Belajar Mencintai Bumi dari Tangan-Tangan Relawan

Jurnalis : Julin (Tzu Chi Medan), Fotografer : Robby Mulia Halim, Gunawan Halim, Metta Puspa Sari (Tzu Chi Medan)

Suasana penuh semangat saat para mahasiswi Universitas Katolik Santo Thomas Program Studi Psikologi mempraktikkan pemilahan sampah bersama relawan di Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Medan Mandala.

Masalah pengelolaan sampah di Kota Medan menjadi salah satu persoalan lingkungan yang membutuhkan perhatian serius. Kesadaran untuk mencintai bumi dan menjaga lingkungan perlu ditanamkan sejak dini, terutama kepada generasi muda. Semangat inilah yang mendorong 11 mahasiswi Program Studi Psikologi Universitas Katolik Santo Thomas mengunjungi Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Medan Mandala pada Sabtu, 16 Mei 2026.

Kunjungan ini bertujuan mengenal lebih dekat Misi Pelestarian Lingkungan Yayasan Buddha Tzu Chi sekaligus mempelajari pengelolaan sampah yang dapat didaur ulang. Melalui kegiatan tersebut, para mahasiswi diajak memahami bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar teori, tetapi dapat dimulai dari tindakan sederhana sehari-hari.

Kegiatan dimulai pukul 09.30 WIB. Kehadiran para mahasiswi disambut hangat oleh para relawan Tzu Chi. Dalam suasana penuh keakraban, mereka diperkenalkan pada berbagai jenis barang yang dapat dan tidak dapat didaur ulang oleh Teti, Koordinator Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Medan Mandala.

Koordinator Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Medan Mandala, Teti, memberikan sambutan dan pengarahan kepada peserta mengenai jenis barang yang dapat didaur ulang serta teknik pemilahan sampah yang tepat di Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Medan Mandala, Kota Medan.

Tidak hanya mendengarkan penjelasan, para mahasiswi juga diajak terlibat langsung dalam proses pemilahan sampah di tiga titik berbeda, yaitu kertas, plastik, dan logam atau kaleng. Dengan penuh antusiasme, mereka belajar memisahkan plastik berdasarkan jenisnya, melepas label botol, hingga menginjak botol agar bentuknya menjadi lebih pipih sehingga mudah didaur ulang.

Untuk sampah kertas seperti buku, peserta juga belajar menyobek dan memilahnya berdasarkan warna sebelum dimasukkan ke dalam karung sesuai jenis masing-masing. Dari proses sederhana tersebut, para peserta memahami bahwa sampah yang dipilah dengan baik masih memiliki nilai ekonomi dan bahkan dapat membantu orang lain.

Setelah sesi praktik, peserta diarahkan menuju lantai tiga untuk mengikuti sesi teori mengenai pelestarian lingkungan. Dalam kesempatan tersebut, Teti menyampaikan apresiasi kepada para mahasiswi yang telah menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia muda.

“Kami sebagai relawan Tzu Chi merasa sangat berterima kasih dan menyambut baik niat para mahasiswa yang datang ke depo pelestarian lingkungan Medan Mandala untuk ikut membantu memilah sampah. Generasi muda adalah generasi penerus bangsa. Ke depannya, kami berharap akan ada lagi kunjungan dari perguruan tinggi lainnya ke depo ini,” ujar Teti.

Imelda selaku Wakil He Qi juga berharap kunjungan ini menjadi awal terjalinnya kolaborasi berkelanjutan dalam Misi Pelestarian Lingkungan.

Suster sekaligus dosen Program Studi Psikologi Universitas Katolik Santo Thomas, Ruminta, S.Psi., M.Psi., menjelaskan tentang Ensiklik Laudato Si’ yang mengajak masyarakat menjaga dan merawat bumi sebagai rumah bersama di Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Medan.

Sementara itu, Ruminta, S.Psi., M.Psi., dosen sekaligus suster dari Universitas Katolik Santo Thomas, mengaku tertarik mengunjungi depo setelah mendengar cerita dari salah seorang relawan Tzu Chi yang juga merupakan umat di parokinya.

Menurut Ruminta, aksi pelestarian lingkungan yang dilakukan relawan Tzu Chi sejalan dengan ensiklik Laudato Si’ yang diajarkan Paus Fransiskus, yaitu ajakan untuk menjaga dan merawat bumi sebagai rumah bersama.

Ia juga mengungkapkan keprihatinannya karena semangat penghijauan di kalangan mahasiswa mulai memudar. Karena itu, ia tergerak untuk mengajak para mahasiswi datang langsung ke depo agar mereka dapat melihat bagaimana sampah diolah hingga memiliki nilai manfaat.

“Setiap orang bertanggung jawab terhadap kelangsungan dan pelestarian lingkungan hidup. Kepada para relawan Yayasan Buddha Tzu Chi, Anda luar biasa karena mampu menginspirasi banyak orang bukan hanya lewat kata-kata, tetapi melalui praktik nyata. Terima kasih karena telah mendahului kami menjaga dan melestarikan bumi ini,” ungkap Ruminta.

Menginspirasi Lewat Teori dan Praktik
Sesi teori kemudian dilanjutkan oleh Sani Husiana yang menjelaskan sejarah Yayasan Buddha Tzu Chi, visi dan misi organisasi, serta konsep 5R, yaitu Rethink (memikirkan ulang), Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), Repair (memperbaiki), dan Recycle (mendaur ulang).

“Langkah pertama pelestarian lingkungan dimulai dari diri sendiri dengan ikut andil menjaga lingkungan,” ujar Sani.

Sani Husiana menyampaikan materi teori pelestarian lingkungan dan konsep 5R kepada para mahasiswi Universitas Katolik Santo Thomas di Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Medan Mandala.

Salah seorang mahasiswi semester II Program Studi Psikologi, Novia Romauli Br. Manurung (18) mengaku bahagia dapat terlibat langsung dalam kegiatan memilah sampah yang ternyata dapat membawa manfaat bagi masyarakat.

Melalui pembelajaran tersebut, ia menyadari pentingnya kesadaran generasi muda untuk tidak membuang sampah sembarangan, melainkan mengumpulkannya agar dapat didaur ulang.

“Terima kasih banyak untuk pembelajaran hari ini. Materi dan partisipasi para relawan benar-benar membuat kami sadar bagaimana cara menangani sampah dengan baik. Saya sangat terkesan dengan kutipan inspiratif Master Cheng Yen, ‘Sampah Menjadi Emas, Emas Menjadi Cinta Kasih.’ Kalimat itu akan menjadi pedoman hidup saya dalam menangani sampah,” tutur Novia.

Relawan Tzu Chi Medan mengajak para peserta memperagakan bahasa isyarat tangan lagu “Dunia yang Bersih” dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan di Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Medan.

Setelah sesi teori selesai, suasana kembali hangat dengan penampilan bahasa isyarat tangan lagu “Dunia yang Bersih”. Para peserta diajak memperagakan lagu tersebut bersama-sama hingga menciptakan kebersamaan yang penuh semangat dan sukacita sampai acara berakhir pada pukul 12.00 WIB.

Di akhir kegiatan, relawan Komite Lim Ik Ju turut menyampaikan pesan penuh cinta kasih kepada para mahasiswi yang hadir.

“Terima kasih atas kunjungan mahasiswi Unika Santo Thomas ke depo kami. Melihat semangat mereka belajar memilah sampah dan memahami pentingnya pelestarian lingkungan memberikan energi positif bagi kami para relawan,” ujarnya.

Editor: Anand Yahya

Artikel Terkait

Cinta Kasih Di Pinang Sebatang Timur

Cinta Kasih Di Pinang Sebatang Timur

03 September 2014 Minggu 24 Agustus 2014 Tzu Chi Pekanbaru mengadakan Baksos Kesehatan ke-32. Sebanyak 71 relawan ikut bersumbangsih dalam kegiatan ini, diantaranya 37 relawan dari Pekanbaru (termasuk 4 dokter dan 6 perawat) dan juga partisipasi dari 34 relawan setempat (Perawang) ikut serta.
Peduli Lingkungan dengan Daur Ulang

Peduli Lingkungan dengan Daur Ulang

01 November 2017
Didasari dengan hati yang tulus dan peduli terhadap kebersihan lingkungan, relawan Tzu Chi Bandung melaksanakan kegiatan pemilahan sampah daur ulang pada tanggal 29 Oktober 2017.
Menghimpun Kasih, Menyelamatkan Bumi

Menghimpun Kasih, Menyelamatkan Bumi

02 Mei 2024
Relawan Tzu Chi Palembang mengadakan kegiatan pelestarian lingkungan di dua tempat titik pilah yaitu di Jl. Cendrawasih No. 11 A Palembang dan di TK SD Pelita Sriwijaya. Kegiatan ini menarik perhatian warga sekitar titik pemilahan.
Cemberut dan tersenyum, keduanya adalah ekspresi. Mengapa tidak memilih tersenyum saja?
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -