Kebahagiaan terpancar dari wajah Para relawan Tzu Chi saat bernyanyi serta melakukan isyarat tangan satu keluarga dan Bulan Bulat Sempurna Kita Kumpul Bersama.
Ada pertemuan yang berlangsung singkat, tetapi meninggalkan jejak panjang di dalam hati. Ada pula perjalanan yang membawa kita menuju suatu tempat, namun tanpa disadari hal itu juga dapat membawa kita kembali melihat ke dalam diri.
Pada 12–13 September 2026, relawan Tzu Chi dari Dumai dan Pekanbaru melakukan perjalanan menuju Harau, Sumatera Barat, untuk mengikuti gathering selama dua hari satu malam. Di tengah keindahan alam Harau, para relawan berkumpul bukan sekadar untuk menikmati perjalanan, tetapi untuk saling mengenal lebih dekat, berbagi pengalaman, mempererat jalinan kasih, serta kembali mengingat niat awal dalam menapaki Jalan Bodhisatwa.
Dalam kegiatan itu, malam keakraban dibuka oleh relawan Tzu Chi, Valentina Angela, ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh relawan yang telah menempuh perjalanan jauh untuk berkumpul bersama, kepada panitia yang telah bersungguh hati mempersiapkan gathering, serta kepada Master Cheng Yen yang telah mendirikan Tzu Chi sehingga orang-orang dengan latar belakang berbeda dapat dipertemukan dalam satu jalan kebajikan.
Malam ini juga adalah malam keakraban kita bersama Relawan Tzu Chi, Tan Chong Yee, yang akan kembali ke Malaysia untuk sementara waktu. “Kita sangat gan en atas dedikasi dan kesungguhan hati relawan Tan Chong Yee dalam mengemban tanggung jawab sebagai Ketua Tzu Chi Komunitas Dumai dalam menjalankan misi Tzu Chi dan mengembangkan Tzu Chi di Dumai. Kita mendoakan yang terbaik buat relawan Tan Chong Yee, semoga berbahagia bisa kumpul kembali bersama keluarga dan berharap cepat kembali untuk menjalankan misi Tzu Chi di kota Dumai,” ucap relawan Tzu Chi, Valentina dengan penuh harap.
Relawan Tzu Chi, Chong Yee membagikan kesan yang dirasakannya selama bersama keluarga Tzu Chi Dumai dalam gathering tersebut.
Kemudian, Valentina mempersilakan Chong Yee untuk berbagi kesan batin dan pengalamannya selama menjadi relawan Tzu Chi di Dumai. Menjelang kepulangannya sementara ke Malaysia, relawan Chong Yee menyadari bahwa kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga Tzu Chi di Dumai semakin terbatas, “Bagi saya, gathering ini bukan sekadar perjalanan dua hari satu malam. Bukan hanya tentang menikmati pemandangan, makan bersama, atau berfoto. Yang paling berharga adalah kebersamaan perjalanan yang pernah kita lalui. Selama di Dumai, kita pernah sibuk dan lelah bersama, berdiskusi, berbeda pendapat, menghadapi tantangan, tetapi juga tertawa dan bersumbangsih bersama. Apapun yang terjadi dalam prosesnya, semuanya kembali kepada satu tujuan: berbuat kebajikan dan membantu mereka yang membutuhkan,” ujarnya.
Bagi Chong Yee, menjadi relawan bukan berarti seseorang telah sempurna. “Kita semua masih belajar. Belajar memperbaiki diri, memahami orang lain, melapangkan hati, menerima perbedaan, dan selalu kembali pada niat awal,” ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama menjalankan tanggung jawab pernah ada perkataan yang kurang tepat, sikap yang terasa terlalu keras atau keputusan yang tanpa disadari membuat relawan merasa kurang nyaman.
Ketika Kata-kata Berubah Menjadi Air Mata
Selain itu, Wakil Ketua Tzu Chi Komunitas Dumai, Jeffry memberikan sharing. Ia mengucapkan rasa terima kasihnya atas kebersamaan dan sumbangsih relawan Chong Yee selama perjalanan mendampingi relawan Tzu Chi Komunitas Dumai. “Terima kasih banyak untuk bimbingan, kesabaran, kebijaksanaan shixiong selama ini. Kami harap shixiong tetap menjadi mitra bajik untuk membimbing dan mengarahkan kami. Jika ada kesalahan sikap, ucapan dan perbuatan dari kami mohon dimaafkan. Kami pasti merasa kehilangan, namun doa yang terbaik dari kami untuk perjalanan hidup shixiong kedepannya.” ujar relawan Jeffry.
Wakil Ketua Tzu Chi Komunitas Dumai, Jeffry, dengan penuh haru menyampaikan rasa terima kasih atas kebersamaan dan sumbangsih yang telah diberikan relawan Chong Yee selama perjalanan mendampingi relawan komunitas Tzu Chi di Dumai.
Sharing kemudian dilanjutkan dengan kesan batin yang dirasakan salah satu relawan, Apen dari Rupat yang terharu dengan ketulusan Tan Chong Yee “ Tan Chong Yee shixiong selalu memberi info dan mengajak saya ikut kegiatan Tzu Chi walaupun saya sering tidak bisa ikut,” Kemudian relawan lainnya, Tian Tiong berujar “ Tan Chong Yee selalu antar jemput relawan dan berharap semoga bisa berkumpul bersama lagi dan berjumpa lagi,”. Hal serupa juga dirasakan relawan Tzu Chi, Ayan, yang sangat terharu dan berbagi kesan “ Tan Chong Yee shixiong selalu menjemputnya ikut kegiatan Tzu Chi dan mengantar mereka belanja ke pasar untuk acara Tzu Chi.” Satu demi satu kenangan disampaikan. Momen yang dahulu terasa biasa, ketika dikenang kembali malam itu, tiba-tiba terasa begitu berharga.
Suasana yang semula dipenuhi tawa perlahan berubah menjadi haru. Para relawan Tzu Chi merasakan kesedihan hingga meneteskan air. Valentina, relawan yang sejak awal memandu acara juga tidak mampu membendung perasaannya hingga tidak sanggup berkata-kata mengingat kebersamaan selama ini mengembangkan Tzu Chi di Dumai.
Hingga selanjutnya relawan Tzu Chi, Gunarny, kemudian mengambil alih dan melanjutkan acara. Melihat ketulusan yang dirasakan relawan sehingga membuat haru kebersamaan acara gathering malam yang akan dikenang sebagai sebuah perpisahan yang indah. Mungkin seperti itulah jalinan kasih keluarga Dharma tumbuh. Bukan hanya dari yang menyenangkan, tetapi juga dari kesibukan yang dilalui bersama, perbedaan yang perlahan dipahami, teguran yang membantu kita berubah, dan kesalahan yang akhirnya dimaafkan.
Sebuah Hadiah yang Dibawa di Dalam Hati
Dalam susasan yang penuh kebersamaan, para relawan dengan penuh perhatian juga memberikan hadiah kenang-kenangan kepada relawan Chong Yee. “Hadiah itu dapat dimasukkan ke dalam koper dan dibawa pulang ke Malaysia. Namun, perhatian dan jalinan kasih di baliknya akan tinggal jauh lebih lama di dalam hati saya. “ujar relawan Chong Yee.
Suasana gathering berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Para relawan Tzu Chi yang hadir bersama-sama memanjatkan doa terbaik bagi Chong Yee agar perjalanan kepulangannya lancar dan ia dapat kembali berkumpul bersama keluarganya.
Relawan Chong Yee semakin memahami bahwa yang paling berharga dalam perjalanan sebagai relawan bukanlah berapa banyak kegiatan yang pernah diselesaikan atau tanggung jawab yang pernah dipikul. “Yang paling berharga adalah orang-orang yang pernah kita temui, tangan yang pernah bekerja bersama kita, teguran yang membuat kita berubah, pengertian yang pernah kita terima, dan hati yang pernah berjalan bersama.”ungkapnya.
Selain itu, ia juga menyampaikan pesan cinta kasihnya, “Jangan karena seseorang pergi, semangat kita ikut pergi. Kehidupan terus bergerak. Ada pertemuan dan ada perpisahan sementara. Tempat pengabdian dapat berubah, jarak mungkin memisahkan, tetapi niat awal jangan ikut berubah. Teruslah saling mendukung, mengingatkan, memahami, dan memaafkan. Jangan membiarkan perbedaan kecil membuat jalinan jodoh yang telah terbangun menjadi renggang. Hargailah pertemuan, selagi masih memiliki kesempatan Gan en dan dapat bersumbangsih bersama, lakukanlah dengan sepenuh hati. jangan menunggu sampai kesempatan itu berlalu,” ucapnya.
Suasana yang semula dipenuhi tawa perlahan berubah menjadi haru. Relawan Tzu Chi, Sarimah dan Valentina tak dapat membendung air matanya.
Dalam Setiap Pertemuan, Ada Pelajaran
Acara kemudian dilanjutkan dengan sharing dharma yang diambil dari Jejak Langkah Master “Semua Makhluk adalah Guru Kita”. Tan Chong Yee menyimpulkan “Dari relawan Flemming ada pelajaran tentang janji dan pengampunan. Dari panitia dan peserta, ada pelajaran tentang tanggung jawab dan saling memahami. Dari mereka yang hampir tidak dapat ikut, ada pelajaran tentang menghargai kesempatan. Dari relawan dan seluruh keluarga Dharma, ada pelajaran tentang ketulusan, pendampingan, dan jalinan kasih. Tidak ada seorang pun yang selamanya hanya menjadi guru, dan murid. Hari ini, kita belajar dari orang lain. Esok hari, mungkin tanpa disadari, perkataan, sikap, atau tindakan kita juga menjadi pelajaran bagi kehidupan orang lain. Inilah salah satu makna mendalam dari pesan Master Cheng Yen; Semua Makhluk Adalah Guru Kita.”
Ketika hati bersedia belajar, setiap pertemuan menjadi pelajaran. Ketika hati tahu bersyukur, setiap kebersamaan menjadi berkah. Ketika hati bersedia bercermin, setiap keadaan menjadi tempat pelatihan diri.Dan ketika memahami ketidakkekalan, kita akan semakin menghargai setiap jalinan jodoh.
Malam itu, relawan Chong Yee tidak ingin mengatakan selamat tinggal. Kembali ke Malaysia hanyalah sebuah perpisahan sementara. Jarak dapat membuat mereka berada di tempat yang berbeda, tetapi tidak harus menjauhkan hati yang masih berjalan di jalan kebajikan yang sama.
“Bersyukur karena dipertemukan, hargailah setiap jalinan jodoh, selama jalinan jodoh masih ada, kita akan dipertemukan kembali.“ ucap Chong Yee.
Momen hangat terjadi saat salah satu relawan Tzu Chi berpamitan kepada Chong Yee dengan pelukan penuh kehangatan.
Memasuki bulan delapan Lunar, acara ditutup dengan menyanyikan lagu dan memperagakan isyarat tangan Satu Keluarga dan Bulan Bulat Sempurna Kita Kumpul Bersama. Tidak peduli seberapa jauhnya hari ini kita bisa kumpul bersama, menceritakan kerinduan, membuat permohonan, semoga hari-hari selalu diberkati. Ketika makan kue bulan bersama, senyuman menghiasi wajah para relawan dengan bahagia dalam suasana penuh keakraban. Ketika hubungan antar sesama bisa harmonis, maka segala permasalahan akan terselesaikan dengan sempurna, lalu sendirinya selaras dengan prinsip kebenaran.
Kemudian, acara ditutup dengan foto Bersama dan keindahan lampion yang menghiasi suasana malam penuh keakraban yang meninggalkan kenangan indah.
Editor : Nur Al Fajar Rumsari