Banjir Sumatera: Harapan Juhariah di Tengah Tenda Pengungsian Aceh Utara

Jurnalis : Huicin S, Ronaldo (Tzu Chi Aceh), Fotografer : Ismanova (Tzu Chi Aceh)
Nenek Juhariah dengan jalan tertatih-tatih didampingi relawan Tzu Chi menerima beras dan sembako untuk kebutuhan sehari-hari. Sejak banjir bandang melanda, Juhariah harus tinggal di pengungsian karena rumahnya hanyut terbawa banjir bandang dan kini harus berlindung di posko.

Di sebuah tenda pengungsian yang masih becek oleh lumpur, Ibu Juhariah (72) berjalan dengan tongkatnya tertatih-tatih dengan langkah yang kian terbatas. Pendengarannya tak lagi sempurna, begitu pula kekuatan kakinya. Sejak banjir bandang melanda Aceh Utara, ia harus meninggalkan rumah dan bertahan hidup di pengungsian. Dari dua belas anak yang ia miliki, tak satu pun kini mempunyai rumah yang layak. Semuanya rusak, hanyut terbawa arus.

Dengan suara lirih namun penuh harap, Ibu Juhariah mengungkapkan keinginannya, "Lon keuneuk na rumoh laen yang layak," katanya pelan. Juhariah, mendambakan rumah yang memiliki kamar mandi agar ia bisa berwudhu untuk beribadah agar lebih leluasa. Di usia senjanya, berjalan jauh menuju MCK umum di posko pengungsian bukanlah perkara mudah, ia harus berjalan menahan nyeri di kedua lututnya.

Siau Peing relawan Tzu Chi dari komunitas Bireun turut hadir dalam menyalurkan paket bantuan di Desa Langkahan dan Desa Bukit Linteung, Aceh Utara. Desa Bukit Linteung menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah.

Jap Nyuk Kim relawan Tzu Chi Banda Aceh membagikan biskuit dan kue lainnya kepada anak-anak pengungsi di Desa Desa Bukit Linteung. Di Desa Langkahan dan Desa Bukit Linteung relawan Tzu Chi membagikan beras seberat masing-masing 5 kilogram, mi instan, air mineral, minyak goreng, terpal, sarung, handuk, makanan ringan kuaci, biskuit, popok bayi, dan pembalut wanita.

Tak jauh dari sana, senyum polos seorang remaja bernama Putri (13) mencuri perhatian. Putri beberapa kali ingin mendekat ke lokasi pembagian bantuan, namun dicegah warga karena kondisi mentalnya. Putri mengalami keterbelakangan mental akibat kejang hebat yang dideritanya saat masih balita. Ia datang bersama ibunya, Ibu Rafasha (50), yang setia mendampingi.

“Putri mau minta air mineral saja, Bu,” ucap Ibu Rafasha dengan suara pelan.

Tanpa ragu, Akhiem Shi Jie, salah satu relawan Tzu Chi, memberikan beberapa botol air mineral dan biskuit. Putri menerimanya dengan wajah berseri, memeluk erat botol air yang ia genggam. Senyum sederhana itu menjadi pengingat bahwa di tengah bencana, perhatian kecil dapat berarti sangat besar. Meski bagian belakang rumah Rafasha roboh akibat banjir bandang, keluarga Ibu Rafasha masih dapat bertahan tinggal di rumahnya. Keadaan Ibu Juhariah dan Putri salah menjadi salah satu peristiwa dari ratusan penyintas banjir bandang dan tanah longsor di Aceh Utara.

Pada 18 Januari 2025, 21 orang  relawan Tzu Chi dari Banda Aceh, Bireun,  dan Lhokseumawe berangkat menempuh perjalanan panjang menuju Desa Langkahan dan Desa Bukit Linteung Aceh Utara  yang membutuhkan waktu tempuh mencapai sembilan hingga sepuluh jam akibat kondisi jalan yang rusak dan sulit dilalui.

Supandi relawan Tzu Chi Banda Aceh memberi sambutan kepada para pengungsi sebagai wujud rasa peduli Yayasan Tzu Chi kepada warga Desa Bukit Linteung yang masih mengungsi. Bantuan Tzu Chi ini semoga dapat sedikit meringankan beban hidup para pengungsi dalam menjalani kehidupan di posko pengungsi.

Siau Peing relawan Tzu Chi dari komunitas Bireun memberi perhatian kepada seorang anak balita yang berada di tenda darurat di Desa Bukit Linteung. Menyapa para pengungsi sebagai bentuk perhatian yang tulus untuk para pengungsi.

Sejak pertengahan November 2025, relawan Tzu Chi Banda Aceh secara berkala menyalurkan bantuan bagi warga terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor di wilayah Aceh. Perjalanan ke Aceh Utara kali ini kembali membawa harapan bagi mereka korban banjir bandang yang telah hampir dua bulan bertahan di tenda darurat dan hunian sementara.

Di Desa Langkahan dan Desa Bukit Linteung, relawan menyalurkan 1.000 karung beras (@ 5 kilogram), 100 dus mi instan, 70 dus air mineral, 30 dus minyak goreng, 19 gulung terpal, satu bal sarung, 750 helai handuk, 44 dus kuaci, 35 dus biskuit, 16 dus popok bayi, serta 16 dus pembalut. Bantuan ini diharapkan dapat sedikit meringankan beban hidup para penyintas.

Desa Bukit Linteung menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah. Tenda-tenda pengungsian masih dikelilingi lumpur, sanitasi terbatas, dan akses air bersih belum sepenuhnya pulih. Penyakit kulit mulai dialami anak-anak hingga lansia.

Melihat kondisi tersebut, relawan Tzu Chi turut membawa obat-obatan dan salep kulit untuk gatal-gatal untuk membantu warga yang mengalami gatal-gatal. Bantuan ini mungkin belum sepenuhnya menjawab kebutuhan, namun diharapkan dapat menjadi penguat di tengah keterbatasan.

Jap Nyuk Kim relawan Tzu Chi Banda bersama Putri dan Ibu Rafasha foto bersama usai pembagian makanan dan barang bantuan di Desa Bukit Linteung. Putri mengalami keterbelakangan mental akibat kejang hebat yang dideritanya saat masih balita.

Berdasarkan data posko pengungsian di lokasi, terdapat lima dusun yang bergabung di posko pengungsi Desa Bukit Linteung, dengan total 597 kepala keluarga atau 1.877 jiwa. Sebanyak 449 rumah terendam banjir, 217 unit rumah rusak berat, dan 197 unit rumah rusak ringan.

Di balik lumpur, tenda pengungsian, dan perjalanan panjang yang melelahkan, relawan Tzu Chi Aceh terus melangkah memberikan bantuan. Para relawan Tzu Chi  percaya bahwa kepedulian, kehadiran, dan cinta kasih adalah bagian dari pemulihan pascabencana. Harapan pun terus disematkan relawan, agar para penyintas seperti Ibu Juhariah dan Putri suatu hari dapat kembali hidup layak, menata ulang kehidupan penuh semangat.

Editor: Anand Yahya

Artikel Terkait

Bantuan Bencana Banjir Di Sumatera: Langkah Nyata Tzu Chi Memulihkan Kehidupan Pascabencana Di Medan Maimun

Bantuan Bencana Banjir Di Sumatera: Langkah Nyata Tzu Chi Memulihkan Kehidupan Pascabencana Di Medan Maimun

02 Desember 2025

Di tengah bencana banjir yang melanda Kota Medan, Tzu Chi Medan hadir membawa harapan bagi ribuan warga yang terdampak.

Pendampingan Menyeluruh untuk Pulihkan Sumatera

Pendampingan Menyeluruh untuk Pulihkan Sumatera

04 Februari 2026
Dua bulan pascabanjir di Sumatera, proses pemulihan warga masih terus berjalan. Melalui pendampingan berkelanjutan dari bantuan darurat hingga pembangunan hunian tetap, Tzu Chi hadir mendampingi warga menata kembali kehidupan.
Bantuan Bencana Banjir di Sumatera: Baksos Carnation Salurkan Donasi Melalui Tzu Chi

Bantuan Bencana Banjir di Sumatera: Baksos Carnation Salurkan Donasi Melalui Tzu Chi

01 Desember 2025

Dengan rasa peduli, Baksos Carnation menyerahkan donasi melalui Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia untuk disalurkan kepada warga terdampak bencana di Sumatera. 

Cinta kasih tidak akan berkurang karena dibagikan, malah sebaliknya akan semakin tumbuh berkembang karena diteruskan kepada orang lain.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -