Berbagi Cinta Kasih Sampai ke Hulu Bumi Tambun Bungai

Jurnalis : Canti Yohanna (Tzu Chi Sinar Mas), Fotografer : Robin Santoso, Devita Nianti, Canti Y (Tzu Chi Sinar Mas)

Relawan Tzu Chi membantu para lansia yang telah mendapatkan pelayanan kesehatan yang diadakan oleh Tzu Chi Cabang Sinar Mas dari komunitas Xie Li Kalimantan Tengah (Kalteng) 1 di Desa Marandang.

“Seandainya kita dibutuhkan dan dapat menyumbangkan sesuatu bagi orang lain, adalah kehidupan yang paling berbahagia”
-Master Cheng Yen-

Pada bulan Oktober 2024, relawan Tzu Chi Cabang Sinar Mas dari komunitas Xie Li Kalimantan Tengah (Kalteng) 1 berkesempatan mengunjungi Desa Tumbang Manjul, sebuah desa di pedalaman Kalimantan Tengah yang masih minim fasilitas kesehatan.

Hasil survei yang dilakukan menunjukkan sulitnya akses menuju desa ini. Kondisi jalan yang rusak sering kali menyebabkan kendaraan terjebak atau terhenti, terutama saat cuaca buruk. "Perjalanan 180 km dengan kondisi jalan yang rusak bisa memakan waktu lebih dari delapan jam meskipun menggunakan mobil 4WD," ujar Shi Xiong Ridwan Ashari, Ketua Xie Li Kalteng 1, yang ikut dalam survei.

Jarak yang jauh dan akses jalan yang sulit menyebabkan minimnya fasilitas kesehatan di desa ini. Melihat kondisi tersebut, relawan Xie Li Kalteng 1 bertekad mengadakan bakti sosial kesehatan di Desa Tumbang Manjul untuk memberikan harapan kepada warga. Tak hanya di satu desa, kegiatan bakti sosial juga dilakukan di Desa Tusuk Belawan, Desa Marandang, dan Desa Tumbang Suei, yang menghadapi tantangan serupa dalam mendapatkan fasilitas kesehatan.

dr. Mahendra memeriksa mata seorang lansia warga Desa Tumbang Manjul dalam bakti sosial kesehatan di Desa Tumbang Manjul. Desa yang terpencil dan jarak yang jauh serta akses jalan yang sulit menyebabkan kurangnya fasilitas kesehatan di desa ini.

Setelah survei, pada 9 Desember 2024, 75 orang relawan Tzu Chi Sinar Mas dan tim medis bergerak menuju Kabupaten Seruyan Hulu. Perjalanan panjang selama satu hari penuh membawa mereka melintasi 18 desa. "Perjalanannya luar biasa, delapan jam penuh liku-liku, naik turun," ujar Shi Jie Tuti Purwasih, relawan dari Xie Li Kalteng 1 yang baru pertama kali mengikuti bakti sosial kesehatan. Tuti terkejut mengetahui ada desa terpencil dengan fasilitas kesehatan yang begitu terbatas. Namun, segala kesulitan dan kelelahan terbayar dengan sambutan hangat warga.

Pada pagi hari pertama, 10 Desember 2024, relawan tiba di Desa Tumbang Manjul. Sejak pagi, warga mulai berdatangan. Dengan penuh semangat, Shi Xiong Kuspan, Shi Xiong Hasanudin, Shi Xiong Rachmad, dan Shi Xiong Wisnu menyambut para pasien. Kehangatan dan rasa kekeluargaan terpancar dari tangan-tangan relawan yang membantu. Sebagian warga menghadapi kendala bahasa, tetapi Shi Jie Devita Nianti, yang berasal dari Kalimantan, membantu menerjemahkan percakapan antara relawan dan warga. Suasana penuh canda dan tawa sering kali menghiasi interaksi mereka.

Seorang warga lansia di dampingi oleh relawan Tzu Chi dari komunitas Xie Li Kalimantan Tengah (Kalteng) 1 yang kesulitan dalam berjalan.

Relawan mendampingi pasien hingga pemeriksaan selesai, sementara tim medis juga memberikan edukasi tentang pola hidup sehat. “Ini pengalaman pertama saya mengikuti baksos seperti ini, terutama di daerah Seruyan Hulu dengan perjalanan yang sangat jauh. Banyak jalan berbukit dan rusak. Saya berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan, khususnya di daerah yang jauh dari rumah sakit dan fasilitas kesehatan,” ucap dr. Regina.

Saat penyerahan obat, tiga tenaga medis lokal bekerja sama dengan relawan membantu menjelaskan aturan minum obat kepada pasien dengan cara yang mudah dipahami sesuai petunjuk dokter. Layanan kesehatan ini disambut antusias oleh warga. Ibu Fatmawati, salah satu pasien dari Desa Tumbang Manjul, menyatakan rasa syukurnya. "Saya baru turun dari ladang untuk ke sini. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih atas obat yang diberikan. Semoga panjang umur dan diberikan rezeki melimpah," ucap Fatmawati penuh haru.

Kondisi jalan berlumpur dan situasi perjalanan para relawan Tzu Chi Cabang Sinar Mas dari komunitas Xie Li Kalimantan Tengah (Kalteng) 1 yang melewati hutan menuju Desa Tumbang Manjul, Desa Marandang, Desa Tumbang Suei yang menjadi salah satu desa di pedalaman Kalimantan Tengah.

Pada hari kedua, 11 Desember 2024, relawan melanjutkan perjalanan ke Desa Marandang dan Desa Tumbang Suei. Jalur yang menanjak dan pepohonan lebat tidak menghalangi semangat para relawan untuk menebarkan cinta kasih melalui baksos kesehatan.

Shi Xiong Indra Manurung dan Shi Xiong Chris Siahaan dengan sigap mengantar pasien yang ingin berobat. Bagi relawan seperti Shi Jie Riska, pengalaman ini memberikan kenangan tak terlupakan. "Rasanya senang dan bahagia bisa berbagi meskipun jalan menuju desa ini penuh lubang dan rusak," ujar Riska.

dr. Pradea, dr. Mahendra dan dr. Henry sedang memeriksa kondisi kesehatan para lansia di Desa Tumbang Suei yang masih butuh perhatian layanan kesehatan karena Desa ini berada di pedalaman Kalimantan Tengah yang akses jalannya yang sulit.

Pada hari ketiga, 12 Desember 2024, bakti sosial kesehatan berlanjut di Desa Tumbang Suei. Anak-anak menyambut kedatangan relawan dengan gembira. Persiapan dilakukan bersama warga yang antusias membantu, menyusun obat-obatan, dan menata meja serta kursi untuk kenyamanan pasien. Dalam tiga hari pelaksanaan baksos kesehatan di tiga Desa, tim medis Tzu Chi berhasil menangani 549 pasien.

"Saya bersyukur warga datang ke lokasi baksos ini. Saya prihatin melihat kondisi desa. Di sini hanya ada satu bidan, dan kontraknya berakhir pada 13 Oktober 2024. Jika ingin berobat, warga harus pergi ke Tumbang Manjul yang jaraknya sangat jauh," ungkap Shi Jie Devita.

Kegiatan ini melayani bukan hanya orang dewasa dan lansia, tetapi juga anak-anak. Interaksi yang hangat terjalin antara relawan dan pasien sepanjang kegiatan. Semoga kedatangan para relawan membawa kesembuhan bagi tubuh dan jiwa mereka.

Para relawan Tzu Chi Cabang Sinar Mas di tengah perjalanan seusai  memberikan layanan kesehatan di pedalaman Kalimantan Tengah berkesempatan untuk foto bersama usai mengadakan baksos kesehatan selama tiga hari di tiga desa yang mengalami kekurangan fasilitas kesehatan.

Seperti kata Master Cheng Yen, "Penyakit dalam diri manusia, 30 persen adalah rasa sakit fisik, 70 persen sisanya adalah penderitaan batin." Senyum tulus dan perhatian yang diberikan relawan menjadi obat yang berharga bagi para pasien.

Editor: Anand Yahya

Artikel Terkait

Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-111: Perjuangan yang Tak Sia-sia

Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-111: Perjuangan yang Tak Sia-sia

23 Maret 2016

Para pendamping pasien pun sepenuh hati mendampingi kerabat mereka. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang terus mengupayakan agar pasien berhasil menjalani operasi. Salah satunya Frisca Novita (48). Sejak awal pemeriksaan screening hingga baksos, ia terus meluangkan waktu untuk kerabatnya, Kiat Amie (77) yang menderita katarak pada kedua matanya selama 10 tahun.

Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-135: Kebahagiaan yang Mendalam

Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-135: Kebahagiaan yang Mendalam

09 Desember 2022
Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-135 yang digelar di kota Palembang memang sudah berakhir lebih dari sepekan lalu. Namun kebahagiaan mendalam masih dirasakan para pasiennya. Sebut saja Suryanto (38) yang menderita katarak.
Perjuangan Roila dan Laily yang Terlahir Tak Sempurna

Perjuangan Roila dan Laily yang Terlahir Tak Sempurna

15 Maret 2023

Terlahir tanpa langit-langit rongga mulut (palatoschisis atau cleft palate), kedua orang tua Roilah dan Laily sempat putus asa. Khoirul gundah melihat kedua buah hatinya kesulitan dalam pergaulan. Pada 12 Maret 2023, kedua putri Khoirul berhasil di operasi oleh Tim Medis Tzu Chi

Benih yang kita tebar sendiri, hasilnya pasti akan kita tuai sendiri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -