Pepeng Kuswati (kanan), relawan amal, turut mendoakan kesehatan Nizmah di tengah perjuangannya melawan penyakit. Keteguhan Nizmah menjadi inspirasi bagi siapa pun yang menyaksikannya.
Siang hari, relawan Tzu Chi di Bandung melakukan perjalanan untuk kunjungan kasih yang rutin dilakukan. Namun kali ini, ada hal yang berbeda dengan kunjungan kasih kepada penerima bantuan lainnya. Relawan tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga memberikan semangat. Namun justru kali ini, relawan lah yang mendapatkan pembelajaran luar biasa dari salah satu penerima bantuan.
Nizmah, remaja berusia 17 tahun ini, selalu memberikan energi yang begitu baik kepada setiap orang yang datang kepadanya. Siapa sangka, perempuan tangguh ini pernah berada di titik terlemah dalam hidupnya. Akan tetapi, ia tidak mau menyerah dengan keadaan.
Nizmah adalah penyintas kanker mulut yang harus kehilangan rahang bawahnya. Berawal dari tumbuhnya gigi bungsu, namun berujung pada hal yang tak diinginkan. Masa sulit yang ia lalui, melawan rasa sakit hingga menguras fisik dan batin, harus ia jalani dengan penuh keteguhan.
Perjalanan hidup Nizmah tidaklah mudah. Dari segala yang ia lalui, Nizmah mampu bangkit. Kini, saat relawan datang menyapanya, terpancar senyuman tulus seakan tak pernah terjadi apa-apa.
“Saya bersyukur, justru dengan kondisi ini semuanya diberikan kepada Nizmah. Artinya, saya kuat untuk menghadapinya. Tuhan memilih saya untuk menghadapi ini, karena saya mampu,” ucap Leni, ibu dari Nizmah.
Ini bukan hanya tentang penyakit yang diderita Nizmah, melainkan tentang bagaimana seseorang mampu bangkit dari keterpurukan yang dalam. Tentang menerima keadaan yang telah terjadi, dan tetap menjalani hidup dengan sebaik mungkin.
“Nizmah itu sangat semangat, tidak menyerah, tidak malu. Malah kalau ke rumah sakit, dia sangat percaya diri. Bahkan mengajarkan membuat gelang kepada yang lain,” lanjut Leni.
Laura Indrayani (kiri), relawan pendamping, tampak terharu melihat semangat luar biasa Nizmah. Hobi membuat prakarya menjadi penyemangat bagi Nizmah untuk terus melangkah maju.
Beberapa tahun silam, Nizmah menghadapi kenyataan pahit saat didiagnosis kanker. Hari-harinya diwarnai rasa sakit, kekhawatiran, dan ketidakpastian. Biaya pengobatan yang tidak sedikit menjadi beban tambahan di tengah perjuangan fisik dan batin yang ia jalani.
Dalam masa sulit itulah, uluran tangan kasih hadir melalui Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Bantuan biaya pengobatan, fasilitas rumah singgah bagi pasien luar kota, serta pendampingan relawan yang setia menemani menjadi kekuatan baru bagi Nizmah. Ia tidak hanya menerima bantuan materi, tetapi juga sentuhan kemanusiaan, senyuman, doa, dan perhatian tulus yang menguatkan hatinya.
“Saya senang, saya dan Nizmah bisa bertemu dengan orang-orang hebat dari Tzu Chi. Support-nya luar biasa sampai sekarang. Saya merasa sangat beruntung,” lirih Leni.
Proses pengobatan bukanlah perjalanan singkat. Ada hari-hari penuh harapan, ada pula malam-malam yang diisi air mata. Namun, dukungan yang ia terima perlahan menumbuhkan semangat baru. Ia mulai melihat bahwa sakit bukanlah akhir dari segalanya.
“Saya lihat Nizmah itu luar biasa. Kalau saya jadi Nizmah, saya tidak tahu kuat atau tidak. Tapi melihat Nizmah yang kuat ini membuat saya, sebagai ibunya, semakin yakin bahwa Nizmah bisa melalui ini,” ujar Leni.
Setelah melewati masa pengobatan dan kondisi kesehatannya berangsur membaik, Nizmah mengambil keputusan yang mengubah arah hidupnya. Ia ingin kembali ke tempat yang pernah menguatkannya, bukan lagi sebagai penerima bantuan, melainkan sebagai seseorang yang bisa memberi.
Saat berada di Rumah Singgah Tzu Chi, Nizmah terlibat dalam kelas keterampilan. Dengan bekal kemampuan yang dimilikinya, ia mengajarkan kerajinan tangan kepada para pasien dan keluarga yang sedang menunggu jadwal pengobatan. Kegiatan sederhana itu ternyata memiliki makna yang mendalam.
Ia mengajarkan keterampilan membuat kerajinan tangan, berbagi teknik, serta menanamkan semangat bahwa setiap insan tetap memiliki nilai dan potensi, meski sedang diuji oleh sakit.
Sejak saat itu, keterampilan Nizmah dalam membuat gelang terus berkembang hingga kini. Hobi yang membantunya bangkit ini menjadi semangatnya untuk terus melangkah. Bahkan, hasil karyanya pun mulai diminati, tak sedikit orang yang membeli, termasuk relawan yang datang.
Nizmah, remaja yang didiagnosis kanker mulut, memiliki daya juang yang kuat untuk sembuh. Semangatnya menjadi bukti nyata bahwa harapan akan selalu ada bagi mereka yang tidak menyerah.
“Saya baru dua kali ke sini. Biasanya kita yang memberi dukungan, tapi sekarang justru saya yang mendapat dukungan penuh dari Nizmah. Semangatnya luar biasa. Saya suka hasil karyanya, bukan hanya indah, tetapi juga penuh makna,” ucap Laura Indrayani, relawan pendamping.
Apa yang dilakukan Nizmah mencerminkan nilai yang terus digaungkan oleh Tzu Chi, yakni membangun lingkaran kebajikan. Kehadirannya bukan hanya mengajarkan keterampilan, tetapi juga menghadirkan harapan. Sosoknya menjadi bukti nyata bahwa dari kondisi tersulit pun, harapan tetap bisa tumbuh.
Kisah Nizmah mengingatkan kita bahwa harapan akan selalu ada, selama kita mau memperjuangkannya. Perjalanannya menjadi cerminan indah tentang bagaimana menjalani hidup dengan penuh makna.
“Kita belajar bahwa harapan baik itu akan selalu ada, selama kita mau berusaha untuk mendapatkannya. Nizmah adalah bukti nyata tentang harapan baru,” tutup Laura.
Kisah ini mengajarkan bahwa kemanusiaan adalah tentang saling menguatkan. Di tengah ujian kehidupan, selalu ada ruang untuk menumbuhkan harapan. Dan ketika harapan itu dijaga bersama, ia akan menjadi cahaya bagi banyak orang.
Nizmah telah membuktikan bahwa dari air mata bisa lahir keteguhan, dari rasa sakit bisa tumbuh empati, dan dari bantuan yang tulus dapat tercipta lingkaran kebajikan yang tak pernah terputus.
Sebuah perjalanan yang tidak hanya menyentuh hati, tetapi juga menginspirasi, bahwa setiap insan, seberat apa pun ujiannya, tetap memiliki kesempatan untuk menjadi sumber cahaya bagi sesama.
Relawan Tzu Chi Bandung berkunjung ke kediaman keluarga Nizmah. Mereka saling belajar tentang arti semangat untuk terus bangkit. Perjuangan Nizmah pun menjadi cerminan kekuatan dalam menghadapi setiap ujian kehidupan.
Seiring berjalannya waktu, kondisi Nizmah pun menunjukkan perkembangan yang semakin baik. Ia perlahan kembali menjalani aktivitas hariannya, termasuk melanjutkan pendidikan yang sempat tertunda.
Kini, Nizmah telah kembali bersekolah secara penuh sebagai siswi di SMK Bakti Ilham. Dari yang sebelumnya hanya mampu hadir beberapa hari dalam seminggu karena harus menjalani pengobatan, kini ia sudah dapat mengikuti kegiatan belajar dari pagi hingga sore secara rutin. Bagi Nizmah, kembali duduk di bangku sekolah bukan sekadar belajar, tetapi juga menjadi tanda bahwa ia berhasil melewati masa-masa sulit dalam hidupnya.
Tak hanya itu, semangat untuk bangkit juga ia wujudkan dengan mencoba hal baru bersama sang ibu. Setelah kembali ke rumah, Nizmah mulai merintis usaha melalui TikTok Affiliate sebagai upaya membantu perekonomian keluarga. Ia aktif melakukan live streaming, mempromosikan produk, hingga berinteraksi dengan banyak orang secara percaya diri.
Bahkan, dalam perjalanannya, Nizmah pernah berkolaborasi dengan Bunda Corla, salah satu figur publik di TikTok. Pengalaman ini menjadi momen berharga yang semakin menumbuhkan rasa percaya dirinya, bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk tetap berkarya dan terhubung dengan dunia luar.
Langkah-langkah kecil yang ia jalani hari ini menjadi bukti bahwa kehidupan terus berjalan. Dari ruang perawatan menuju ruang kelas, dari masa penuh ketidakpastian menuju harapan yang perlahan terwujud, Nizmah memilih untuk terus melangkah.
Editor: Metta Wulandari