awal pembersihan lumpur dilakukan di pusat kota untuk mempercepat pemulihan roda ekonomi masyarakat.

Banjir besar yang melanda Aceh Tamiang pada November 2025 meninggalkan luka yang tak mudah dilupakan. Bukan hanya air yang datang dan pergi, melainkan endapan lumpur tebal yang menutup jalan, rumah, sekolah, hingga pusat ekonomi warga. Aktivitas lumpuh. Banyak keluarga mengungsi. Harapan seakan ikut tertimbun bersama lumpur.

Melihat kondisi itu, Yayasan Buddha Tzu Chi Medan bergerak cepat. Selain menyalurkan bantuan sandang, pangan, pengobatan, dapur umum, hunian sementara (huntara), hingga hunian tetap, Tzu Chi juga memberikan dukungan operasional berupa alat berat dan dump truck untuk membantu pembersihan serta pemulihan wilayah terdampak.

Hingga Februari 2026, alat berat masih bekerja di berbagai titik. Di balik suara mesin ekskavator dan dump truck yang tak henti, ada upaya panjang untuk membuka kembali akses dan mengangkat kembali harapan warga yang sempat tertutup lumpur.

Menghidupkan Roda Ekonomi dari Pusat Kota Hingga Ke Desa
Fokus awal pembersihan lumpur dilakukan di pusat kota. Tujuannya jelas, mempercepat pemulihan roda ekonomi masyarakat. Wilayah Kampung Kesehatan menjadi salah satu prioritas, termasuk RSUD Aceh Tamiang di Kampung Kesehatan, Kecamatan Karang Baru. Lumpur setinggi 30 cm hingga 1 meter menutup jalan dan fasilitas umum, membuat aktivitas warga terhambat selama berbulan-bulan.

Seiring waktu, operasional alat berat meluas hingga ke wilayah pinggiran kota dan dusun-dusun, termasuk Dusun Rejo di Desa Suka Rahmat serta Desa Air Tenang. Pada 3 Februari 2026, lima relawan Tzu Chi Medan meninjau langsung lokasi bantuan alat berat di tiga titik: Bawaslu Kampung Kesehatan (Kecamatan Karang Baru), Dusun Rejo (Desa Suka Rahmat), serta Desa Air Tenang. Peninjauan dilakukan bersama kepala desa untuk koordinasi dan evaluasi pemulihan.

Alat berat bantuan dari Yayasan Tzu Chi membuka kembali akses jalan yang terputus akibat tanah longsor pascabanjir di Desa Suka Rahmat.

Di antara relawan yang terus turun ke lapangan, ada sosok Tjun Ho. Relawan senior yang bergabung sejak 2004 ini kembali terjun langsung membantu operasional alat berat atas arahan Mujianto, Ketua Tzu Chi Medan. “Awalnya hanya tersedia tiga unit alat berat. Namun kini berkembang menjadi enam unit, ditambah tujuh unit dump truck dan satu mobil pengangkut bahan bakar,” ungkap Tjun Ho.

Selama hampir dua bulan, tim membersihkan lumpur dan kayu-kayu yang menutup akses jalan. Lebih dari satu kilometer jalan berhasil dibuka kembali. Pengalaman Tjun Ho dalam misi kemanusiaan tsunami Aceh 2004 membuatnya memahami bahwa setiap bencana memiliki karakter berbeda. Jika tsunami menyapu bersih dalam sekejap, banjir lumpur di Aceh Tamiang meninggalkan endapan tebal yang memperlambat pemulihan. “Pekerjaan ini ditargetkan rampung pada 15 Februari 2026,” ucap Tjun Ho.

Kampung Kesehatan: Bertahan dan Bangkit
Di Kampung Kesehatan, terdapat 450 kepala keluarga yang terdampak banjir bandang. Ketinggian air mencapai 4 meter, sehingga warga harus dievakuasi ke huntara. Syariful Alam, Kepala Kampung Sukajadi, menyebut banjir bandang membuat kampungnya mengalami dampak terparah. “Di Kampung Sukajadi, 95 persen rumah hanyut. Kampung Kesehatan relatif lebih ringan, hanya satu rumah hanyut,” ungkapnya.

Desa ini dikenal aktif membangun UMKM dan fasilitas publik tanpa pungutan biaya selama enam tahun terakhir. Bahkan pernah meraih predikat desa terbaik di Aceh Tamiang. “Bantuan dari Yayasan Buddha Tzu Chi sangat membantu kami untuk pemulihan, khususnya alat berat yang terus membersihkan lumpur pascabanjir, sehingga aktivitas warga dapat pulih lebih cepat,” ucap Syariful.

Di Desa Air Tenang, ada 331 Kepala Keluarga yang terdampak. 47 unit rumah hanyut dan rusak berat, termasuk rumah milik Muttaqin, Kepala Desa Air Tenang. Warga setempat rata-rata bekerja sebagai petani sawit. Karena itu, akses jalan menjadi kunci utama agar hasil bumi bisa dijual kembali. “Bantuan alat berat dari Yayasan Tzu Chi menjadi harapan untuk membuka kembali jalur ekonomi yang terputus,” ujar Muttaqin.

Di Kampung Suka Rahmat, dua dusun terendam hingga atap rumah. Selain banjir, tanah longsor juga menimbun rumah warga dan menutup akses jalan antar dusun. Dari 10 titik longsor, lima titik terparah telah ditangani dalam enam hari operasional alat berat Tzu Chi.

Jalan lintas menuju Kampung Jamur Labu dan Kampung Ingin Jaya mulai terbuka kembali. Datuk Penghulu Sudiar menyampaikan terima kasih dan berharap alat berat tetap berada di lokasi hingga seluruh akses benar-benar pulih.

Muhammad Rifai (46), penarik becak motor menceritakan detik-detik banjir yang menghanyutkan merendam rumahnya. Becak motornya rusak dan tak bisa dipakai lagi. Hingga kini ia belum dapat kembali mencari nafkah seperti biasa.

Muhammad Rifai (46), penarik becak motor yang biasa mangkal di RSUD, menjadi salah satu korban yang paling merasakan perubahan hidup akibat bencana ini. Ia menceritakan air naik begitu cepat dan menghanyutkan rumahnya.

“Air naik dalam hitungan detik. Saya hanya sempat menyelamatkan istri dan empat anak saya ke lokasi yang aman,” ungkap Rifai. Rumahnya tertimbun lumpur. Becak motornya rusak dan tak bisa dipakai lagi. Hingga kini ia belum dapat kembali mencari nafkah seperti biasa.

Rifai bahkan harus masuk ke rumah lewat jendela karena pintu tertutup lumpur. Semua harta benda yang ia kumpulkan bertahun-tahun hanyut terbawa arus. Namun di tengah kesulitan itu, Rifai mengaku terharu melihat relawan datang membantu tanpa memandang suku maupun agama.

“Luar biasa relawan Buddha Tzu Chi. Di tengah kondisi sulit, mereka terus menyalurkan bantuan untuk kami yang tertimpa bencana. Terima kasih, semoga terus memberikan kebajikan,” ucap Rifai dengan mata berkaca-kaca.

Siswanto Tam memberikan perhatian dan dukungan semangat kepada para murid-murid Madrasah Ibtidaiyah (MI) AL Chairiyah Aceh Tamiang yang masih menjalani kegiatan belajar dalam kondisi darurat pascabanjir di ruang  kelas yang sudah di bersihkan dari lumpur.

Pemulihan tidak hanya menyasar jalan dan rumah, tetapi juga gedung sekolah. Relawan Tzu Chi Medan mengunjungi AL Chairiyah Aceh Tamiang di Desa Kesehatan yang memiliki sekitar 50 murid. Alat berat Tzu Chi telah membantu membersihkan lumpur di area sekolah sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan kembali, meski belum sepenuhnya normal. Sekolah kembali aktif pada 5 Januari 2026. Para murid belajar dalam kondisi kelas-kelas digabung, sementara halaman masih berdebu.

Ratika Dewi, S.Pd., salah satu guru AL Chairiyah Aceh Tamiang, menyambut relawan dengan penuh suka cita. “Saya mewakili sekolah dan para guru mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian dan semangat yang diberikan. Semoga sekolah kami cepat pulih, dan semoga ada bantuan alat tulis serta seragam bagi siswa yang kehilangan perlengkapan akibat banjir,” harapnya.

Ratika Dewi, S.Pd., wali kelas Madrasah Ibtidaiyah (MI) AL Chairiyah Aceh Tamiang di Desa Kesehatan, menyampaikan terima kasih kepada relawan atas perhatian dan dukungan moril bagi para guru dan siswa pascabanjir.

Siswanto Tam, koordinator bantuan alat berat, menegaskan bencana sebesar ini tidak mungkin diatasi hanya dengan tenaga manusia. “Alat berat membantu secara fisik, namun yang paling penting adalah kehadiran dengan welas asih. Menjadi relawan berarti mau turun, mau peduli, dan mau menemani warga melewati masa sulit,” ucap Siswanto.

Kini operasional alat berat memasuki bulan terakhir masa tugas. Jalan-jalan mulai terbuka. Sekolah-sekolah kembali aktif. Sebagian warga mulai pulang ke rumah. Aktivitas ekonomi perlahan bergerak lagi.

Di balik suara mesin ekskavator dan dump truck, tersimpan ketulusan para relawan yang bekerja bukan hanya dengan tenaga, tetapi dengan hati. Semoga pemulihan Aceh Tamiang segera tuntas. Semoga lumpur yang sempat menutup harapan, kini berubah menjadi pijakan untuk bangkit lebih kuat.

Alat berat membersihkan endapan lumpur yang mulai mengering di Desa Kesehatan agar aktivitas warga dapat kembali berjalan.

Editor: Anand Yahya

Artikel Terkait

Bantuan Bencana Banjir di Sumatera: Kehangatan di Tengah Banjir

Bantuan Bencana Banjir di Sumatera: Kehangatan di Tengah Banjir

02 Desember 2025

Di saat banjir merendam rumah dan harapan warga Sumatera Utara, relawan Tzu Chi hadir membawa hangatnya perhatian dan kepedulian, mulai dari dapur darurat, paket sembako, air mineral hingga rakit buatan tangan.

Banjir Sumatera: Semangat Kepedulian untuk Pulihkan Sekolah Terdampak Banjir

Banjir Sumatera: Semangat Kepedulian untuk Pulihkan Sekolah Terdampak Banjir

31 Desember 2025
Relawan Tzu Chi Medan kembali membersihkan SDN 01 di Desa Bukit Tempurung, Aceh Tamiang. Harapannya agar di bulan Januari 2026 ini, anak-anak bisa masuk sekolah dan belajar kembali. 
Bantuan Bencana Banjir di Sumatera: Kehangatan di Tengah Banjir yang Masih Menggenang

Bantuan Bencana Banjir di Sumatera: Kehangatan di Tengah Banjir yang Masih Menggenang

09 Desember 2025

Relawan Tzu Chi Medan komunitas Hu Ai Mandala dan Perintis bersama Babinsa menyalurkan bantuan kepada warga terdampak banjir di Pasar VII Tembung dan Kampong Baru.

Berbicaralah secukupnya sesuai dengan apa yang perlu disampaikan. Bila ditambah atau dikurangi, semuanya tidak bermanfaat.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -