Banjir Sumatera: Menembus Jalan Terputus, Menyapa Harapan di Bener Meriah dan Aceh Tengah

Jurnalis : Teo Siau Peing, Ronaldo (Tzu Chi Aceh), Fotografer : Zhen Shan Mei Bireuen

Relawan Tzu Chi di dampingi aparat Desa meninjau langsung lokasi terdampak banjir bandang dan tanah longsor di wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah, Aceh, untuk memastikan kondisi warga serta kebutuhan mendesak di daerah yang akses jalannya masih sulit dan minim bantuan.

Lebih dari satu bulan telah berlalu sejak banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Sumatera dan Aceh pada 26 November 2025. Namun, duka dan kesedihan masih terasa mendalam di hati para warga terdampak. Luka akibat bencana belum sepenuhnya pulih, baik secara fisik maupun batin.

Bencana tersebut tidak hanya menghancurkan rumah-rumah warga, tetapi juga melumpuhkan akses jalan yang selama ini menjadi urat nadi aktivitas ekonomi antarwilayah. Banyak ruas jalan tertimbun longsor, bahkan terputus total. Belasan jembatan penghubung rusak berat. Dampak paling nyata terlihat di sepanjang jalur menuju Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah, Provinsi Aceh.

Di tengah keprihatinan itulah, terjalin sebuah “jodoh kemanusiaan” antara Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah dengan Yayasan Buddha Tzu Chi. Jalinan ini digenggam erat oleh para relawan Tzu Chi sebagai wujud tekad untuk menghadirkan cinta kasih di wilayah yang dikenal sebagai “Tanah Gayo”.

Relawan Tzu Chi menyerahkan bantuan sembako kepada warga terdampak banjir bandang di posko dapur umum yang menampung 279 kepala keluarga dengan penuh rasa hormat dan empati, sebagai bentuk kepedulian terhadap pengungsi yang masih mengalami keterbatasan akses logistik.

Pada 29 Desember 2025, relawan Tzu Chi dari komunitas Bireuen berangkat menuju Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah. Mereka membawa bantuan sembako berupa 80 karung beras masing-masing 5 kilogram, 26 papan telur ayam, serta 48 liter minyak goreng. Bantuan tersebut disiapkan untuk dibagikan kepada warga yang terdampak di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah.

Perjalanan menuju Kab. Bener Meriah bukanlah hal yang mudah. Kondisi jalan masih berlumpur dan sulit dilalui. Didampingi seorang aparat desa, para relawan tiba di Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah. Sepanjang perjalanan, terlihat rumah-rumah warga rusak parah, sebagian hancur tertimpa bebatuan besar yang terbawa arus banjir bandang.

Sri Mulyani (38), salah satu warga terdampak, mengenang peristiwa itu dengan mata berkaca-kaca. “Kami berlindung ke bangunan pabrik sambil menggendong anak. Tidak sempat menyelamatkan harta benda atau dokumen penting apa pun, hanya baju yang melekat di badan,” tuturnya sambil menangis. Di Bener Meriah, relawan menyalurkan sebagian bantuan sembako sesuai jumlah kepala keluarga yang terdata di posko pengungsian.

Relawan Tzu Chi foto bersama dengan warga Kelurahan Pante Raya, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, relawan menyaluran bantuan bagi warga terdampak bencana yang masih dalam kondisi pemulihan dan keterbatasan akses bantuan.

Dari Bener Meriah, relawan melanjutkan perjalanan menuju Takengon melalui jalur alternatif yang lebih jauh. Mereka berkunjung ke salah satu warga penerima bantuan dan bertemu dengan aparat Desa Dedamar, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah.

Siera Fikran Andika (29), aparat Desa Dedamar yang mengoordinasikan dapur umum dan kebutuhan warga bagi 279 kepala keluarga, menjelaskan bahwa mayoritas warga berprofesi sebagai petani. “Sekitar 60 KK terdampak parah. Mereka rata-rata petani, dan kini sawah mereka tertutup lumpur dan bebatuan,” ungkapnya.

Di Desa Dedamar, relawan menyalurkan bantuan sembako sesuai jumlah kepala keluarga terdampak di posko dapur umum. Penyaluran kemudian dilanjutkan ke tiga desa lainnya, yakni Desa Atu Payung, Desa Jamur Konyel, dan Desa Serule. Ketiga desa ini sempat terisolasi karena jarak yang jauh serta kondisi akses jalan yang rusak dan berlumpur.

Relawan Tzu Chi foto bersama dengan warga Kabupaten Aceh Tengah yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor, di wilayah yang sempat terisolasi akibat rusaknya akses jalan dan minimnya bantuan kemanusiaan.

“Di wilayah ini masih terkendala jaringan komunikasi dan internet. Warga harus terus memasok bensin atau solar untuk mengoperasikan genset dan perangkat Starlink,” ujar Teo Siau Peing, relawan yang turun langsung menyalurkan bantuan.

Banjir bandang dan tanah longsor memang memutus jalan, tetapi tidak pernah memutus kepedulian. Membangun kembali bukan semata soal memperbaiki jembatan dan jalan, melainkan juga menautkan kembali harapan yang sempat runtuh. Seperti yang diajarkan Master Cheng Yen, “Di mana ada penderitaan, di situlah kita harus melangkah.” Dengan cinta kasih universal, langkah pemulihan pun dapat dimulai perlahan, namun pasti menuju hari esok yang lebih baik.

Editor: Anand Yahya

Artikel Terkait

Bantuan Bencana Banjir di Sumatera: Stockwise, EGC, dan SC Jakarta Percayakan Bantuan ke Tzu Chi

Bantuan Bencana Banjir di Sumatera: Stockwise, EGC, dan SC Jakarta Percayakan Bantuan ke Tzu Chi

08 Desember 2025

Melihat dampak bencana di Sumatera, Stockwise Indonesia dan Enjoy Golf Club memilih Yayasan Buddha Tzu Chi sebagai lembaga penyalur bantuan.

Bantuan Bencana Banjir di Sumatera: Baksos Carnation Salurkan Donasi Melalui Tzu Chi

Bantuan Bencana Banjir di Sumatera: Baksos Carnation Salurkan Donasi Melalui Tzu Chi

01 Desember 2025

Dengan rasa peduli, Baksos Carnation menyerahkan donasi melalui Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia untuk disalurkan kepada warga terdampak bencana di Sumatera. 

Banjir Sumatera: Menembus Medan Sulit untuk Salurkan Bantuan ke Beutong Ateuh

Banjir Sumatera: Menembus Medan Sulit untuk Salurkan Bantuan ke Beutong Ateuh

24 Desember 2025

Kecamatan Beutong Ateuh berada di wilayah pegunungan dan sulit dijangkau. Relawan Tzu Chi Aceh menempuh perjalanan panjang untuk menyalurkan bantuan bagi warga terdampak.

Bila kita selalu berbaik hati, maka setiap hari adalah hari yang baik.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -