Berderma dalam Keterbatasan (Bag.1)
Jurnalis : Hadi Pranoto, Fotografer : Christine Dessy liana, Dimin, Riadi Pracipta, Teddy Lim (He Qi Barat)|
|
| ||
| Tantangan yang sama juga dihadapi oleh Handaya dan Komariyah istrinya dalam bersumbangsih dan melakukan kebajikan. Keduanya adalah penyandang tunarungu. Dengan keterbatasan fisik — dalam hal berkomunikasi — keduanya tetap berupaya mengikuti kegiatan Tzu Chi dan bersumbangsih untuk membantu sesama. “Ada kesulitan untuk berkomunikasi,” kata Komariyah dengan terbata-bata, “Tapi di Tzu Chi masih lebih baik. Relawan-relawannya mau dengan sabar mendengarkan kami. Kalau di lingkungan luar, susah, mereka (orang-orang) nggak mau ngerti kondisi kami.”
Keterangan :
Handaya (43) dan Komariyah (43) mengenal Tzu Chi setelah keduanya tertarik dengan berita-berita tentang aktivitas kemanusiaan Tzu Chi dalam membantu para korban letusan Merapi tahun 2010 lalu di DAAI TV. “Kami suka nonton DAAI TV, terharu, bagus-bagus (acaranya),” puji Komariyah. Setelah menyaksikan penderitaan para korban letusan Merapi dan banjir lahar dingin yang menyusul kemudian, Handaya atau yang akrab dipanggil A Fuk ini pun kemudian tergerak untuk membantu. Bersama sang istri ia mencari Kantor Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia di Gedung ITC Mangga Dua Lt. 6 Jakarta. Dari semula hanya berniat menjadi donatur, pasangan suami-istri yang menikah di tahun 2005 ini pun kemudian tak menampik ketika diajak untuk menjadi relawan oleh salah seorang staf di Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. “Waktu itu bulan Februari 2011, saat ditanya sama Merry mau jadi relawan nggak? A Fuk langsung menjawab mau,” kata Komariyah mengingat. Sementara A Fuk mengemukakan alasannya menjadi relawan Tzu Chi adalah keinginannya untuk bersumbangsih di masyarakat. “Saya mau membantu orang-orang yang membutuhkan,” ucapnya dengan kalimat yang terbata-bata. Tak semua kata-katanya dapat terdengar jelas, namun sesekali sang istri membantu menegaskan maksud suaminya tersebut.
Keterangan :
Sejak itulah keduanya mulai aktif mengikuti kegiatan Tzu Chi. Mulai dari kegiatan daur ulang, pembagian beras, kerja bakti di Rumah Sakit Khusus Bedah (RSKB) Cinta Kasih Tzu Chi, dan juga bedah buku. “Pertama kali ikut kegiatan kunjungan ke panti asuhan anak jalanan,” terang Komariyah, “Meski sulit (komunikasi) dan lelah, tetapi kalau ikhlas nggak masalah.” Keduanya mengaku tidak khawatir ataupun merasa sungkan mengikuti kegiatan Tzu Chi meski keduanya beragama Islam. “Nggak ada masalah. Nggak papa, nggak masalah agama. Saya yakin kegiatan ini positif. Saya percaya saya bisa membantu banyak orang dan saudara-saudara kita yang tidak mampu dan kekurangan,” jawab Komariyah saat ditanya apakah memiliki kendala saat berkegiatan di Tzu Chi. “Saya berterima kasih kepada insan Tzu Chi. Mereka membantu kepada semua orang dari golongan agama apapun: Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha. Ajaran Islam juga juga bertujuan menciptakan kehidupan yang aman dan tenteram,” tegas Komariyah. “Ajaran Master Cheng Yen bagus,” kata A Fuk menambahkan ketika ditanyakan perasaannya saat mengikuti kegiatan sosial Tzu Chi dan bedah buku.
Bersambungan Bagian ke 2 | |||
Artikel Terkait
Bantuan Bencana Banjir Di Sumatera: Tak Kenal Lelah, Relawan Salurkan Bantuan Hingga Wilayah Pelosok Banjir
03 Desember 2025Relawan Tzu Chi Medan terus menyalurkan paket bantuan dan makanan hangat kepada warga terdampak hingga waktu yang belum ditentukan.
Gereja Milik Bersama di Desa Dofyo Wafor Biak
20 November 2019Tzu Chi Biak membantu pembangunan Gereja GBGP Jemaat Efata Dofyo Wafor, Biak Utara. Gereja itu sudah 14 tahun berdiri. Kondisinya masih layak, namun tidak mampu lagi menampung jemaat yang semakin banyak. Di lain pihak, posisi gereja yang berada di bukit agak menyulitkan bagi para jemaat lansia untuk naik karena jalanan yang menanjak dan licin.










Sitemap