Belajar Mencatat Sejarah

Jurnalis : Iea Hong (He Qi Utara), Fotografer : Iea Hong (He Qi Utara)
 
 

fotoSebagai bagian dari pelatihan para peserta diminta untuk mempraktikkan wawancara dan membuat hasil peliputannya.

“Aku Mengabdi Karena Cinta Kasih, Bukan Karena Materi.” Itu adalah salah satu  judul artikel yang ditulis oleh relawan yang mengikuti pelatihan “Zhen Shan Mei” atau biasa disebut relawan 3 in 1 Tzu Chi pada tanggal 2-3 April 2011 di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng, Jakarta Barat.

Sebagian besar dari para relawan yang mengikuti pelatihan kali ini bukan berasal dari latar belakang penulis maupun fotografer, mereka sebagian besar adalah relawan-relawan biasa yang kesehariannya sangat jauh dari kamera maupun dari penulisan artikel, tetapi demi mencatat dan mendokumentasikan tugas  kemanusiaan yang dilakukan oleh para relawan Tzu Chi, mereka bertekad untuk belajar dan berlatih, supaya gerakan kemanusiaan yang sedang berlangsung bisa menjadi cacatan yang bisa memotivasi banyak orang.

Pagi itu (Minggu, 3 April 2011)  jam baru menunjukkan pukul 10.30 pagi, setelah mendapatkan sesi pelatihan teori tentang tulis menulis dan teknik fotografi yang disampaikan oleh Ivana Pemimpin Redaksi Majalah Dunia Tzu Chi  dan Anand Yahya Redaktur Pelaksana Dunia Tzu Chi, maka para relawan yang berjumlah tidak kurang dari 49 orang (total peserta hari 1 dan 2 sebanyak 122 orang) itu dibagi menjadi 9 kelompok tugas yang masing-masing akan langsung melakukan peliputan lapangan, dengan langsung menerapkan teori yang baru saja didapatkan.

Kelompok kami terdiri dari 9 orang dengan tugas untuk mewawancarai dr. Lani Carrolina, seorang dokter yang bertugas di Rumah Sakit Khusus Bedah (RSKB) Cinta Kasih Tzu Chi yang masih berada satu kompleks dengan tempat pelatihan. Tugas untuk peliputan diberikan selama 1 jam: 10.30 – 11.30 yang kemudian akan dilanjutkan dengan menulis artikel pada jam berikutnya.

Pada wawancara itulah, salah satu peserta pelatihan menangkap judul yang indah. Dr Lani Carrolina sebelum menjadi dokter di  RSKB  Tzu Chi, telah terlebih dahulu menjadi relawan, maka ketika lulus dari jurusan kedokteran dia pun mengabdikan dirinya di Rumah Sakit Tzu Chi. “Bukan demi materi,” katanya, “tetapi karena cinta kasihlah dia terus mengabdi.”.

Tampilan fisiknya yang ceria dan penuh canda, wanita kelahiran Tangerang, lulusan Fakultas Kedokteran Trisakti ini memulai kariernya di RSKB Cinta Kasih . Setahun mengabdi di RSKB semakin memantapkan niat dokter cantik ini untuk terus berkarya dan mengabdi di jalan cinta kasih Tzu Chi. Demikian sepenggal kalimat yang ditulis oleh Supardi, salah seorang peserta yang berusaha mengambarkan sosok dr. Lani nara sumber kami.

foto  foto

Keterangan :

  • Pelatihan menulis ini bertujuan mengajak para relawan untuk bisa bergabung dalam tim dokumentasi Tzu Chi yang akan mencatat sejarah perjalanan misi kemanusiaan Tzu Chi di Indonesia. (kiri)
  • Keteladanan dokter Lani sebagai pelayan masyarakat menjadi topik menarik untuk dijadikan tulisan oleh para peserta latihan. (kanan)

Memang, dokter muda ini tampak ceria. Ketika pertama kali bertemu, dr. Lani agak sedikit kaget dan bingung karena tiba-tiba didatangi begitu banyak relawan untuk wawancara, tetapi dalam kebingungan itu tidak sedikit pun menutupi keceriaan dan keramahannya. Setelah menjelaskan maksud dan tujuan kami, akhirnya kami pun di izinkan untuk mewawancarai. Supaya tidak menganggu pasien maka kami pun dipersilakan untuk wawancara di luar ruang Unit Gawat Darurat (UGD).

Karena baru pertama kali melakukan wawancara dengan nara sumber, beberapa peserta terlihat agak canggung, tetapi ada juga yang cukup lancar menanyakan pertanyaan demi pertanyaan. Beberapa yang lain terlihat sibuk dengan kamera fotonya, yang berusaha mengabadikan momen saat itu, berharap menghasilkan foto yang baik, yang bisa dipakai untuk diskusi foto nantinya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11.35WIB , para peserta pun segera mengakhiri sesi wawancara karena sudah melebihi waktu yang ditentukan panitia, dan segera kembali ke Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi dan memasuki sebuah ruang kelas di lantai 3 untuk menulis.  Setiap peserta harus menulis artikel berdasarkan hasil wawancara yang baru dilakukan.

Kertas dan pulpen sudah di tangan, tampak kecemasan dan kebingungan menghiasi wajah beberapa peserta, mungkin karena bingung mau mulai dari mana, atau mungkin karena khawatir kalau-kalau tulisannya nanti tidak bagus. Waktu sudah berjalan 10 menit, tetapi beberapa peserta masih terpaku diam memegang pulpen dan menatap lembaran kertas kosong di depannya. Beberapa telah memulai dengan semangat, kata demi kata ditolehkan di atas kertas. Mungkin tulisan kali ini pun akan menjadi catatan sejarah tersendiri bagi peserta, karena banyak dari mereka yang baru pertama kali menuliskan sebuah berita liputan.

Di tengah keseriusan para peserta untuk menghasilkan sebuah tulisan, tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Panggilan dari panitia semakin membuat panik para peserta, waktu telah habis sementara tulisan belum juga selesai. “Bingung nih apa yang mau dituliskan lagi,” ucap salah satu peserta. Akhirnya karena waktu yang disediakan telah habis maka para peserta pun kembali ke ruang pelatihan.

foto  foto

Keterangan :

  • Tzu Chi memiliki wadah dalam menampung tulisan inspiratif para relawan, di antaranya Website Tzu Chi, Buletin Tzu Chi, dan Majalah Dunia Tzu Chi. (kiri)
  • Di hari kedua, Anand Yahya Redaktur Pelaksana Majalah Dunia Tzu Chi menjelaskan tentang etika pengambilan gambar. (kanan)

Acara kemudian dilanjutkan dengan mengupas hasil peliputan dan hasil foto dari peserta. Pembahasannya berisi masukan dari para pelatihan tentang kekurangan dan kelebihan dari tulisan-tulisan yang telah dibuat, unsur-unsur yang telah mendukung dan unsur-unsur yang kurang dalam tulisannya. Walaupun hampir semua peserta merupakan pemula yang baru pertama kali menulis, tetapi beberapa tulisan mereka sangat bagus tidak terkesan tulisan pemula sama sekali.

Acara hari itu (3 April 2011) berakhir pada jam 5 sore. Tidak lupa sebelum bubar para relawan melakukan acara penggalangan dana untuk membantu korban gempa dan tsunami di Jepang serta berdoa untuk keselamatan semua makhluk dan dunia bebas dari bencana.

Pengalaman penulis (saya) menjadi relawan dokumentasi Tzu Chi memang memiliki segudang hal yang bisa disyukuri. Saat di lapangan seringkali penulislah yang menjadi saksi utama ketika melihat banyak kejadian-kejadian yang mengharukan yang memberikan banyak pengalaman berharga bagi penulis. Bisa menceritakan banyak kisah-kisah menyentuh di masyarakat menjadi kebahagiaan tersendiri saat menulis, walau terkadang tidak mudah menghasilkan sebuah tulisan, tetapi ketika mengingat pesan Master Cheng Yen, “Bila Ada Tekad Maka Akan Ada Kekuatan”, maka saya pun kembali bersemangat dan tulisan demi tulisan pun bisa dirampungkan.

Pada kesempatan ini penulis (saya) pun ingin mengajak para pembaca untuk bisa bergabung dalam tim dokumentasi Tzu Chi yang akan mencatat sejarah perjalanan misi kemanusiaan Tzu Chi di Indonesia. “Mari bersama kita belajar dan mendokumentasikan kebajikan demi generasi mendatang.”
  
 

Artikel Terkait

Banjir Jakarta: Welas Asih dalam Nasi Bungkus di Teluk Intan

Banjir Jakarta: Welas Asih dalam Nasi Bungkus di Teluk Intan

21 Januari 2013

Dalam masa tanggap darurat banjir di Jakarta, pembagian makanan hangat bagi korban terus dilakukan oleh para relawan Tzu Chi ke daerah-daerah yang membutuhkan.

Senangnya Berbagi dengan Siswa di Papua

Senangnya Berbagi dengan Siswa di Papua

07 Maret 2016

Sebanyak 35 relawan Tzu Chi Sorong melakukan kunjungan kasih ke tiga sekolah yang lokasinya cukup jauh dari pusat keramaian. Di sekolah tersebut relawan berbagi kebahagiaan dengan bernyanyi bersama dan membagikan bingkisan untuk para siswa.

Berbagi Berbagi Hasil Tanaman Obat Keluarga kepada Masyarakat

Berbagi Berbagi Hasil Tanaman Obat Keluarga kepada Masyarakat

11 Desember 2020
Para relawan Tzu Chi di Xie Li Kalimatan Timur 1 memanen kunyit yang merupakan hasil TOGA, Tanaman Obat Keluarga. Kunyit yang dipanen ini menghasilkan 150 botol jamu yang kemudian dibagikan pada masyarakat sekitar. Dalam kegiatan ini relawan juga membagikan 250 masker kain. 
Kehidupan masa lampau seseorang tidak perlu dipermasalahkan, yang terpenting adalah bagaimana ia menjalankan kehidupannya saat ini.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -