Bersatu Hati Mengantarkan Nasi Hangat

Jurnalis : Dwi Hariyanto, Yuliati (Tzu Chi Cabang Sinar Mas) , Fotografer : Dok. Xie Li Pati
Relawan menaiki perahu untuk mengantarkan nasi bungkus ke Desa Ngastorejo dan Desa Sonorejo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, akibat akses jalan yang masih tergenang banjir.

Hendaknya setiap orang bisa menyadari berkah yang dimilikinya, serta bisa menghargai dan menciptakan kembali berkah tersebut.
(Kata Perenungan Master Cheng Yen)

Fajar belum merekah, namun kehangatan telah menyala di dapur Sunarsih, umat Vihara Asoka Maura, Kecamatan Cluwak. Sunarsih bersama umat yang lain bergotong royong menanak nasi hangat yang akan disalurkan kepada warga terdampak banjir di Kabupaten Pati. Hal yang sama juga dilakukan ibu-ibu dari wihara lainnya. Mereka kompak bergotong royong menyiapkan nasi hangat.

"Jam 2 tangi dadek geni, oseng tempe tahu, mbalado ndok. Ben ndang mateng terus ndang dibungkusi (Pukul 2 dini hari bangun untuk menyalakan api di dapur, menumis tahu dan tempe, serta memasak telur balado. Agar segera matang, lalu langsung dibungkus-red)," ujar Narsih, sapaan karibnya.

Segala bahan telah disiapkan sejak Jumat siang. Ibu-ibu datang ke rumahnya untuk membantu. Ada yang mengupas bawang, rebus telur dan kupas kulit, goreng tempe tahu, dan lainnya. Rumah Sunarsih dijadikan tempat masak lauk pauk, sementara nasi dimasak di rumah umat yang lain tidak jauh dari rumahnya.

Sunarsih (berdiri) menyiapkan dapur rumahnya sebagai tempat memasak bersama umat Vihara Asoka Maura, Desa Plaosan, Kecamatan Cluwak, untuk menyiapkan nasi hangat bagi warga terdampak banjir.

"Segane nek omahe yu Karti, seng kulino adang wong duwe gawe (Nasinya dimasak di rumah Mbak Karti, rumahnya sebelah barat orang yang punya hajatan -red)," kelakarnya.

Narsih sendiri sering diberi tanggung jawab masak sayur jika tetangga mengadakan hajatan. Ia pun terbiasa memperkirakan kebutuhan masak dalam skala besar. "Hari ini masak 200 bungkus, kemarin masak 100 bungkus untuk bantu korban banjir juga yang disalurkan oleh pemerintah Desa Plaosan. Masak bersama ibu-ibu PKK di rumah Bu RT," ucapnya.

Meski kayu bakarnya banyak terpakai untuk memasak sehari sebelumnya, ibu satu anak ini merasa senang hasil masakannya bisa dirasakan warga yang jauh dari tempat tinggalnya. "Senang aku nduk iso bantu korban banjir. Gapopo kayu sok nak panas iso mek meneh, isaku mung bantu tenogo, wong nak bantu duwit yo ra iso. Mesakno akeh sing kebanjiran (Saya senang bisa membantu korban banjir. Tidak apa-apa kayu sering terkena panas, masih bisa dicari lagi. Saya hanya bisa membantu tenaga, karena untuk membantu dengan uang saya belum mampu. Kasihan, banyak yang terdampak banjir -red)," ungkapnya bahagia.

Wanita yang sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan ini berharap tenaga yang dicurahkan untuk mempersiapkan nasi hangat tidak sia-sia, sehingga bisa membantu sesama yang kini sedang mengalami musibah banjir.

Suasana gotong royong memasak nasi hangat di rumah Tri Endah, umat Vihara Dhamma Santi, Desa Karangsari, Kecamatan Cluwak, yang dilakukan sejak dini hari.

Hal senada disampaikan Tri Endah yang merupakan umat Vihara Dhamma Santi Karangsari. "Kesempatan yang baik bisa bantu sesama para korban banjir. Semalam saya bangun jam 1 menanak nasi sampai 30 kilo, kalau kemarinnya siapkan lauk pauknya. Tadi pagi ramai-ramai dibungkus bareng ibu-ibu yang lain," ujar Tri. Rumah Tri dijadikan lokasi untuk memasak nasi hangatnya.

Selain di rumah Sunarsih dan Tri Endah, kegiatan memasak juga dilakukan di beberapa tempat di Kecamatan Cluwak. Terkumpul 1.105 bungkus nasi hangat yang dibagikan di Pati wilayah selatan.

Pembagian Nasi Hangat
Dwi Hariyanto, Ketua Xie Li Pati memimpin langsung pembagian nasi hangat yang sudah disiapkan banyak orang. Bersama 15 relawan lainnya, kali ini tujuannya Kecamatan Jakenan. Perjalanan ditempuh selama dua jam.

Banyak jalan yang masih tergenang dan sulit dilewati sehingga harus memutar arah. Desa Ngastorejo dan Desa Sonorejo menjadi tujuan relawan. Dua desa ini cukup terdampak banjir, terlebih letaknya tak jauh dari Sungai Silugonggo yang meluap karena hujan deras.

Begitu tiba di gapura masuk desa, kendaraan sudah tidak bisa melaju. Relawan berganti naik perahu kecil untuk membagikan bantuan. Banyak sawah terendam air setinggi satu meter. Sementara rumah warga juga terendam dengan ketinggian air bervairasi.

Seporsi nasi hangat menjadi penguat dan penghibur di tengah keterbatasan yang dialami warga saat musibah banjir melanda.

Sumartono, Ketua RT 03 RW01 mengantarkan langsung relawan membagikan nasi hangat dari rumah ke rumah warga menggunakan perahu dayungnya. "Ini banjir parah setelah tahun 2014 dulu nggeh Pak Bu, ini sudah panas, mulai surut, kemarin parah masuk rumahnya," ujarnya. Ketua RT yang juga penjaga sekolah SD di Desa Ngastorejo ini juga mengatakan jika warganya ada yang mengungsi, namun juga masih banyak yang bertahan di rumah masing-masing.

"Di sini langganan banjir Bu, surutnya lama bisa sebulan jadi warga persiapan perahu," ucap No, sapaan karib Sumartono. Ia juga berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada relawan atas bantuan yang diberikan. "Matur nuwun nggeh Pak Bu, matur nuwun sanget (terima kasih sekali pak bu, sangat berterima kasih-red)," ucapnya tulus.

Dwi Hariyanto (berkacamata) tampak menyalurkan nasi hangat kepada seorang warga di wilayah terdampak banjir.

Warga Desa Ngastorejo rata-rata bermata pencaharian sebagai petani, namun dua musim ini mengalami gagal panen. "Kemarin waktu tahap tanam pertama ada hama tikus gagal panen. Ini tahap kedua tanam padi malah ada musibah banjir. Gagal panen lagi, dua musim tidak bisa panen," ucap Poniman, Kepala Desa Ngastorejo.

Poniman bersyukur warganya mendapat bantuan nasi hangat dari relawan. Baginya ini dukungan yang sangat berarti di tengah musibah banjir yang dialami warganya. "Kami pemerintah Desa Ngastorejo mengucapkan terima kasih bantuan nasi bungkus, bisa meringankan beban penderitaan warga kami yang tertimpa banjir, semoga amal yang dilakukan relawan Buddha Tzu Chi diterima Tuhan Yang Maha Esa," ungkap Poniman. "Dulu di desa kami juga pernah dibantu Buddha Tzu Chi, ini dibantu lagi jadi terima kasih sekali," pungkasnya.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel Terkait

Membasuh luka, Merajut Harapan, Misi kemanusiaan Tzu Chi Medan di Paya Rahat

Membasuh luka, Merajut Harapan, Misi kemanusiaan Tzu Chi Medan di Paya Rahat

19 Desember 2025

Tzu Chi Medan dan tim medis TIMA Medan mengadakan bakti sosial peduli kesehatan warga pascabanjir di Aceh Tamiang, tepatnya di Dusun Paya Gajah, Desa Paya Rahat.

Banjir Sumatera: Menembus Jalan Terputus, Menyapa Harapan di Bener Meriah dan Aceh Tengah

Banjir Sumatera: Menembus Jalan Terputus, Menyapa Harapan di Bener Meriah dan Aceh Tengah

06 Januari 2026

Relawan Tzu Chi Komunitas Bireuen hadir menyalurkan bantuan sembako sekaligus menyapa langsung warga di wilayah Bener Meriah dan Aceh Tengah.

Banjir Sumatera: Melintasi Jalan Perbukitan, Tzu Chi Salurkan Bantuan untuk Warga Desa Pameu

Banjir Sumatera: Melintasi Jalan Perbukitan, Tzu Chi Salurkan Bantuan untuk Warga Desa Pameu

26 Januari 2026

Dengan melintasi jalan perbukitan, relawan Tzu Chi yang berada di Takengon menyalurkan bantuan untuk warga terdampak di Desa Pameu, Takengon, Aceh Tengah.

Orang yang berjiwa besar akan merasakan luasnya dunia dan ia dapat diterima oleh siapa saja!
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -