Relawan Tzu Chi Medan bersama-sama menyiapkan bahan makanan yang nantinya akan dimasak dan dibagikan kepada warga.
Sisa lumpur masih membekas di sudut-sudut jalan Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang. Namun, di tengah duka pascabanjir yang melanda sejak akhir November 2025 lalu, sebuah harapan timbul dari balik pagar rumah dinas Sekda Wakil Bupati Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang. Gedung yang biasanya formal itu kini berubah menjadi Posko Bantuan Yayasan Buddha Tzu Chi.
Letak Posko Bantuan Yayasan Buddha Tzu Chi dekat dengan pusat kota, dan mudah di jangkau oleh warga yang terdampak banjir dari berbagai wilayah sekitarnya. Sejak 5 Desember 2025, posko ini menjadi tempat untuk menyalurkan bantuan air bersih, baksos kesehatan, dapur umum, dan tempat cuci motor gratis.
Pada Minggu, 11 Januari 2026, relawan Tzu Chi Medan bersama sama dengan sukarelawan Kuala Simpang kembali menyediakan nasi bungkus di Posko Bantuan Tzu Chi. Asap masakan mengepul dari dapur umum, wangi tumis kacang panjang dan semur tahu menggugah selera makan.
Yanti, relawan Tzu Chi yang menjadi koordinator dapur umum, sibuk memastikan kesiapan 400 porsi makanan untuk dibagikan ke warga. "Setiap hari kami menyediakan makanan hangat, makanan vegetarian yang sehat dengan lauk yang berbeda agar warga tidak bosan. Ada nasi goreng, mie goreng, dan nasi sayur. Hari ini kita memasak nasi sayur dengan lauk terong balado,semur tahu goreng dan tumis kacang Panjang," ujar Yanti.
Hayatul Wardani (depan) saat memasak makanan untuk warga yang terdampak banjir. Ia menjadi sukarelawan di dapur umum karena terinspirasi dengan kebaikan Tzu Chi yang sangat peduli pada warga.
Relawan Tzu Chi Medan bersama sukarelawan saat membungkus nasi dan lauk untuk warga di dapur umum.
Meskipun ketersedian bahan baku di pasar masih minim karena banyak pedagang yang terdampak, relawan Tzu Chi Medan dan Kuala Simpang tak patah semangat mencari pasokan demi memastikan warga tetap bisa menyantap makanan. Beberapa relawan yang membantu adalah korban banjir juga yang rumahnya tersapu banjir.
Di balik kuali-kuali besar itu ada tangan-tangan lelah yang tetap bekerja dengan tulus. Beberapa relawan yang bertugas untuk memasak sebenarnya adalah korban banjir itu sendiri. Rumah mereka rusak, harta benda tersapu air, namun mereka memilih berdiri di dapur untuk membantu orang lain.
Salah satunya adalah Hayatul Wardani (61). Ibu rumah tangga ini telah bergabung di dapur umum sejak sembilan hari lalu. "Saya tidak punya uang untuk menyumbang, jadi saya sumbangkan tenaga. Saya terinspirasi dengan kebaikan Tzu Chi yang sangat peduli pada kami," ungkapnya dengan penuh suka cita.
Yanti, relawan Tzu Chi Medan yang menjadi koordinator dapur umum, memberikan nasi bungkus kepada warga yang datang ke Posko Bantuan Tzu Chi.
Menyediakan Kebutuhan untuk Warga
Bagi warga seperti Edi (50), kehadiran posko ini adalah penyelamat baginya. Edi yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang tempel ban, kini harus tinggal sebatang kara di Posko Pengungsian Sabara setelah rumahnya habis diterjang banjir.
"Rumah saya habis, sekarang air bersih susah, makanan juga susah. Posko ini sangat membantu mengganjal perut kami yang kelaparan, serta kita bisa mendapatkan air bersih juga, dan tadi saya juga mendapat pelayanan kesehatan gratis. Saya sangat bersyukur, harapannya Tzu Chi terus ada membantu kami," ucap syukur Edi.
Tak hanya dapur umum, setiap satu minggu sekali posko ini juga mengadakan bakti sosial pengobatan gratis, untuk memastikan kondisi kesehatan warga agar tetap terjaga di tengah kondisi lingkungan yang kurang memadai pascabanjir.
Selain itu, masalah pascabanjir adalah lumpur yang mengeras di mesin kendaraan milik warga. Bagi warga, kendaraan sangat penting untuk beraktifitas sehari-hari dan mencari nafkah. Memahami hal ini, Tzu Chi menyediakan layanan cuci motor gratis dan penyediaan air bersih.
Seorang warga mencuci becak motornya yang kotor karena lumpur pascabanjir. Tzu Chi menyediakan air bersih dan tempat cuci motor gratis untuk warga.
Lukman, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Medan, melihat warga yang terus mengantre dan memastikan bantuan air dan tempat cuci motor gratis berjalan dengan baik.
Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Medan, Lukman, turun langsung meninjau layanan ini. Ia melihat antrean panjang motor dan becak yang menunggu giliran dibersihkan menggunakan mesin pompa air.
"Layanan ini sangat dibutuhkan karena kondisi pascabanjir, banyak warga tidak punya alat atau air yang memadai untuk membersihkan kendaraan yang terendam lumpur. Antusiasme warga sangat luar biasa, sejak pagi tadi warga terus berdatangan dan mengantre untuk mencuci sepeda motor dan becak mereka yang banyak lumpurnya. Ini bukan sekadar bantuan teknis, tapi solusi agar kendaraan warga dapat bisa digunakan kembali untuk mencari nafkah," jelas Lukman.
Sarah Chaniago (baju merah), warga Desa Perdamaian, merasa sangat terbantu dengan adanya fasilitas air dan tempat cuci motor gratis yang disediakan Tzu Chi Medan untuk warga.
Sarah Chaniago, warga Desa Perdamaian, merasa sangat terbantu. Ia datang bersama ibunya untuk mencuci motor yang sudah berkerak lumpur. "Air bersih di sini sangat sulit, baik untuk mencuci kendaraan maupun untuk konsumsi. Proses di sini cepat dan sangat terorganisir. Saya berharap layanan seperti ini bisa diperluas ke wilayah lain di Aceh Tamiang," harap Sarah.
Banjir mungkin telah meluluhlantakan rumah dan harta benda milik warga. Namun, di Posko Bantuan Tzu Chi Kuala Simpang, warga merasakan rasa kepedulian dari relawan. Melalui sepiring nasi sayur vegetarian yang sehat dan air bersih untuk mencuci motor,s semangat untuk bangkit perlahan kembali bersemi.
Editor: Fikhri Fathoni