Berbagi Ilmu dan Pengetahuan
Jurnalis : Hadi Pranoto, Fotografer : Hadi Pranoto
|
| ||
Sophia pun menceritakan pengalamannya, “Sewaktu saya pertama kali ke Indonesia dan mencoba makan gado-gado, waktu itu rasanya terlalu manis sekali. Tapi, setelah 3 kali datang ke Indonesia dan makan gado-gado lagi, ternyata sekarang rasanya lebih enak. Jadi, saya berharap kalian bisa menikmati masakan Taiwan di kemudian hari.” Sophia yang merupakan pengajar di Fakultas Teknologi Pangan Universitas Chiayi ini juga menerangkan bahwa masakan yang mereka buat memang rasanya tidak terlalu “medok” seperti mayoritas masakan Indonesia. “Karena memang untuk kesehatan kita semua, kita kurangi konsumsi garam dan minyak goreng,” tandasnya. Mengenal Satu Sama Lain Ket : - Dengan bahan-bahan alami, sehat, dan mudah didapat, para siswa SMK Cinta Kasih ini mempraktikkan cara pembuatan masakan dengan dibimbing para kakak dari Universitas Chiayi. (kiri) “Rasanya asin, asem, dan pedas juga,” kata Dian Nurdianti, siswi kelas 1 SMK Cinta Kasih seusai mencicipi hasil masakan kelompoknya. Dian sengaja mengikuti kelas memasak ini karena ingin menambah pengetahuan dan pengalamannya. “Ini nggak diwajibkan, cuma saya ingin sendiri, lumayan bisa nambah wawasan,” ungkapnya. Dian mengaku senang mengikuti kelas memasak ini, yang belum ada ekskulnya di sekolah. “Senang karena bisa masak bareng teman-teman, terus bahan-bahannya yang mungkin di Indonesia jarang dipakai, ternyata di sini bisa dipake, jadi ini menambah pengetahuan saya juga,” ujarnya. Dian yang memiliki adik yang masih kecil di rumah ini merasa bahwa masakan ini sangat cocok untuk adiknya. Ia pun berniat untuk mencobanya di rumah. “Saya ingin adik saya sehat, masakan ini kan bahan-bahannya semua kan kaya protein dan nutrisi,” tegas Dian yang mengaku mendapat pengalaman berharga karena bisa berinteraksi dan memperoleh pengetahuan baru dari para mahasiswa dari luar negeri. “Kakak-kakaknya pada ramah dan asyik semua,” ujarnya. Selvi, guru bahasa Mandarin yang menjadi penjembatan antara pengajar, mahasiswa dari Universitas Chiayi, dan siswa Sekolah Cinta Kasih juga bisa dapat merasakan begitu antusiasnya para murid mengikuti kegiatan ini. “Sebelum jam 8 sudah kumpul, sangat antusias sekali menunggu. Mereka bahkan bertanya-tanya, ‘Mana ya orang-orangnya, kok belum pada datang sih’?” kata Selvi menirukan ucapan murid-muridnya. Menurutnya, kegiatan seperti ini sangat baik dan memberi manfaat bagi siswa, “Mereka menjadi lebih mengerti ternyata masakan-masakan vegetarian banyak macamnya dan bahan-bahannya juga mudah diperoleh.”
Ket: - Ada 3 materi yang dibawakan oleh para mahasiswa Universitas Chiayi, yaitu: kelas memasak, menyanyi, dan menggambar. Bagi para mahasiswa Universitas Chiayi, kunjungan ke Indonesia ini adalah untuk yang ketiga kalinya.(kiri). Pertukaran Budaya Mahasiswi semester 1 ini juga menjelaskan jika di jurusannya mereka memang difokuskan dalam mengembangkan teknologi pangan, pengolahan produk makanan, komposisi sekaligus fungsinya bagi tubuh. Menurutnya, makanan dari Taiwan memang bercita rasa berbeda dengan masakan Indonesia. Selain lebih tawar, masakan Taiwan memang lebih mementingkan nilai gizi dan kesehatannya bagi tubuh. “Awalnya waktu pertama kuliah di sana saya juga agak kesulitan dengan makanan di sana, tapi lama kelamaan juga menjadi terbiasa,” ujarnya. Hal yang sama diungkapkan Bao Bing, relawan Tzu Chi yang aktif di bidang pendidikan, “Senang sekali, lihat anak-anak antusias. Anak-anak bisa merasakan bahwa kalau ada keahlian atau kemampuan mereka juga bisa bersumbangsih untuk membantu orang lain.” Meski sedikit terkendala masalah bahasa, namun Bao Bing justru melihat sisi positif lainnya. “Mereka justru bisa saling mengenal satu sama lain, dan ini menambah wawasan bagi anak-anak kita,” ujarnya. Ia pun berharap jika para murid ini nantinya bisa berpartisipasi dalam berbagai kegiatan Tzu Chi. “Kalau ada acara dan waktu kan siapa tahu mereka bisa bantu masak para relawan,” katanya. | |||
Artikel Terkait
Pasukan Biru Putih Hadir di RS Dustira
02 Juli 2009 Lima tahun lalu, ketika buah hatinya lahir, Nana sempat menanyakan kepada bidan desa yang membantu persalinan, kenapa alat kelamin putranya terlihat membengkak? Namun, bidan desa pun malah ikut keheranan dengan kondisi sang bayi. Ketika diperiksakan ke dokter umum, akhirnya Nana mengetahui bahwa putranya itu menderita hernia, dan menganjurkan agar Rio –nama sang bayi– menjalani pembedahan ketika usianya sudah cukup.
Cinta Kasih Sebagai Suatu Perlindungan
16 April 2013 Pelatihan selanjutnya adalah penjelasan konsep 4 in 1 yang dibawa oleh Budi Shixiong dan Wangi Shijie (Batam). Budi Shixiong berkata sebelum kita mulai pembicaran konsep 4 in 1,”Marilah kita dengan tulus hati kembali mendengarkan Ceramah Master.”
Festival Kue Bulan: Mewariskan Budaya dan Kebajikan
10 Oktober 2025Pekan Amal Kue Bulan Cinta Kasih Tzu Chi kembali diadakan Tzu Chi Batam pada 28 September - 5 Oktober 2025. Kegiatan ini sebagai simbol rasa syukur, kebersamaan, dan keharmonisan dalam keluarga.








Sitemap